Akal Imitasi versus Akal-Akalan Iblis
Cerpen Mazka Hauzan
(Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Kategori Umum pada Festival Sastra Rembang 2026)
Malam kian pekat. Sejak fajar hujan turun tanpa rehat. Aku dan nenek diserang rasa takut berlarat-larat. Bukan cuma karena gelegar guntur dan sambaran kilat, melainkan karena kami seolah melihat kiamat: air bah begitu dahsyat, menenggelamkan rumah dan memaksa kami menyelamatkan diri ke atap cepat-cepat.
Tubuh kami gemetar di atas atap yang gentingnya bergetar dihantam angin malam. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya gelap yang legam. Lampu-lampu padam. Hanya kilat yang menyala sesekali, menyingkap tabir kelam yang menyembunyikan wajah-wajah suram: wajah penduduk kampung yang jiwanya terancam.
Jerit tangis, lolongan anjing, dan gemuruh banjir bandang yang menerjang berpadu dalam simfoni bencana.
“Mbah,” ucapku lemah dengan gigi bergemeletuk menahan dingin. “Apakah kita akan mati?”
Nenek tidak menjawab. Mulutnya terus merapal nama Tuhan dan Kanjeng Nabi. Matanya memancarkan kekalutan, memandang hampa ke kejauhan: Pegunungan Kapur Utara yang dulu hijau, kini gundul dan sekarat digerogoti gergasi tambang.
Malam itu, di tengah rasa takut akan kematian, aku memaki-maki dalam batin. Mengapa hanya demi uang, orang bisa sedemikian jahatnya terhadap Ibu Bumi. Dan yang makin membuatku geram, dalam hal keserakahan ini, mereka para penambang dan kami penduduk kampung boleh dibilang tak ada bedanya.
***
Tampaknya, zikir dan selawat nenek semalam berhasil menunda kematian kami. Malam yang sumpah mati kukira kiamat itu bukan akhir riwayat kami. Tuhan masih mengizinkan kami melanjutkan hari.
Namun rupanya tidak semua orang bernasib sama. Pagi itu, ketika warga perlahan-lahan mulai mencerna apa yang telah terjadi di tengah gundukan endapan lumpur yang dibawa air bah, pengeras suara masjid mengabarkan berita duka. Mbah Paijan Sastro jadi satu-satunya korban jiwa dalam tragedi semalam. Sakit strok, usia lanjut, dan sebatang kara. Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar, kombinasi tiga kondisi itu cukup membuat orang-orang paham mengapa Mbah Paijan Sastro tak bisa menyelamatkan diri sebelum banjir bandang menenggelamkan jasadnya.
Mendengar kabar itu, menurutku hanya orang yang hatinya telah membatu yang tidak merasakan malu. Bagaimana tidak? Kamilah yang telah membiarkan Mbah Paijan Sastro mati. Lebih ironis lagi, lelaki yang konon usianya hampir seabad itu bukan termasuk warga yang menikmati “tali asih” dari para penambang.
Saat itulah aku baru sadar bahwa perkataan Kang Untoro memang benar. Dampak ekonomi dari aktivitas tambang sama sekali tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya. Pundi-pundi keuntungan yang mereka hasilkan, dan mereka bagikan lewat bantuan sosial sekalipun, tidak akan mampu menutup luka Ibu Bumi yang kadung menganga. Sebanyak apa pun uang yang mereka hasilkan tak akan mampu mengembalikan nyawa manusia yang hilang direnggut bencana alam. Maka di sini dan hari ini aku putuskan: aku akan melawan!
***
Setelah gundukan-gundukan lumpur kami buang ke luar rumah dan hanya tersisa noda tanah tipis yang mengering di lantai, aku berlari ke konter pulsa. Mas Kuswanto, pemilik konter itu, tampak masih sibuk memulihkan kediamannya dari jejak-jejak banjir bandang. Kukatakan padanya bahwa situasiku cukup mendesak. Lalu, segera kutebus selembar voucer kuota internet 2 GB dengan uang Rp20 ribu dari kantong celanaku.
Setelah internet kembali memberi ponselku nyawa, kubuka sebuah situs chatbot akal imitasi (AI) alias kecerdasan buatan. Kuketikkan prompt yang telah kupikirkan betul-betul sejak semalam.
“Aku adalah seorang pria yang baru lulus SMA. Kira-kira langkah apa saja yang dapat aku lakukan untuk menghentikan penambangan di Pegunungan Kapur Utara tanpa dianggap Wahabi Lingkungan?”
“Kekhawatiran tentang dicap sebagai Wahabi Lingkungan (sebuah istilah untuk mendiskreditkan aktivis yang terlalu radikal, fanatik, atau puritan dalam gerakan lingkungan) adalah hal yang wajar. Untuk menghindari cap tersebut dan memastikan gerakan Anda efektif, berikut langkah-langkah yang bisa Anda tempuh.” Begitu AI mengawali jawabannya.
Langkah pertama, aku diminta memulai upaya kecil yang konkret: menyebarkan foto dan video dampak kerusakan akibat penambangan dengan mengunggahnya ke media sosial. Pikiranku langsung benderang. Ini bukan hal sulit. Semalam, secara refleks aku merekam adegan di atas atap rumah dengan kamera depan ponselku. Cuma tiga belas detik, tapi kupikir rekaman itu sudah cukup menggetarkan. Dalam video, tampak aku dan nenekku saling memeluk. Di tengah kebisingan guruh dan deras air bah, terdengar suara nenek yang menyebut-nyebut nama Tuhan dan Kanjeng Nabi dengan lantang. Aku hampir menangis menonton rekaman video ini.
Tanpa pikir panjang, langsung kuunggah video itu ke semua akun media sosialku: Instagram, Facebook, TikTok. Tak sampai hari berselang, secara otomatis aku sudah memasuki langkah kedua yang disarankan AI: “Coba gandeng wartawan, akademisi, atau tokoh masyarakat supaya suaramu punya semacam payung”. Video unggahanku langsung viral tanpa harus menunggu hari berganti. Rupanya videoku banyak dibagikan oleh warganet yang menonton. Beberapa pesan singkat masuk ke WhatsApp-ku. Mereka jurnalis yang mengaku mendapat nomorku dari perangkat desa atau pengurus Karang Taruna.
“Ternyata tidak begitu sulit,” batinku. Hari itu juga, kesaksianku bermunculan di media-media daring, bahkan televisi nasional.
Seseorang dosen geologi dari universitas negeri ternama di ibu kota provinsi meneleponku sekira setengah jam setelah kami ditandemkan secara daring di siaran langsung televisi. Dosen itu memuji-muji diriku yang menurutnya cukup cerdas dan berani untuk menarik isu ini ke persoalan tambang dan perusakan alam.
“Lanjutkan! Saya salut, kamu baru lulus SMA tapi sudah punya kepedulian besar terhadap pelestarian lingkungan. Memang, menurut kajian lingkungan hidup strategis, Pegunungan Kapur Utara seharusnya wilayah konservasi yang tidak boleh ditambang. Kalau terus dibiarkan, selain bencana banjir, kekeringan juga akan terus mengancam. Sumber-sumber air akan mati dan petani akan kesusahan,” jelas dia. Banyak pengetahuan baru yang kudapat, sekalipun aku tak memahami beberapa istilah teknis yang dia ucapkan.
Seperti perlombaan lari estafet, tak lama kemudian tiba-tiba Kang Untoro mendatangiku di rumah. Dia adalah aktivis lingkungan lokal yang sudah belasan tahun menyuarakan isu ini, tapi tak pernah benar-benar digubris oleh pemerintah.
“Ayo kita manfaatkan momentum ini. Besok ikut aku ke Kantor Bupati,” ajak dia.
Keesokan hari, Kang Untoro dan kawan-kawannya benar-benar mengajakku bertemu bupati. Di sana aku tak bicara apa-apa. Namun, menurut Kang Untoro, kehadiranku saja sudah sangat penting sebagai “penegas”. Intinya, usai pertemuan itu, Pak Bupati benar-benar menghentikan semua aktivitas penambangan di Pegunungan Kapur Utara.
Aku terpana dan membatin, “AI memang sangat canggih dan pintar.”
***
Namun, kekagumanku hanya bertahan dua bulan. Tanpa peringatan, alat-alat berat dan truk-truk tambang tiba-tiba kembali menderu-deru bagai monster kelaparan. Bajingan! Kenapa bisa begini? Dadaku sesak dipenuhi amarah.
“Sudah dilakukan pengkajian ulang dan tidak ditemukan ada pelanggaran. Justru kami bisa dituntut kalau melarang penambang yang sudah mengantongi izin lengkap untuk beroperasi.” Begitu jawaban yang diberikan orang pemerintahan di lokasi ketika kudatangi bersama Kang Untoro. Bukan sulap bukan sihir, rupanya peta tata ruang tiba-tiba sudah direvisi. Status kawasan lindung berganti jadi zona industri pertambangan berkelanjutan.
Lalu tanpa tahu malu media-media massa memberitakan gagasan si dosen geologi yang pernah meneleponku. Judul berita-berita itu mirip-mirip: “Tambang Ramah Lingkungan Dorong Ekonomi Desa dengan Dana TJSL”.
“Akal-akalan iblis memang sulit dikalahkan,” bisik Kang Untoro padaku.
Pati, 19 April 2026


Komentar
Posting Komentar