Langsung ke konten utama

Kreativitas Oca Lahirkan Napas Baru Lurik Gedog: Dari Kain Penggendong Kayu ke Fesyen Modern

Foto: Katarina Octaviani Putri (29) alias Oca menunjukkan salah satu produk karyanya. (Dokumentasi Mazka Hauzan Naufal)

SOLO — Suara ketukan kayu dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) terdengar bergema dari pemukiman penenun tradisional di Klaten. Dari gerak jemari dan dentang instrumen kayu gedog sederhana itulah, lembar demi lembar kain tenun lurik dilahirkan.

Di mata kebanyakan orang, kain lurik lendang, yakni kain tenun berukuran relatif sempit, lebar 50 sentimeter dan panjang 2 meter, hanya identik dengan fungsi utilitas perdesaan: helai pengikat yang digunakan para ibu di pasar untuk menggendong barang atau tumpukan kayu bakar di balik punggung. 

Namun, berkat kreativitas Katarina Octaviani Putri (29) alias Oca, narasi kain gendongan itu berubah sepenuhnya.

Lewat sentuhan estetika modern, helai-helai kain etnik yang kerap dipandang sebelah mata itu bertransformasi menjadi produk kriya dan busana bernilai tinggi.

Menerobos Batas Tren

Langkah Oca berani dan tak biasa. Berbekal latar belakang pendidikan di SMK jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), perempuan muda ini nekat memancangkan niat sejak dekade lalu.

“Saya mulai merintis usaha ini pada 2014. Berawal dari keinginan mengangkat wastra Jawa, khususnya tenun lurik, agar lebih fashionable,” kenang Oca saat diwawancarai penulis belum lama ini.

Pilihan Oca jatuh pada kain lurik lendang. Ketika desainer dan perajin lain sibuk mengolah kain tenun berukuran standar 2 x 1 meter, Oca justru melihat peluang berharga dalam keterbatasan dimensi kain gendongan. Keberanian ini menobatkannya sebagai salah satu pelopor produk fesyen kekinian yang berani mengeksplorasi kain tenun gendongan lokal.

Proses kreatifnya tumbuh bertahap. Oca tak langsung memotong kain menjadi pakaian. Ia memulainya dari kerajinan tangan berskala kecil: sandal etnik, kipas, kotak tisu, hingga blangkon. Setelah makin mantap membaca selera pasar, pada 2016 ia memberanikan diri merambah ranah busana.

“Awalnya saya buat outer untuk daily outfit. Sekarang sudah lebih bervariasi. Ada syal, kemeja, dan lain-lain, head to toe (dari kepala sampai kaki),” tutur Oca.

Jiwa Tradisional, Napas Gen Z

Mempertahankan citra etnik tradisional tanpa terkesan kaku atau "kuno" menjadi tantangan tersendiri. Lewat label Oppu Company (Instagram: @oppucompany_id), Oca memadukan keautentikan motif lurik dengan potongan kasual yang fleksibel dipadupadankan oleh generasi muda.

Guna menjangkau konsumen lintas batas, strategi penjualannya dipadukan secara hibrid, luring dan daring. Secara luring, deretan karya Oppu Company kerap dijumpai meramaikan Pasar Malam Ngarsopuro Surakarta tiap sabtu-minggu, Museum Pabrik Gula Colomadu, hingga galeri sekaligus kediamannya di Griya Tiara Ardi, Mojosongo, Surakarta. 

Bagi para pelancong, jejak produk Oppu Company juga hadir di Resta Pendopo KM 456 Salatiga, Jogja Pasaraya, hingga La Li Sa Bantul. Sementara untuk jangkauan serba cepat, jaringan Tokopedia, TikTokShop, dan platform media sosial menjadi etalase utamanya.

Bertumbuh dan Naik Kelas Bersama Yayasan Astra-YDBA

Lompatan penting dalam perjalanan bisnis Oppu Company terjadi pada 2019. Kala itu, produk Oca berhasil lolos kurasi ketat untuk dipasarkan di Resta Pendopo KM 456, sebuah kawasan istirahat berkonsep modern milik Astra. Titik temu inilah yang membawanya masuk ke dalam ruang pembinaan Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (Yayasan Astra-YDBA) Solo.

Ibarat mendapat suplemen baru, manajemen bisnis yang mulanya berjalan intuitif mulai ditata dengan terstruktur.

“Di YDBA dapat banyak pelatihan, misalnya tentang keuangan dan pemasaran. Difasilitasi pameran dan business matching juga. Pernah diajak pameran ke TEI (Trade Expo Indonesia) di Tangerang Selatan, serta pameran-pameran di Solo,” paparnya penuh rasa syukur.

Melalui ajang pameran dan temu bisnis itu, daya pikat wastra buatan Oca makin meluas. Tokoh dan figur publik terkemuka, seperti aktor senior Slamet Rahardjo, jurnalis kawakan Rosianna Silalahi, hingga pasangan musisi Endah n Rhesa, turut kepincut dan mengenakan karyanya. 

Bahkan, helai-helai lurik gendongan bergaya modern ini kerap diboyong oleh wisatawan mancanegara maupun WNI yang bermukim di luar negeri sebagai cenderamata adiluhung.

Buah manis dari konsistensi dan pendampingan itu mewujud nyata. Pada 2023, Oppu Company resmi lulus asesmen dan menyabet predikat UMKM Mandiri dari Yayasan Astra-YDBA. Rekam jejak ini melengkapi apresiasi yang sebelumnya pernah ia raih, seperti penghargaan UMKM WOW 2018 dan Pelestari Wastra Lurik 2019.

Menjaga Bara Tetap Menyala



Jalan pengusaha kriya tak pernah sepi dari gelombang. Ketika badai pandemi Covid-19 melumpuhkan perekonomian beberapa tahun lalu, omzet Oppu Company sempat merosot tajam. Namun, menyerah tak ada dalam kamus Oca.

Ia memilih beradaptasi: merajut kembali pola pemasarannya, memperkuat jaringan digital, dan terus menelurkan ide-ide segar yang relevan dengan perkembangan zaman.

Bagi Katarina Octaviani Putri, menenun asa lewat lurik bukan sekadar urusan mencari untung. Ini adalah panggilan jiwa untuk memastikan bahwa helai-helai benang dari tangan penenun lokal Klaten tetap memiliki tempat terhormat di tengah modernisasi, memastikan wastra Nusantara terus bernapas dan melangkah bangga bersama zaman.

Kisah sukses Oca merupakan cerminan nyata dari filosofi pendampingan UMKM yang diusung oleh Yayasan Astra-YDBA. Dikutip dari siaran pers resminya, hingga tahun 2026, Yayasan Astra-YDBA telah mendampingi tak kurang dari 2.030 UMKM aktif di 21 wilayah Indonesia.

Sebagaimana ditegaskan oleh Ketua Pengurus Yayasan Astra-YDBA, Rahmat Samulo, pendekatan yang digunakan berfokus pada pemberian "kail, bukan ikan", yakni memperkuat mentalitas, kapabilitas bisnis, serta pemenuhan standar Quality, Cost, and Delivery (QCD) agar UMKM mampu mandiri, naik kelas, dan terintegrasi dalam rantai pasok industri nasional. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Solo, Anggi Ajak Generasi Muda Cegah Distopia Pangan lewat Pertanian Hidroponik

MEMILAH SELADA - Anggi Bitho Lokmanto (35), pemilik kebun Aa818_Hydroponic, tengah memilah sayur selada di lahan yang dia kelola di belakang Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwirul Fikr, Jalan Kabut, Jebres, Kota Surakarta, Jumat (13/6/2025). (Dokumentasi Mazka Hauzan Naufal) Catatan: artikel ini menjadi Juara 3 Apresiasi YDBA (Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra) untuk Pewarta 2025 kategori umum (blog/media sosial) SOLO – Pada masa mendatang, laju pertumbuhan populasi manusia tak lagi bisa diimbangi oleh pertumbuhan produksi pangan.  Pun, lahan-lahan persawahan akan berubah menjadi gedung-gedung hunian manusia yang populasinya terus meroket. Begitulah gambaran kondisi distopia pangan, di mana bumi tidak sanggup lagi menyediakan makanan yang cukup untuk mengisi perut seluruh penghuninya. Di sudut Kota Solo, Jawa Tengah, seorang pemuda bernama Anggi Bitho Lokmanto (35) menolak tunduk pada skenario terburuk masa depan tersebut.  Di kebun bernama Aa818_Hydroponic, ia merawat ...

Komparasi Gunung dan Secangkir Kopi

Komparasi Gunung dan Secangkir Kopi Cerpen Mazka Hauzan (Dimuat di Ruang Budaya Harian Rakyat Sumbar, Sabtu 27 Agustus 2016) Sore hari. Mendung kelabu merata di langit. Azan berkumandang. Seorang pemuda meringkuk di atas ranjang, berselimutkan gundah bergulung-gulung, bermanja-manja dengan gulana, bergumul-masyuk dengan nestapa, nestapa yang seolah sengaja ia reka-reka. Entah untuk apa. Iqomat terdengar, masih juga ia terkapar.  “Pacarku diambil orang,” ratapnya lirih. “Orang itu brengsek... tapi lebih tampan dan kaya. Belasan menit berselang, tepat pukul tiga lewat sepuluh, akhirnya pemuda itu menegakkan tubuh, meski dengan agak rikuh. Pukul setengah empat, ia ada janji berjumpa dengan seorang kawan di kedai kopi. Kepadanya, sekadar untuk memberikan sedikit kelegaan pada hatinya yang tengah dijajah gundah, ia ingin menumpahkan segala keluh-kesah. *** Sinar fajar shodiq baru saja menyemburat-mekar. Aroma embun melekat pada dedaun. Azan melantun, belum sampai “Ash sholatu khoirum mi...

Sekar Melati Rinonce (Sebuah Sajak)

Sekar Melati Rinonce Sajak karya Mazka Hauzan (Juara 1 Cipta Puisi dalam Festival Sastra Rembang 2026) Ingatan tentangmu, Bapak, adalah kenangan singkat tentang jemari kasarmu yang menguntai kepangan-kepangan kecil di rambut kanak-kanakku, yang kausebut bak once Meron. Begitulah dengung di kepalaku ketika aku melipat enam puluh pasang musim dalam palung dada, sambil meringkuk dalam rumah gedek peninggalanmu. Di gubuk ini, sunyi adalah sosok yang paling betah bertamu dan menemaniku menyesap getir kehidupan. Orang bilang, Bapak, Engkau tak mewariskan apa-apa selain kemelaratan yang menyelusup sampai sela-sela kuku dan cerita heroik tentang Ibu yang merelakan seluruh napasnya demi tangis pertamaku. Kau tak ada di sampingku, Bapak, ketika hatiku diiris-iris sampai seluruh tresna di dalamnya tiris. Kau juga tak bersamaku, Bapak, ketika kerasnya dunia memaksaku membenamkan jemari setangan-tangan sekaki-kaki dalam lumpur sawah milik tuan tanah. Namun sungguh, di ujung malam ini, aku masih men...