Foto: Sutarmin di Pabrik PT SSS (dokumentasi Mazka Hauzan Naufal) KARANGANYAR — Di sudut Desa Selokaton, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, deru mesin CNC membelah sunyi. Cahaya lampu bengkel fabrikasi itu menyala tanpa jeda, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Di balik kesibukan pabrik tersebut, berdiri Sutarmin (54), pria bersahaja yang membuktikan bahwa keterbatasan pendidikan bukanlah tembok penghalang untuk menggenggam presisi industri modern. “Saya sebelumnya sama sekali tidak tahu 5R itu apa. Wong saya ini ndak sekolah. Pendidikan terakhir cuma SMP. Menjalankan bisnis, ya, asal jalan saja,” tutur Sutarmin, pemilik PT Sinergi Solo Sejahtera (PT SSS), dengan nada rendah hati, saat dihubungi penulis belum lama ini. Namun, siapa sangka dari jemari dingin seorang lulusan sekolah menengah pertama ini, lahir cetakan-cetakan presisi tinggi (moulding) berbahan logam yang menjadi hulu pembuatan berbagai kebutuhan hidup masyarakat—mulai dari komponen kemasan kosmetik, s...
Akal Imitasi versus Akal-Akalan Iblis Cerpen Mazka Hauzan (Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Kategori Umum pada Festival Sastra Rembang 2026) Malam kian pekat. Sejak fajar hujan turun tanpa rehat. Aku dan nenek diserang rasa takut berlarat-larat. Bukan cuma karena gelegar guntur dan sambaran kilat, melainkan karena kami seolah melihat kiamat: air bah begitu dahsyat, menenggelamkan rumah dan memaksa kami menyelamatkan diri ke atap cepat-cepat. Tubuh kami gemetar di atas atap yang gentingnya bergetar dihantam angin malam. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya gelap yang legam. Lampu-lampu padam. Hanya kilat yang menyala sesekali, menyingkap tabir kelam yang menyembunyikan wajah-wajah suram: wajah penduduk kampung yang jiwanya terancam. Jerit tangis, lolongan anjing, dan gemuruh banjir bandang yang menerjang berpadu dalam simfoni bencana. “Mbah,” ucapku lemah dengan gigi bergemeletuk menahan dingin. “Apakah kita akan mati?” Nenek tidak menjawab. Mulutnya terus merapal nama Tuhan dan Ka...