Pak Alex dari Marimas secara simbolis ngasih hadiah umrah ke Mamah, Jumat (22/12/2023). (Dokumentasi pribadi)"Kunci sukses bukan kerja keras. Kunci sukses adalah kebetulan."
Kata-kata dari Ryu Hasan, seorang dokter spesialis bedah saraf, yang sempat viral di media sosial tersebut membuatku tersenyum manggut-manggut ketika kali pertama menyimaknya di Tiktok.
Meski aku tidak bisa memastikan maksud sebenarnya dan seutuhnya dari Ryu Hasan, kurasa aku sangat bersepakat dengan kata-kata itu. Setidaknya dalam pemaknaan pribadiku.
Sedikit-banyak, barangkali prinsip hidupku selama ini juga bersinggungan dengan kata-kata itu.
Banyak "kebetulan-kebetulan menyenangkan" yang kualami dalam hidup, yang ketika hal itu terjadi, aku merasa tidak gagal-gagal amat jadi manusia.
Banyak pencapaian-pencapaian dalam hidupku yang merupakan hasil "giveaway".
Sebagian emas yang kugunakan sebagai mahar menikah adalah hasil undian dari salah satu bank syariah.
Aku bisa kuliah S2 dari "hadiah" beasiswa salah satu bank pelat merah.
Bahkan, ibuku, yang kupanggil Mamah, bisa berangkat umrah Februari 2024 lalu setelah namanya kutuliskan dalam kupon undian Marimas pada akhir 2023.
Selain ketiga contoh itu, masih banyak pengalaman kebetulan lain yang membuatku bisa menggapai cita-cita dan angan-angan.
Sebagian besar modal seserahan nikah, biaya akikah anak, sampai jam tangan G-Shock yang kupakai sehari-hari, semuanya boleh dibilang hasil giveaway dan hadiah dari ajang tertentu.
Aku sudah sejak lama jadi pemburu hadiah dan giveaway. Ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri yang membuatku kecanduan ketika aku berhasil mendapatkan sesuatu yang kuinginkan tanpa harus menabung gaji sedikit demi sedikit.
Namun, sebelum bercerita lebih jauh, pertama-tama aku perlu membatasi pengertian "kebetulan" di tulisan ini.
Kalau tidak, salah-salah nanti aku disangka mengajak orang jadi penganut fatalisme, yakni paham yang memasrahkan diri sepenuhnya pada nasib, yang pada titik terekstremnya bisa membuat orang jadi malas-malasan dan enggan berusaha atau bekerja.
Kebetulan yang kumaksud di sini kubatasi pengertiannya pada "kejadian atau pencapaian yang terjadi secara tidak terduga".
Sebetulnya disebut "tidak terduga" pun bukan sepenuhnya. Sebab, dalam tiap kesempatan undian doorprize, giveaway, atau kompetisi, tentu semua peserta punya kemungkinan menang.
Selain itu, kecil atau besar, pasti tetap ada porsi usaha yang dilakukan oleh para "pemburu kebetulan" sepertiku.
Misalnya ketika aku dapat undian emas batangan dari bank, yang pada akhirnya kugunakan sebagai (sebagian) mahar nikah. Porsi usahaku adalah membuka rekening tabungan di bank tersebut. Tanpa punya rekening, mana mungkin aku bisa ikut undian.
Dari sekian banyak pencapaian tak terduga yang kualami, mungkin belum semua bisa kuceritakan lewat artikel singkat ini.
Namun, pengalaman kebetulan paling berkesan yang hendak kuceritakan adalah bisa memberangkatkan Mamah umrah lewat jalur giveaway Marimas.
Pencapaian ini adalah hasil kombinasi paripurna antara hasrat menahun, sedikit porsi usaha, dan banyak kebetulan.
Suatu hari, pada hari-hari pertama aku mulai bekerja setelah jadi sarjana, Mamah pernah berpesan padaku, "Kalau kamu suatu saat sukses dan banyak uang, tolong pertama-tama umrahkan Mamah. Karena kalau untuk berhaji, mungkin Mamah sudah terlalu tua. Yang penting umrah dulu."
Permintaan itu bagiku sangat emosional. Apalagi ayahku sampai purna umurnya tak sekalipun sempat menginjakkan kaki di Tanah Suci. Maka "mengumrahkan Mamah" jadi ambisiku yang terus bersarang di ubun-ubun.
Di sisi lain, aku masih tidak tahu bagaimana caranya bisa mewujudkan itu. Untuk menabung rasanya butuh waktu terlalu lama. Sebab, aku masih karyawan swasta level sudra.
Justru adik dan kakak perempuanku yang paling memungkinkan untuk bisa segera memberangkatkan Mamah ke Makkah dan Madinah. Sebab penghasilan mereka berkali-kali lipat lebih banyak dariku. Adikku pegawai BUMN. Adapun kakakku saat itu bekerja di salah satu badan yang dinaungi PBB, dengan gaji sebulan yang setara dengan gajiku setahun.
Namun, aku berkeinginan kuat supaya akulah yang berkesempatan memberikan tiket umrah untuk Mamah. Supaya aku tidak malu-malu amat jadi anggota keluarga. Supaya setidaknya ada peran yang bisa kubuat untuk keluarga.
Sebab Adik dan Mbak menurutku sudah terlalu banyak berperan untuk keluarga. Mereka rutin mengirim uang bulanan yang cukup untuk Mamah. Sementara aku sekadarnya saja.
Saat ayahku sakit, biaya pengobatan banyak ditanggung oleh mereka. Rumah Mamah di kampung juga sebagian besar dibangun dari tabungan Adik. Banyak kebutuhan keuangan keluarga yang bersifat mendesak yang pada akhirnya "diatasi" oleh mbak atau adikku.
Maka, aku ingin dapat giliran untuk berbakti, setidaknya untuk keperluan berangkat umrah ini.
Saat itulah kebetulan besar menghampiriku. Di penghujung 2023, tiba-tiba datang seorang teman menawarkan beberapa kupon undian umrah dari Marimas. Seingatku, kutulis nama Mamah di tiga kupon.
Syarat ikut undian, kupon itu harus dikirim bersama dengan 10 bungkus minuman kemasan bikinan grup Marimas.
Kebetulan lain, kawanku itu punya banyak bungkus produk minuman kemasan bikinan Marimas. Aku ditawarinya pakai bungkus-bungkus miliknya.
Setelah selesai kutulis kupon-kupon itu, dan kuserahkan pada kawanku yang baik hatinya itu, kukabarilah Mamah bahwa aku mengikutkan namanya pada ajang undian umrah.
Belakangan, Mamah bilang kalau dulu dirinya sama sekali tidak berharap pada "kemungkinan super kecil" yang kutawarkan itu. Sebab, janji adikku lebih realistis. Ternyata adikku berjanji akan memberangkatkan Mamah umrah jika tabungannya kembali terkumpul pascaterkuras untuk membangun rumah di kampung.
Bahkan, pada Desember, penghujung 2023, saat Tim Marimas menelepon dan mengabarkan bahwa dia menang undian umrah, Mamah sempat mengira itu penipuan.
Tak sampai di situ, saat suatu siang Tim Marimas sampai datang ke rumah, Mamah ketakutan karena masih merasa bakal jadi korban penipuan. Sebab, dia merasa tidak pernah ikut undian dan sama sekali tidak ingat bahwa aku pernah mendaftarkannya.
Baru ketika Pak Alex, perwakilan dari Tim Marimas, bertanya apakah mungkin ada anggota keluarga yang tanpa sepengetahuan Mamah mendaftarkan namanya dalam undian, ibuku mulai teringat.
Mamah langsung berteriak-teriak memanggilku yang "kebetulan" saat itu sedang berak. Meski kotoran dalam usus besarku belum tuntas kukeluarkan, aku langsung bergegas keluar toilet.
Aku masih ingat perkataan Pak Alex ketika itu: "Kebetulan Mas-nya nulis alamat di kupon lengkap sampai RT dan RW-nya. Jadi kami bisa datang ke sini walaupun nelepon Ibu berkali-kali di-reject. Ada, lo, pemenang undian lain yang cuma nulis nama kecamatan. Ditelepon juga tidak bisa. Terpaksa hangus hadiahnya."
Aku takjub ketika Pak Alex menunjukkan video saat pengundian. Ketika satu amplop kecil berisi kupon dengan nama Mamah diambil dari gunungan berisi ribuan, bahkan mungkin puluhan ribu amplop-amplop lain, aku merasa ini betul-betul kebetulan yang luar biasa. Kebetulan yang benar-benar betul.
Akhirnya, pada Februari 2024 Mamah benar-benar berangkat ke Tanah Suci. Mbakku menemaninya dengan biaya sendiri. Perasaanku lega. Walaupun lewat jalur giveaway, jalur kebetulan, aku tidak gagal-gagal amat jadi anak.
Seperti kubilang tadi, pencapaian ini adalah hasil kombinasi paripurna antara sedikit porsi usaha dan banyak kebetulan.
Lewat "upaya ultra mikro"-ku menulis nama dan alamat Mamah di tiga lembar kupon, dan didorong begitu banyak kebetulan, akhirnya aku bisa mengumrahkan Mamah.
Oh, ya, ada yang lupa kuceritakan. Aku mulai kecanduan ikut aneka ajang giveaway dan lomba-lomba antara lain dipicu pengumuman di Instagram (IG) tentang pemenang giveaway salah satu perusahaan ekspedisi. Ajang itu syaratnya cuma menjawab kuis dan repost di story IG.
Saat itu, perusahaan tersebut mengadakan event undian dengan hadiah utama mobil Xpander. Sekadar iseng, kebetulan, aku stalking akun si pemenang hadiah mobil. Kulihat isinya, ternyata dia sudah bertahun-tahun mengikuti berbagai ajang giveaway. Story maupun feed IG-nya menggambarkan bahwa dia adalah pemburu giveaway yang sangat gigih, tahan malu, dan tahan banting.
Di situlah aku mulai sadar, meskipun ketika menang terasa sebagai "kebetulan", ternyata ikut giveaway juga usaha yang tidak main-main.
Sebelum mengunggah tulisan ini, aku sempat googling dan nemu artikel bagus dari Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI. Isinya menunjukkan bahwa memang ada jenis rezeki dari Allah yang sifatnya kebetulan. Ada dalilnya juga, lo.
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (Surah At-Thalaq : 2-3).


Komentar
Posting Komentar