Ultrasonografi
Cerpen Mazka Hauzan
(Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional yang diadakan UKM Pers Politeknik Negeri Padang, 2018)
“Anakku, kalau kamu betul-betul membenci penghakiman massa, yang kamu sebut perbuatan biadab dan tidak adil itu, seandainya besok kamu memergoki seseorang mengambil sesuatu yang bukan haknya, janganlah kamu meneriakinya ‘maling’ atau ‘pencuri’. Sebab, jika kamu meneriakinya begitu, orang-orang yang tiga perempat dirinya adalah iblis akan langsung tergerak untuk memukul, menendang, dan membakarnya. Lebih baik kamu meneriakinya ‘koruptor’ atau ‘kapitalis bengis’ saja. Sebab, dengan demikian, orang-orang akan merasa sungkan, bahkan untuk sekadar mencubitnya. Sebaliknya, mereka akan tergerak untuk mencium tangan dan pantatnya.”
Aku ingin menyampaikan kata-kata itu pada anakku, kelak ketika ia telah cukup dewasa. Aku hanya perlu menunggu momentum yang tepat. Misal saja, nanti saat ia telah duduk di bangku sekolah menengah atas, suatu hari sepulang sekolah ia menonton siaran berita di televisi butut kami tentang maling kambing yang sekarat dihajar warga. Ya, mungkin ini memang akan terdengar sangat pesimistis. Namun, rasanya kejadian seperti itu akan terus berulang sampai jauh masa mendatang.
“Jahat sekali....” Kubayangkan ia akan berkomentar begitu.
Komentar itu akan kujawab dengan pertanyaan: “Siapa yang jahat? Pencuri kambing atau warga yang mengeroyoknya?”
“Mencuri itu kejahatan, tapi main hakim sendiri, apalagi sampai membuat orang lain sekarat, tentu saja merupakan kejahatan yang jauh lebih besar. Itu perbuatan biadab dan tidak adil.”
Jika dia menjawab begitu, akan kusampaikan kata-kata itu padanya. Akan kutambah pula dengan sebuah riwayat mengenai beberapa orang pembantu pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang kedapatan mencuri unta milik majikan mereka. Khalifah Umar tidak menghukum para pembantu yang mencuri unta, justru beliau menghukum sang majikan. Keputusan ini diambil setelah terbukti bahwa para pembantu itu terpaksa mencuri karena kelaparan akibat ditelantarkan oleh sang majikan.
Bahwa kejahatan-kejahatan sering dipaksa lahir oleh kondisi ketidakadilan dan ketidakpedulian, bahwa “penjahat” yang nampak di depan matamu barangkali hanyalah tumbal dari penjahat besar yang ada di belakangnya, dan bahwa menimpakan hukuman pada seseorang tanpa proses peradilan merupakan bentuk kebiadaban, pemahaman-pemahaman itulah yang ingin kutanamkan pada anakku.
Barangkali aku terdengar sok moralis dan menggurui. Namun, sungguh, aku hanya ingin menunaikan kewajiban mendidik anakku, mendidiknya menjadi manusia yang berperilaku manusia, bukannya manusia yang berperilaku setan.
Anakku itu... saat ini masih meringkuk dalam rahim istriku.
***
Sepekan lalu, pada usia kehamilannya yang hampir memasuki bulan ketujuh, istriku mengutarakan keinginannya untuk menjalani pemeriksaan ultrasonografi.
“USG tidak wajib dilakukan kok, Dik. Kamu tetap bisa melahirkan dengan baik tanpa di-USG,” jawabku ketika itu. Tentu itu bukan jawaban paling terus terang.
Jika bukan karena malu dan tidak tega, aku akan menjawab: tidak ada biaya. Pemeriksaan USG mungkin murah saja bagi kebanyakan orang, tapi mahal bagiku. Aku dengar, biaya USG paling murah di kota kecil kami setara dengan dua belas kali lipat uang makan harian kami. Biaya sebesar itu, untuk sesuatu yang menurutku bukan kebutuhan pokok, terlalu mahal bagiku yang hanya seorang tukang reparasi jam kelas kaki lima.
“Aku ingin tahu apakah anak kita ini laki-laki atau perempuan, Mas.”
“Ada apa dengan itu?”
“Setidaknya kita bisa memberi nama untuk anak kita sebelum dia lahir.... Aku juga ingin memanggil namanya ketika dia menendang-nendang di dalam sini,” ucapnya sambil mengelus perut.
Aku geli mendengar alasan yang diutarakan istriku. “Kita bisa mempersiapkan dua nama sekaligus, Dik. Satu nama perempuan dan satu nama laki-laki. Untuk sementara, kamu cukup memanggilnya ‘Anakku’,” jawabku diringi seulas senyum.
Istriku mengernyit. Aku sadar jawabanku tidak memuaskannya. “Bagaimana jika anak kita ternyata kembar?” ucapnya kemudian.
Aku tertawa kecil. “Kalau begitu kita persiapkan sepasang nama laki-laki dan sepasang nama perempuan. Oh, kita juga bisa mempersiapkan sepasang nama laki-laki-perempuan seandainya anak kembar kita berbeda jenis kelamin.”
Istriku menunduk dan terdiam sejenak, sebelum ia kembali menatapku dan berkata, “Bagaimana kalau kembar tiga atau empat?”
Kali ini aku yang menunduk dan terdiam. Aku sudah tidak merasa geli lagi. Aku bingung.
“Mas tidak ada biaya?” tanya istriku lirih.
Deg! Jantungku berdebar. Tak sanggup aku menatap wajah istriku.
“Aku ngidam, Mas.”
Rasa sesak mendadak menjalariku. Jelas sudah perkaranya: istriku mengidam untuk di-USG, setelah selama hampir tujuh bulan sebelumnya tidak pernah mengidam apa-apa.
“Bagaimana, Mas?” kejarnya.
Kutatap wajah memelas istriku. Perasaanku tak keruan. Akhirnya, kusandarkan kepalanya pada pundakku, kuelus kepalanya, dan kubisikkan di telinganya, “Aku usahakan, Dik.”
***
“Saya bukan pencuri....!” Seorang pria berteriak di tengah kerumunan puluhan manusia yang mengepungnya.
Buk! Satu pukulan keras menghantam pelipis kiri pria itu, disusul pukulan-pukulan lain, juga tendangan-tendangan, di sekujur tubuhnya. Tak butuh waktu lama, pria itu lalu terkapar bersimbah luka berdarah-darah.
Di tengah ketidakberdayaannya, sepertinya dengan sisa tenaga terakhir, pria itu mendesis lemah, “Ssa... ya... bukan... pen... curi....”
Desis lemah pria malang itu justru dibalas oleh salah seorang dalam kerumunan itu dengan injakan keras di perut, disusul dengan teriakan provokatif: “Mana ada maling ngaku?! Bakar saja!”
Massa yang kelihatannya telah sepenuhnya hilang akal itu lantas menyahut gaduh, “Bakar! Bakar! Bakar!” Sayup-sayup terdengar teriakan seorang perempuan, “Jangan! Jangan!” Namun, teriakan itu nyaris tak terdengar. Tenggelam begitu saja.
Tiba-tiba, seorang lelaki bertopi mengguyur pria malang itu dengan bensin, lantas melemparkan sebatang korek api yang telah tersulut. Api segera menjalari tubuh pria itu. Kejang-kejang dan matilah ia.
Kejadian mengerikan itu terjadi di pasar kecamatan, menjelang magrib, tiga hari setelah istriku mengatakan bahwa ia mengidam ingin di-USG. Pikiranku yang sebelumnya sudah kacau menjadi semakin kacau setelah itu. Kekacauan pikiranku kemudian beralih menjadi kegeraman. Kegeraman yang teramat besar. Aku geram terhadap massa yang berperilaku biadab itu.
Semoga kelak anakku tidak akan tumbuh menjadi iblis seperti mereka.
***
Bermodal ponsel yang telah retak layarnya (yang kubeli sangat murah di pasar loak) dan jaringan Wi-Fi gratis di taman depan kantor kecamatan, aku mencari informasi tentang metode-metode selain USG yang bisa dilakukan untuk mengetahui jenis kelamin janin. Barangkali, berbekal informasi yang kudapatkan, aku bisa membujuk istriku untuk membatalkan keinginannya menjalani pemeriksaan USG. Walaupun aku juga tidak yakin, sebetulnya istriku mengidam di-USG atau mengidam mengetahui jenis kelamin anak kami.
Dalam sebuah artikel di sebuah situsweb tentang kehamilan, aku menemukan keterangan bahwa jenis kelamin janin bisa ditentukan dari kebiasaan makan sang ibu selama hamil: jika sang ibu banyak memakan daging, konon janin dalam kandungannya berjenis kelamin laki-laki, dan jika sang ibu banyak memakan buah-buahan, konon janin perempuanlah yang meringkuk dalam rahimnya. Fakta bahwa sudah lama kami tidak pernah makan daging ataupun buah membuatku sedih, dan fakta bahwa terlalu banyak kata “konon” dalam artikel itu membuatku putus asa.
Dalam keputusasaanku, aku beranjak dari tempatku duduk dan berjalan tak tentu tujuan. Entah bagaimana, tahu-tahu aku sudah berada di sebuah gang sepi, di salah satu sudut pasar kecamatan. Aku pun terduduk lemah di atas sebuah kotak kayu.
“Seandainya dulu aku menyelesaikan kuliahku, mungkin nasibku tidak akan seburuk ini,” batinku.
Ketika itulah aku melihat sesuatu berwarna kuning mengilap di ujung gang. Setelah kudekati, ternyata sebuah sepeda. Sepeda ini pasti berharga mahal. Aku pernah melihat sepeda semacam ini dalam sebuah katalog yang kutemukan tergeletak di jalan.
Setengah mengigau, sambil mengelus setang sepeda itu, aku membatin, “Kalau sepeda ini kujual, uang yang kudapat mungkin bisa digunakan untuk dua ratus kali tes USG....”
Lalu aku tersadar. Apa yang baru saja kupikirkan? Yang benar saja! Berutang pun aku pantang, apalagi mencuri?
Saat itulah aku mendengar teriakan seseorang di belakangku: “Maling!”
Bhakti Persada Indah, 28 Februari 2018

Komentar
Posting Komentar