Langsung ke konten utama

Dari Solo, Anggi Ajak Generasi Muda Cegah Distopia Pangan lewat Pertanian Hidroponik

MEMILAH SELADA - Anggi Bitho Lokmanto (35), pemilik kebun Aa818_Hydroponic, tengah memilah sayur selada di lahan yang dia kelola di belakang Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwirul Fikr, Jalan Kabut, Jebres, Kota Surakarta, Jumat (13/6/2025). (Dokumentasi Mazka Hauzan Naufal)


Catatan: artikel ini menjadi Juara 3 Apresiasi YDBA (Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra) untuk Pewarta 2025 kategori umum (blog/media sosial)

SOLO – Pada masa mendatang, laju pertumbuhan populasi manusia tak lagi bisa diimbangi oleh pertumbuhan produksi pangan. Pun, lahan-lahan persawahan akan berubah menjadi gedung-gedung hunian manusia yang populasinya terus meroket. Begitulah gambaran kondisi distopia pangan, di mana bumi tidak sanggup lagi menyediakan makanan yang cukup untuk mengisi perut seluruh penghuninya.

Di sudut Kota Solo, Jawa Tengah, seorang pemuda bernama Anggi Bitho Lokmanto (35) menolak tunduk pada skenario terburuk masa depan tersebut. Di kebun bernama Aa818_Hydroponic, ia merawat optimisme sebagaimana ia merawat sayuran: dengan tangan, hati, dan keyakinan bahwa pertanian punya masa depan yang gilang-gemilang. Ancaman krisis pangan pada masa depan dia sikapi dengan visi cemerlang: menganggapnya sebagai peluang emas bagi sektor pertanian, khususnya hidroponik.

“Ke depan, pertanian adalah bidang yang memiliki prospek jauh lebih bagus, bahkan mencapai masa keemasan. Sebab ada risiko bahwa laju pertumbuhan populasi manusia akan tidak seimbang dengan produksi bahan pangan. Ini justru peluang yang harus ditangkap generasi muda,” kata Anggi saat ditemui di kebun Aa818_Hydroponic, Jebres, Solo, Jumat (13/6/2025).

Menurut alumnus Teknologi Hasil Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) ini, sekarang pun pemerintah sudah menunjukkan perhatian lebih pada isu ketahanan pangan. Langkah itu memang sudah sepatutnya diambil secara serius guna menghadapi risiko krisis pangan.

Anggi menilai, hidroponik, yang notabene merupakan cara bercocok tanam tanpa tanah, menjadi salah satu solusi terbaik di tengah terus menyusutnya lahan pertanian konvensional.

Apa yang disampaikan Anggi tersebut sejalan dengan laporan Kompas berjudul “Tantangan Konversi Lahan dalam Semangat Cita-Cita Swasembada Pangan” yang dipublikasikan pada 3 Mei 2025. Dalam laporan tersebut, dipaparkan bahwa dilihat dari data nasional 2015-2024, lahan sawah terus mengalami penurunan antara 80 ribu sampai 100 ribu hektare per tahun.

“Ini peluang yang harus ditangkap generasi muda. Mereka harus cekatan menangkap peluang ini serta menyelaraskannya dengan kemajuan teknologi. Misalnya dengan ponsel dalam genggaman, kita bisa mengetahui dan mengidentifikasi kebutuhan pasar terhadap hasil pertanian hidroponik. Hanya saja tidak semua generasi muda memandang peluang ini,” tegas pria yang menekuni hidroponik sejak 2018 ini.

Atas alasan itulah, Anggi secara konsisten terus berupaya menularkan semangat bertani kepada para generasi muda. Hal itu dia lakukan melalui program magang atau Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di kebun hidroponik yang dia kelola. 

Kebun tersebut berlokasi di belakang Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwirul Fikr, Jalan Kabut, Jebres, Kota Surakarta. Sebelum dikelola oleh Anggi, lahan seluas 1.500 meter persegi tersebut merupakan tanah wakaf nonproduktif. Lewat tangan dingin Anggi, tanah wakaf pondok pesantren yang sebelumnya terbengkalai itu kini produktif menghasilkan puluhan jenis sayur-mayur segar. Di antaranya selada, bayam, kangkung, daun mint, dan aneka rupa sawi-sawian. Dengan total 15 ribu titik tanam, tempat ini senantiasa tampak hijau-menyegarkan. Bagai oasis di tengah padang beton yang gersang.

Di arena urban farming inilah, Anggi terus berupaya mewujudkan regenerasi petani. Sejak 2020, dia membuka program magang demi menularkan semangat bertani serta mendidik generasi muda untuk bercocok-tanam hidroponik. Tak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa, program ini juga terbuka bagi siswa SMA/SMK.

“Program magang ini kami adakan sejak 2020. Tiap bulan ada. Rata-rata per bulan kami tampung 20 personel. Kebanyakan dari perguruan tinggi di Solo Raya. Tapi ada juga yang agak jauh dari Undip, UNY, UGM, dan ITB. Pernah juga dari Maluku,” terang dia.

Bahkan, Anggi mengaku pernah membimbing mahasiswa pertukaran dari Bangladesh.


MUDA BERTANI - Lima orang mahasiswa magang berfoto di kebun Aa818_Hydroponic, Jalan Kabut, Jebres, Kota Surakarta.


Menurut Anggi, meski mayoritas yang magang di tempatnya merupakan mahasiswa jurusan pertanian, ada pula yang dari jurusan lain. Misalnya, Juni tahun ini dia menerima mahasiswa magang dari Pendidikan Luar Biasa UNS.

Dia menegaskan, pertanian hidroponik memang bukan hanya untuk orang yang punya latarbelakang ilmu pertanian. Justru mereka yang dari jurusan nonpertanian biasanya menunjukkan minat lebih tinggi karena menemukan hal baru yang menarik.

Di program magang ini, Anggi melatih keterampilan nonteknis (soft skill) sekaligus keterampilan teknis (hard skill) para muda-mudi.

“Untuk yang program satu bulan, dua pekan kami latih soft skill, dua pekan lagi baru hard skill. Soft skill di sini meliputi kepemimpinan, etika, kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah, menumbuhkan jiwa berani berbicara, berani berkomunikasi, mindset dunia kerja, dan seterusnya. Hard skill-nya mengetahui cara budidaya hidroponik, dari semai hingga pascapanen, dengan baik dan benar,” papar dia.

Di program ini, Anggi yang notabene merupakan petani milenial, membuka perspektif baru muda-mudi Gen Z terhadap pertanian.

“Mereka melihat bahwa suatu kebun bisa produktif, menghasilkan profit, dengan teknik pertanian yang tidak seperti bayangan mereka bahwa bertani harus kotor, harus berjemur seharian, dan capek tenaga. Di hidroponik, itu semua ternyata bisa diminimalisasi dengan bantuan teknologi,” jelas dia. 

GENERASI PENERUS - Dua orang peserta magang di kebun Aa818_Hydroponic sedang memilah sayuran.


Menurut Anggi, upaya yang dia lakukan telah cukup membuahkan hasil. Saat ini, menurut dia keinginan para peserta magang untuk benar-benar terjun di bidang pertanian kian bertumbuh. Bahkan, ada beberapa alumnus magangnya yang kini mengelola kebun sendiri hingga menjadi mitra dari Aa818_Hydroponic. 

Kondisi pasar produk sayuran hidroponik pun, menurut Anggi, tahun ini tergolong sangat baik. Sebab, pertanian konvensional terhambat oleh cuaca kemarau basah.

“Jenis sayuran seperti sawi-sawian, bayam, kangkung, dan selada hijau sedang naik daun. Tapi di pertanian konvensional stok mulai kurang karena gagal panen. Dengan sistem hidroponik, risiko kegagalan jauh lebih mudah diminimalkan, sehingga mampu bertahan di era kemarau basah. Kemarau basah ini, kan, tantangannya cuaca panas-hujan-panas-hujan. Konvensional kurang tahan. Hidroponik lebih bisa bertahan,” jelas dia.

Peran Yayasan Astra

Sepak terjang Anggi di dunia hidroponik tak terlepas dari peran Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (Yayasan Astra). 

Bahkan, terbentuknya komunitas pelaku usaha hidroponik di Solo Raya juga melibatkan Yayasan Astra melalui YDBA Solo sebagai aktor penting. Anggi mengenang, pada 2018 ketika dia merintis usaha, pelaku hidroponik di Solo Raya lebih banyak yang hanya berada di skala hobi, belum ke ranah komersial.

"Saat itu ada Komunitas Hidroponik Solo Raya (Khisoya). Kemudian saya masuk, saya merangkul mereka, (membangun komunitas baru) namanya jadi Kohisora dan saya jadi ketuanya. Saya ngajak kawan-kawan yang masih skala hobi, kami rekrut, kami kembangkan dan konsistenkan sampai sekarang," ucap dia.

Setelah Kohisora terbentuk, pada 2019 YDBA Solo melakukan pendekatan.

"Pada 2019 YDBA Solo masih mencari mitra di bidang pertanian. Mereka mendekati Kohisora dan berjumpa dengan saya. Dari situ kami kumpulkan personel," kata dia.

Yayasan Astra-YDBA Solo membina para pelaku UMKM hidroponik ini lewat berbagai program pelatihan dan pendampingan. Anggi menilai, program ini sangat bermanfaat bagi dirinya dan para pengusaha hidroponik lain. Pihaknya diberi keleluasaan memilih materi pelatihan sesuai kebutuhan.

"Kami lalu mendapat pelatihan teknik budi daya, pascapanen, perpajakan, pengemasan, peningkatan SDM, peningkatan mindset, manajemen keuangan, dan lain-lain," urai dia.

Tak hanya itu, pakar-pakar yang dihadirkan YDBA Solo juga melakukan pendampingan langsung di kebun.

Anggi mengatakan, sebelum mengenal YDBA Solo, dirinya dan kawan-kawan melakukan produksi secara asal-asalan. Hasil tanam pun terbilang masih ala kadarnya.

"Dengan pelatihan dan pendampingan dari YDBA Solo, akhirnya kami paham betul cara budidaya hidroponik yang baik. Tidak asal-asalan seperti dulu, menyemai sesuka hati," ucap dia.

Yayasan Astra-YDBA Solo juga melakukan fasilitasi pasar, antara lain lewat pameran-pameran, event kuliner, hingga Car-Free Day (CFD).

Kini, rutin setiap hari Minggu, komunitas hidroponik binaan YDBA Solo membuka lapak di CFD Jalan Slamet Riyadi menggunakan nama Wadah Sayur Indonesia.

YDBA Solo juga membangun jalinan antar-UMKM hidroponik lewat pola hubungan yang kolaboratif dan saling membangun.

Untuk diketahui, dalam pembinaan UMKM, Yayasan Astra punya sistem penjenjangan (levelling) yang ditentukan melalui asesmen tahunan. Jenjang awal adalah Pemula dan yang tertinggi adalah UMKM Mandiri.

Dari seluruh UMKM hidroponik binaan YDBA Solo, menurut Anggi sudah banyak yang mencapai level UMKM Mandiri. Hanya beberapa yang belum karena masih tergolong rekrutan baru.

Aa818_Hydroponic milik Anggi bahkan pernah menjadi UMKM Mandiri Terbaik Kategori Pertanian 2023. Terbaru, pada 9 Mei 2025, Anggi ditahbiskan oleh Yayasan Astra sebagai Juara 1 UMKM Bidang Pertanian dengan Penerapan 5R (budaya kerja Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) Terbaik.

Yayasan Astra Naikkan Level UMKM

Dikutip dari pengantar redaksi Majalah UMKM Level Up Edisi 2 tahun 2025, Yayasan Astra sebagai pelaksana CSR Astra yang berfokus dalam mendampingi UMKM berupaya meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan UMKM agar sejalan dengan cita-cita Astra, yakni "Sejahtera bersama Bangsa".

Ketua Pengurus Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra, Rahmat Samulo, mengatakan bahwa pihaknya senantiasa mendorong UMKM agar memiliki mentalitas dasar yang baik dalam menghadapi perubahan dan terus berbagi.

"Serta berkomitmen dan konsisten dalam menjalankan bisnis agar dapat menghasilkan produk sesuai standar kebutuhan pelanggan," ujar dia saat menerima Penghargaan The Most Committed Pembinaan UMKM dalam ajang Bina Mitra Award 2025 di SMESCO, Jakarta,  Rabu (14/5/2025), sebagaimana dikutip Majalah UMKM Level Up.

Hingga 2025, Yayasan Astra telah memberikan pembinaan kepada 13.663 UMKM di Indonesia dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 75.451 orang.

Sejak 2015, Yayasan Astra juga telah memfasilitasi 1.425 UMKM naik kelas dan memandirikan 384 UMKM melalui program pelatihan, pendampingan, fasilitasi pemasaran, dan pembiayaan bagi UMKM di sektor manufaktur, bengkel roda 4, kerajinan dan kuliner, serta pertanian bernilai tambah.

Seluruh rangkaian pembinaan tersebut merupakan implementasi dari prinsip Yayasan Astra dalam pendampingan UMKM, yakni "beri kail, bukan ikan".

Penutup

Di tengah data-data soal konversi lahan pertanian, ancaman krisis pangan, dan masa depan yang suram, kisah Anggi Bitho Lokmanto menjadi kabar baik.

Dari lahan wakaf yang dulu mati, ia menumbuhkan kehidupan baru. Di jiwa generasi muda, ia menanam benih semangat bertani.

Seakan ingin membantah distopia pangan, Anggi membuktikan: masa depan bisa tetap hijau—asal ada keberanian untuk menangkap peluang dan menanam harapan.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jus Tomat

Jus Tomat Cerpen Mazka Hauzan (Naskah Terbaik dalam Lomba Menulis Cerpen Bertema “Kenangan bersama Keluarga” yang diadakan oleh Hyui Publisher, 2018)   Setelah cukup lama menekuri segelas minuman di atas meja kerjanya, Zhafran  akhirnya meneguk isi gelas kaca itu: cairan merah yang berampas putih tipis pada permukaannya.   Dalam setiap teguk, kisah-kisah nostalgia perlahan merasuk. Kisah-kisah itu datang dari masa yang cukup purba dalam hidupnya, ketika duka-nestapa masih sangat sederhana dan tak sedikit pun meninggalkan luka yang berbahaya. Pada masa itu, kesedihan hanya berupa kegagalan meringkus layang-layang putus. Kecewa tentu ada, namun tak seberapa lama. Ia akan hilang bersamaan dengan datangnya senja yang ditandai oleh tepukan tangan Bunda−isyarat untuk segera pulang sebelum azan berkumandang. Tak ada sakit yang mengendap di hati. Luka akan sirna seiring beralihnya musim layangan ke musim kelereng. Tak seperti kini, ketika kesedihan telah menemukan  formula...

Ultrasonografi

Ultrasonografi Cerpen Mazka Hauzan (Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional yang diadakan UKM Pers Politeknik Negeri Padang, 2018) “Anakku, kalau kamu betul-betul membenci penghakiman massa, yang kamu sebut perbuatan biadab dan tidak adil itu, seandainya besok kamu memergoki seseorang mengambil sesuatu yang bukan haknya, janganlah kamu meneriakinya ‘maling’ atau ‘pencuri’. Sebab, jika kamu meneriakinya begitu, orang-orang yang tiga perempat dirinya adalah iblis akan langsung tergerak untuk memukul, menendang, dan membakarnya. Lebih baik kamu meneriakinya ‘koruptor’ atau ‘kapitalis bengis’ saja. Sebab, dengan demikian, orang-orang akan merasa sungkan, bahkan untuk sekadar mencubitnya. Sebaliknya, mereka akan tergerak untuk mencium tangan dan pantatnya.” Aku ingin menyampaikan kata-kata itu pada anakku, kelak ketika ia telah cukup dewasa. Aku hanya perlu menunggu momentum yang tepat. Misal saja, nanti saat ia telah duduk di bangku sekolah menengah atas, suatu hari sepulang sekolah ...