Foto: Katarina Octaviani Putri (29) alias Oca menunjukkan salah satu produk karyanya. (Dokumentasi Mazka Hauzan Naufal) SOLO — Suara ketukan kayu dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) terdengar bergema dari pemukiman penenun tradisional di Klaten. Dari gerak jemari dan dentang instrumen kayu gedog sederhana itulah, lembar demi lembar kain tenun lurik dilahirkan. Di mata kebanyakan orang, kain lurik lendang, yakni kain tenun berukuran relatif sempit, lebar 50 sentimeter dan panjang 2 meter, hanya identik dengan fungsi utilitas perdesaan: helai pengikat yang digunakan para ibu di pasar untuk menggendong barang atau tumpukan kayu bakar di balik punggung. Namun, berkat kreativitas Katarina Octaviani Putri (29) alias Oca, narasi kain gendongan itu berubah sepenuhnya. Lewat sentuhan estetika modern, helai-helai kain etnik yang kerap dipandang sebelah mata itu bertransformasi menjadi produk kriya dan busana bernilai tinggi. Menerobos Batas Tren Langkah Oca berani dan tak biasa. Berbekal lat...
Foto: Tri Rahayu Amperawati (Yayuk) menunjukkan produk abon dan dendeng produksinya. (Dokumentasi Mazka Hauzan Naufal) SOLO - Di sebuah sudut Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, harum gurih daging olahan berkelindan dengan jejak panjang perjuangan. Di rumah yang sekaligus menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya, Tri Rahayu Amperawati memutar kembali memori masa lalu, sebuah fragmen kehidupan yang ditempa oleh badai dan keteguhan hati. Sebelum dikenal sebagai sosok di balik ketenaran Abon Ksatria, perempuan yang akrab disapa Yayuk ini melakoni peran yang jauh dari renyah gurihnya bisnis kuliner. Selama sembilan tahun, sejak 1989, ia adalah seorang penjual koran yang menggantungkan asa pada lembar-lembar berita harian dari sebuah kios kontrakan. Kala itu, sang suami berjuang merintis usaha mebel kayu mahoni untuk pasar ekspor. Namun, badai datang tanpa permisi. Krisis Moneter (Krismon) 1998 menghantam keras perekonomian bangsa, meruntuhkan usaha mebel mereka hingga gulung...