SOLO - Di sebuah sudut Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, harum gurih daging olahan berkelindan dengan jejak panjang perjuangan. Di rumah yang sekaligus menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya, Tri Rahayu Amperawati memutar kembali memori masa lalu, sebuah fragmen kehidupan yang ditempa oleh badai dan keteguhan hati.
Sebelum dikenal sebagai sosok di balik ketenaran Abon Ksatria, perempuan yang akrab disapa Yayuk ini melakoni peran yang jauh dari renyah gurihnya bisnis kuliner. Selama sembilan tahun, sejak 1989, ia adalah seorang penjual koran yang menggantungkan asa pada lembar-lembar berita harian dari sebuah kios kontrakan. Kala itu, sang suami berjuang merintis usaha mebel kayu mahoni untuk pasar ekspor.
Namun, badai datang tanpa permisi. Krisis Moneter (Krismon) 1998 menghantam keras perekonomian bangsa, meruntuhkan usaha mebel mereka hingga gulung tikar. Demi bertahan hidup di tengah impitan ekonomi yang kian mencekik, Yayuk sampai pada titik di mana ia harus merelakan cincin kawinnya terjual.
"Awalnya saya tidak membuat abon, saya dulu penjual koran. Waktu Krismon, usaha mebel suami kolaps. Kami bahkan sampai harus menjual cincin kawin untuk memenuhi kebutuhan hidup," kenang Yayuk saat diwawancarai penulis belum lama ini.
Bertunas dari Warisan Tradisi Jagalan
Foto: Yayuk tengah menjemur irisan daging yang akan diolah menjadi dendeng. (Dokumentasi Mazka Hauzan Naufal)Kegigihan tak membiarkan Yayuk menyerah pada keadaan. Ia memilih membuka toko sembako kecil-kecilan di kediamannya untuk menyambung hidup. Lingkungan Jagalan yang kental dengan tradisi pengolahan daging sapi, mulai dari katering rambak hingga usaha jagal milik almarhumah ibunya, memantik sebuah gagasan sederhana.
Bermodalkan keberanian, Yayuk memasang papan bertuliskan “Jual Abon dan Dendeng” di depan toko sembakonya. Awalnya, ia sekadar menjajakan dendeng buatan ibunya dan abon pasokan sang bulik (tante). Keberadaan penjual kerupuk kulit (rambak) legendaris di seberang jalannya menjadi pembuka jalan: para pembeli rambak kerap singgah karena penasaran. Promosi dari mulut ke mulut pun bergulir alami.
Melihat respons pasar yang kian hangat, pada awal tahun 2000-an, Yayuk memberanikan diri mempelajari resep keluarga. Sang ibu memberinya modal awal berupa 10 kilogram daging sapi untuk diolah.
"Saya sempat gagal beberapa kali, tapi saya terus mencoba sampai berhasil. Dari 10 kilogram naik jadi 20 kilogram. Butuh waktu lama untuk habis terjual, tapi saya tidak patah semangat," tuturnya.
Ketekunan itu membuah hasil. Tak hanya abon dan dendeng sapi, resepnya berkembang mencakup serundeng kelapa, abon ayam yang merambah pasar Bali, hingga kremesan kaldu dan rambak renyah, sebuah warisan rasa yang jejaknya telah ditanamkan oleh sang kakek puluhan tahun silam.
Merek "Ksatria" pun lahir, mengambil nama dari rumah indekos milik suaminya yang kini bertransformasi menjadi pusat produksi.
Transformasi dan Modernisasi bersama Yayasan Astra-YDBA
Langkah Abon Ksatria melesat kian jauh saat Yayuk berjejaring dengan Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (Yayasan Astra-YDBA) pada 2019. Melalui kurasi ketat, produknya berhasil menembus etalase Resta Pendopo KM 456 Astra, membawa cita rasa lokal Jagalan ke tengah lalu lintas antarkota.
Tak sekadar membuka pintu pasar, Yayasan Astra-YDBA membekali Yayuk dengan fondasi manajemen modern melalui budaya kerja 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) dan Quality Control Circle (QCC). Prestasi demi prestasi pun ditorehkannya, mulai dari Juara 1 Lomba 5R (2022), Juara 2 Lomba QCC (2023), hingga meraih predikat predikat UKM Mandiri pada 2023.
Lewat ruang temu antarpelaku usaha yang difasilitasi YDBA, inovasi teknis Yayuk kian terakselerasi. Berawal dari obrolan bersama perajin bandeng presto asal Semarang, Yayuk beralih dari metode merebus daging manual yang memakan waktu berjam-jam ke teknologi panci presto.
Ia bahkan melangkah ke Gunungpati, Semarang, berguru pada pakar mesin industri dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), untuk merancang alat-alat produksi semi-otomatis seperti panci presto berkapasitas besar, timer digital, spinner pemerah minyak, hingga mesin pemipih daging.
Kini, dibantu lima orang karyawan, kapasitas produksinya melonjak drastis hingga mampu mengolah rata-rata 1 kuintal daging per hari.
Menjaga Resep, Merangkul Masa Depan
Di era digital, rantai pemasaran Abon Ksatria tak lagi sebatas dari mulut ke mulut. Selain bertengger di toko-toko modern dan menembus pameran internasional di Singapura bersama Bank Indonesia, produk ini menjangkau konsumen luas melalui lokapasar seperti Shopee, Tokopedia, hingga TikTok Shop (bisa diakses melalui tautan di bio akun Instagram @abonksatria).
Keberlanjutan usaha ini kian kokoh dengan hadirnya sang putri, Rosalia Chrisnanda Tri Jayanti, seorang lulusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Sebelas Maret (UNS). Sinergi antara keahlian sains pangan sang anak dan pengalaman lapangan sang ibu menjadi bahan bakar baru bagi Abon Ksatria untuk terus berinovasi tanpa kehilangan keaslian rasanya.
Kisah sukses Yayuk merupakan cerminan nyata dari filosofi pendampingan UMKM yang diusung oleh Yayasan Astra-YDBA. Dikutip dari siaran pers resminya, hingga tahun 2026, Yayasan Astra-YDBA telah mendampingi tak kurang dari 2.030 UMKM aktif di 21 wilayah Indonesia.
Sebagaimana ditegaskan oleh Ketua Pengurus Yayasan Astra-YDBA, Rahmat Samulo, pendekatan yang digunakan berfokus pada pemberian "kail, bukan ikan", yakni memperkuat mentalitas, kapabilitas bisnis, serta pemenuhan standar Quality, Cost, and Delivery (QCD) agar UMKM mampu mandiri, naik kelas, dan terintegrasi dalam rantai pasok industri nasional.
Dari selembar koran yang dijual di tepi jalan hingga kuintalan daging yang diolah saban hari, Tri Rahayu Amperawati membuktikan bahwa krisis bukanlah penutup cerita, melainkan awal dari sebuah babak baru yang penuh cita rasa. (*)



Komentar
Posting Komentar