Akal Imitasi versus Akal-Akalan Iblis Cerpen Mazka Hauzan (Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Kategori Umum pada Festival Sastra Rembang 2026) Malam kian pekat. Sejak fajar hujan turun tanpa rehat. Aku dan nenek diserang rasa takut berlarat-larat. Bukan cuma karena gelegar guntur dan sambaran kilat, melainkan karena kami seolah melihat kiamat: air bah begitu dahsyat, menenggelamkan rumah dan memaksa kami menyelamatkan diri ke atap cepat-cepat. Tubuh kami gemetar di atas atap yang gentingnya bergetar dihantam angin malam. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya gelap yang legam. Lampu-lampu padam. Hanya kilat yang menyala sesekali, menyingkap tabir kelam yang menyembunyikan wajah-wajah suram: wajah penduduk kampung yang jiwanya terancam. Jerit tangis, lolongan anjing, dan gemuruh banjir bandang yang menerjang berpadu dalam simfoni bencana. “Mbah,” ucapku lemah dengan gigi bergemeletuk menahan dingin. “Apakah kita akan mati?” Nenek tidak menjawab. Mulutnya terus merapal nama Tuhan dan Ka...