Foto: Katarina Octaviani Putri (29) alias Oca menunjukkan salah satu produk karyanya. (Dokumentasi Mazka Hauzan Naufal) SOLO — Suara ketukan kayu dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) terdengar bergema dari permukiman penenun tradisional di Klaten. Dari gerak jemari dan dentang instrumen kayu gedog sederhana itulah, lembar demi lembar kain tenun lurik dilahirkan. Di mata kebanyakan orang, kain lurik lendang, yakni kain tenun berukuran relatif sempit, lebar 50 sentimeter dan panjang 2 meter, hanya identik dengan utilitas perdesaan: helai pengikat yang digunakan para ibu di pasar untuk menggendong barang atau tumpukan kayu bakar di balik punggung. Namun, berkat kreativitas Katarina Octaviani Putri (29) alias Oca, narasi kain gendongan itu berubah sepenuhnya. Lewat sentuhan estetika modern, helai-helai kain etnik yang kerap dipandang sebelah mata itu bertransformasi menjadi produk kriya dan busana bernilai tinggi. Menerobos Batas Tren Langkah Oca berani dan tak biasa. Berbekal latar bel...