Merawat Impian tentang Reaktivasi Kereta Api Semarang-Rembang
(Termasuk 10 karya terbaik dalam lomba menulis feature "Ayo Cintai Angkutan Massal!" NNC, 2024)
Foto: Stasiun Kereta Api Puri Pati (1905)
(Leiden University Librares via Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Pati.)
PATI - Lebih dari 20 tahun lalu, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, Ibu pernah membawa saya berkunjung ke rumah Mbah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Berangkat dari Terminal Terboyo, Kota Semarang, kami naik bus jurusan Surabaya.
Ibu mengajak saya bersiap turun bus ketika kernet mulai berteriak, “Stasiun! Stasiun!” Dengan pikiran kanak-kanak yang lugu, kala itu saya bingung. Sesuai pelajaran yang saya dapat di sekolah, tempat pemberhentian bus adalah halte atau terminal. Sedangkan stasiun adalah tempat pemberhentian kereta api. Saya heran karena kami naik bus tapi turun di stasiun.
Begitu turun bus, saya lebih heran lagi karena tidak melihat ada bangunan stasiun seperti yang pernah saya lihat di Semarang. Tempat yang disebut “stasiun” oleh kernet adalah area tepi Jalan Pantura dengan pemandangan kendaraan berlalu-lalang, taman kecil di sudut jalan, dan barisan pertokoan.
Belasan tahun kemudian, setelah takdir membawa saya bekerja dan berumah tangga di Pati, saya baru mengetahui bahwa ternyata dahulu tempat itu memang pernah berfungsi sebagai stasiun kereta.
Stasiun Pati yang berlokasi di Puri, Kecamatan Pati, ini dibuka pada 1885 dan sempat beroperasi selama satu abad lebih sebelum “disuntik mati” pada 1987 (Srinindra Harimurti, Revitalisasi Stasiun Kereta Api Kelas Sedang di Kabupaten Pati dengan Pendekatan Semiotika Sintaksis, Tugas Akhir Prodi Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, 2023).
Stasiun Pati didirikan oleh perusahaan Belanda, Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). Menurut Ahmad Syhabuddin (Universitas Negeri Yogyakarta) dalam artikelnya yang dipublikasikan di Jurnal Prodi Ilmu Sejarah Vol. 4 No. 2 (2019), Baron van der Goes dan C.L.J Martens mendirikan SJS pada 28 September 1881 berdasarkan konsesi yang diterima dari Pemerintah Hindia Belanda.
SJS menjadi bagian dari pelopor jaringan trem uap di Pulau Jawa. Sesuai namanya, rute yang dilayani SJS ialah Semarang sampai Juwana (Pati). Stasiun Pati adalah salah satu yang dilalui kereta SJS.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam sejarah, Pati merupakan bagian penting jaringan kereta api yang menghubungkan Semarang dengan Kawasan Muria. SJS kemudian mengembangkan jaringan kereta api hingga Rembang (Rosa Kusuma, dkk., Sejarah Kereta Api Rute Semarang-Rembang Tahun 1967-1988, Journal of Indonesian History Vol. 7 No. 1, 2018).
Setelah Belanda hengkang dari Nusantara, Pemerintah Kolonial Jepang menggunakan kereta api sebagai kendaraan militer. Karenanya, tidak ada perkembangan sarana dan prasarana. Baru setelah kemerdekaan Indonesia, perbaikan-perbaikan dilakukan oleh perusahaan kereta api.
Pada era Orde Baru, pemerintah melakukan pembangunan infrastruktur perhubungan lewat Program Pembangunan Lima Tahun (Pelita). Namun, pembangunan dititikberatkan pada infrastruktur jalan raya. Akibatnya, lambat-laun masyarakat beralih menggunakan transportasi jalan raya dan meninggalkan kereta api. Akhirnya, kereta api rute Semarang-Rembang mengalami kerugian dan ditutup total pada 1988.
Angan-Angan Reaktivasi Kereta Api
Sejak menjadi mahasiswa pascasarjana di Universitas Sebelas Maret, Agustus 2024, sepekan sekali saya harus menempuh perjalanan Pati-Solo demi mengikuti perkuliahan. Dengan pertimbangan utama dari aspek ekonomis, saya memilih menggunakan kendaraan pribadi. Sebab, sepengetahuan saya, tidak ada angkutan massal yang melayani rute Pati-Solo secara langsung. Hanya jasa antar-jemput travel yang tersedia, dengan tarif kurang bersahabat bagi pekerja kelas menengah seperti saya.
Maka, berkendara roda dua menjadi pilihan paling logis dan ekonomis meski konsekuensinya tidak menyenangkan: tubuh kerap kelelahan usai menempuh jarak 260 kilometer (pulang-pergi).
Jika memaksakan diri naik bus, saya harus tiga kali berpindah kendaraan dengan rute Pati-Semarang-Solo. Durasi perjalanan jadi dua kali lipat lebih lama. Kesehatan mental juga agak terganggu karena saya harus berhadapan dengan kemacetan di Jalur Pantura.
Dengan kondisi demikian, saya berangan-angan akan ada reaktivasi jalur kereta api Semarang-Rembang. Jika terwujud, meski tetap harus menempuh rute Pati-Semarang-Solo, saya bisa melaluinya secara cepat dan bebas hambatan dalam gerbong kereta yang nyaman.
Impian itu ternyata bukan cuma milik saya. Di titik penanda “Stasiun Pati” pada Google Maps, banyak warganet meninggalkan ulasan berisi harapan serupa. Akun “Yuwana Galih Nugrahatama” menulis ulasan cukup panjang yang diakhiri kesimpulan: reaktivasi jalur ini mutlak dilakukan oleh pemerintah pusat agar menjadi moda transportasi alternatif bagi masyarakat Pati maupun sekitarnya.
Akun “team hore” menulis ulasan bernada sentimental: “Ini menyedihkan karena saya ikut merasakan stasiun ini menunggu detik-detik suntik mati. Semoga jalur KA ini dihidupkan kembali.”
Angan-angan ini ternyata bukan cuma cita-cita rakyat akar rumput di kabupaten berjuluk Bumi Mina Tani. Pemerintah daerah sudah lama merawat impian yang sama. Pemerintah Kabupaten Pati berulang-kali mengusulkan reaktivasi jalur kereta api dalam berbagai forum pembangunan. Hal ini bahkan menjadi ambisi Bupati Pati yang menjabat 2012-2022, Haryanto.
“Saya sudah lama menyampaikan pada gubernur maupun menteri perhubungan terkait pentingnya reaktivasi jalur kereta api dari Semarang hingga Lasem (Rembang),” ujar Haryanto ketika menghadiri Diskusi Terpumpun Pengembangan Jaringan dan Pelayanan Perkeretaapian Jawa Tengah di Semarang, Selasa (28/8/2018), sebagaimana dipublikasikan Tribunnews.com, Sabtu (1/9/2018).
Sayangnya, hingga masa jabatannya sebagai Bupati Pati berakhir, angan-angan tersebut belum juga terwujud.
Kabar gembira datang belakangan. Terbaru, reaktivasi jalur kereta api Pati disebut sudah masuk Proyek Strategis Nasional (PSN). Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Pati, Jumani, sebagaimana dipublikasikan Prokompim Sekretariat Daerah Kabupaten Pati, Kamis (19/9/2024).
Sebelumnya, Penjabat (Pj) Bupati Pati yang menjabat Agustus 2022 hingga Agustus 2024, Henggar Budi Anggoro, mengatakan bahwa pengerjaan proyek ini akan dimulai 2028. Lintasan kereta api di Pati, menurut dia, akan menggunakan 80 persen jalur baru. Sebab, jalur lama sudah digunakan untuk keperluan lain.
Redesain Stasiun Pati
Sejumlah akademisi mengajukan konsep redesain Stasiun Pati yang menawarkan keterpaduan antara bangunan lama yang tergolong Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) dengan bangunan baru yang sesuai standar PT KAI.
Srinindra Harimurti (UKDW, 2023) menawarkan pendekatan semiotika sintaksis untuk merevitalisasi Stasiun Pati dengan menunjang konteks komunikasi “Old & New” antara bangunan lama dan baru.
Sementara, Ardi dan Desrina dalam artikel mereka di Jurnal Arsitektur Zonasi vol. 2 no. 3 (2019) menawarkan konsep integrasi antar-ruang publik dalam redesain Stasiun Pati. Konsep ini mengusung tiga parameter, yakni responsive (menciptakan ruang yang memunculkan berbagai aktivitas di ruang publik), democratic (bisa digunakan berbagai kalangan, termasuk difabel, lansia, dan anak-anak), serta meaningful (memberi makna dengan desain yang unik).
Konsep ini bisa menjadi bahan pertimbangan pemangku kebijakan dalam merevitalisasi perkeretaapian di wilayah Muria, khususnya Pati, agar tercipta sistem transportasi publik yang aman, nyaman, cepat, dan ekonomis. Sehingga masyarakat bisa beralih dari kendaraan pribadi (dengan segala problematikanya) ke kendaraan umum.
Artikel ini telah dipublikasikan di netralnews.com dengan tautan berikut: https://www.netralnews.com/merawat-impian-tentang-reaktivasi-kereta-api-semarang-rembang/QVAwaEhYZmNmWEtQNXVJeFQwY0ozZz09
Pengumuman lomba: https://www.netralnews.com/daftar-10-karya-terbaik-lomba-menulis-feature-ayo-cintai-angkutan-massal/UExFb3VUdUkvN0pTcnIvSk9uNnJjdz09

Komentar
Posting Komentar