KARANGANYAR — Di sudut Desa Selokaton, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, deru mesin CNC membelah sunyi. Cahaya lampu bengkel fabrikasi itu menyala tanpa jeda, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Di balik kesibukan pabrik tersebut, berdiri Sutarmin (54), pria bersahaja yang membuktikan bahwa keterbatasan pendidikan bukanlah tembok penghalang untuk menggenggam presisi industri modern.
“Saya sebelumnya sama sekali tidak tahu 5R itu apa. Wong saya ini ndak sekolah. Pendidikan terakhir cuma SMP. Menjalankan bisnis, ya, asal jalan saja,” tutur Sutarmin, pemilik PT Sinergi Solo Sejahtera (PT SSS), dengan nada rendah hati, saat dihubungi penulis belum lama ini.
Namun, siapa sangka dari jemari dingin seorang lulusan sekolah menengah pertama ini, lahir cetakan-cetakan presisi tinggi (moulding) berbahan logam yang menjadi hulu pembuatan berbagai kebutuhan hidup masyarakat—mulai dari komponen kemasan kosmetik, sendok, hingga suku cadang kendaraan.
Garis Takdir dari Timika
Jalan hidup Sutarmin tidak pernah tergelar di atas karpet merah. Pada medio 1990-an, ia menjelajah hingga ke pulau jauh, Timika, Papua Tengah. Berbekal kain dan pakaian yang diulak dari sesaknya Pasar Klewer Solo hingga Pasar Tanah Abang Jakarta, ia dan istrinya menyambung hidup dari sebuah kios sederhana.
Tahun 2000, dorongan naluri keluarga memanggilnya pulang ke Solo demi mempersiapkan kelahiran sang buah hati. Sutarmin memutar haluan membangun usaha konveksi seragam dan ekspedisi.
Titik balik sesungguhnya baru berembus pada 2011. Membaca peluang dari sang adik ipar yang telah bergelut di kawasan manufaktur Cikarang, Sutarmin memberanikan diri merambah bidang mould maker. Tanpa latar belakang teknik, ia belajar dari nol, memulainya sebagai pembantu produksi (subcontractor) di bengkel kerja yang kala itu masih menyewa ruko sempit di Desa Plesungan, Karanganyar.
Menata Mentalitas Bersama Yayasan Astra-YDBA
Langkah Sutarmin menemukan kompasnya tatkala Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Solo, yang kelak menjadi Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Solo, hadir pada 2019. Sutarmin menjadi salah satu perintis yang merapatkan barisan.
Di tempat inilah filosofi kerja industri Astra disuntikkan. Pendampingan Yayasan Astra-YDBA berfokus pada penguatan mentalitas usaha, peningkatan kapabilitas bisnis, serta penerapan budaya kerja lewat konsep 5R: Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin.
"Dengan penerapan 5R, tempat usaha saya ini Standar Operasional Prosedur (SOP)-nya jadi lebih tertata dan lebih efisien. Cari alat-alat lebih cepat, waktu tidak terbuang. Tempat kerja jadi lebih bersih dan nyaman. Jauh lebih tertata ketimbang dulu yang masih sembarangan," kenang Sutarmin.
Kedisiplinan itu berbuah manis. PT SSS mendapat predikat Juara 2 Lomba 5R tingkat YDBA nasional pada 2023. Lebih dari sekadar piala, penerapan budaya kerja tersebut merombak total efisiensi pabriknya.
Langkah pembinaan yang dirasakan Sutarmin merupakan bagian dari komitmen panjang Yayasan Astra-YDBA. Dikutip dari siaran pers di laman resminya yang bertanggal 8 Juli 2026, Selama 46 tahun hadir mendampingi pelaku UMKM, Yayasan Astra-YDBA terus mendorong pemberdayaan usaha lokal agar mampu naik kelas dan masuk dalam rantai pasok industri nasional. Hingga pertengahan 2026, tak kurang dari 2.030 UMKM aktif di 21 wilayah Indonesia yang berada di bawah naungan pendampingan YDBA.
Kolaborasi, Bukan Kompetisi
Ketua Pengurus Yayasan Astra-YDBA, Rahmat Samulo, sempat menyoroti bahwa simpul kelemahan UMKM saat ini kerap bersumber dari belum solidnya rantai pasok antara pelaku usaha kecil dan industri besar. Karena itu, Yayasan Astra-YDBA tidak sekadar mempertemukan UMKM dengan pemain industri besar, tetapi juga mendidik mereka memenuhi standar ketat Quality, Cost, and Delivery (QCD).
Pendekatan tersebut terbukti nyata pada PT SSS. Lewat inisiatif pembentukan Komunitas Machining Solo Raya pada April 2022 dan fasilitasi Program Ayah Angkat, Sutarmin dan puluhan UMKM manufaktur dihubungkan dengan PT Yogya Presisi Teknikatama Industri (YPTI), mitra besar berstatus tier 1 Grup Astra.
Bagi Sutarmin, kehadiran jejaring ini mengikis tuntas dinding persaingan yang saling menjatuhkan. Ketika kapasitas pabrik meluap oleh pesanan, ia membagikan pekerjaan kepada rekan-rekan sejawatnya.
"Tidak mungkin pekerjaan sedemikian banyak saya selesaikan sendiri. Saya lempar ke teman-teman. Sebaliknya, saya juga sering dapat pekerjaan lemparan," ungkapnya.
Perkembangan pesat ini memaksa PT SSS meretas batas ruko sempitnya. Sutarmin memberanikan diri berinvestasi membeli lahan dan mendirikan pabrik yang lebih memadai di Desa Selokaton. Sejak 2021, statusnya secara resmi direvisi oleh Yayasan Astra-YDBA dari sekadar usaha berskala pemula menjadi UMKM Mandiri.
Koordinator YDBA Solo, Dimas Wahyu Ashary, mencatat perkembangan pesat tersebut sebagai bukti nyata proses penjenjangan (levelling) keberhasilan UMKM. PT SSS menjadi potret ideal bagaimana pelatihan dasar, pendampingan, fasilitasi pasar, hingga pembiayaan perbankan dikelola secara berkesinambungan.
Sementara, Rahmat Samulo menegaskan bahwa transformasi bengkel-bengkel kecil menjadi industri manufaktur berstandar tinggi, lengkap dengan peremajaan mesin berstandar industri dan penyerapan tenaga kerja yang signifikan, merupakan buah dari konsistensi pembinaan di daerah.
Sutarmin adalah bukti nyata bagaimana pendampingan intensif berorientasi value creation mampu mengubah bengkel sederhana menjadi bagian penting dari ekosistem industri modern.
Asa yang Belum Padam
Kini, dengan dukungan sekitar 20 karyawan yang bekerja bergiliran dalam sistem shift, PT SSS menjadi salah satu dari sedikit bengkel manufaktur di Solo Raya yang sanggup menjaga denyut operasinya tanpa henti selama 24 jam nonstop.
Namun, bagi Sutarmin, perjalanan panjang dari pesisir Papua hingga lorong-lorong mesin Karanganyar ini belum usai. Di matanya, selalu ada ruang untuk tumbuh.
Sutarmin ingin terus membuktikan, kemauan untuk belajar dan kerendahan hati untuk dibina adalah cetakan paling presisi dalam menempa sukses sejati. (*)


Komentar
Posting Komentar