Jus Tomat
Cerpen Mazka Hauzan
(Naskah Terbaik dalam Lomba Menulis Cerpen Bertema “Kenangan bersama Keluarga” yang diadakan oleh Hyui Publisher, 2018)
Setelah cukup lama menekuri segelas minuman di atas meja kerjanya, Zhafran akhirnya meneguk isi gelas kaca itu: cairan merah yang berampas putih tipis pada permukaannya. Dalam setiap teguk, kisah-kisah nostalgia perlahan merasuk. Kisah-kisah itu datang dari masa yang cukup purba dalam hidupnya, ketika duka-nestapa masih sangat sederhana dan tak sedikit pun meninggalkan luka yang berbahaya.
Pada masa itu, kesedihan hanya berupa kegagalan meringkus layang-layang putus. Kecewa tentu ada, namun tak seberapa lama. Ia akan hilang bersamaan dengan datangnya senja yang ditandai oleh tepukan tangan Bunda−isyarat untuk segera pulang sebelum azan berkumandang. Tak ada sakit yang mengendap di hati. Luka akan sirna seiring beralihnya musim layangan ke musim kelereng. Tak seperti kini, ketika kesedihan telah menemukan formula yang paling rumit dan mengerikan, dan seringkali meninggalkan luka yang mematikan: kegagalan dalam percintaan, pengkhianatan dari kawan seperjuangan, dan sumpah serapah yang membuat mata basah.
Zhafran ingat, sudah lama, sangat lama, lidahnya tidak merasakan minuman ini. Selama itu, sampai pagi ini, ia lupa di dunia ini ada minuman sebegini lezat: jus tomat.
***
Hari ini, pada pangkal rutinitas kerjanya yang monokromatik, Zhafran mendapati satu warna berbeda di atas meja kerjanya. Ada sebentuk warna merah cerah di sana, berwadahkan gelas kaca bening polos yang tak istimewa.
Ini bukan hal biasa. Memang, ia sudah biasa menjumpai gelas kaca itu setiap pagi, tapi tidak dengan cairan merah berampas putih tipis yang ada di dalamnya. Selama dua tahun lebih ia bekerja di kantor ini--dan di meja ini--, hanya dua jenis minuman yang saban pagi disajikan Mas Parlan di atas meja kerja tiap karyawan: segelas teh atau kopi, dilengkapi satu saset gula jagung.
“Ini apa, Mas? Tumben bukan kopi atau teh?” tanya Zhafran pada Mas Parlan yang tengah mengelap kaca jendela, segera setelah ia menduduki kursinya. Diendusnya minuman berwarna merah cerah yang sedikit berampas itu, seolah curiga ada seseorang yang telah mencampurnya dengan racun.
“Oh, itu dari Neng Maya, Mas,” jawab Mas Parlan tanpa menoleh.
“Maya?”
“Iya... cuma kamu yang dikasih. Istimewa sekali...” celetuk Wawan yang baru saja keluar dari kamar kecil. Ia mengatakan itu sambil menaik-turunkan kedua alisnya yang tipis-nyaris-tak-ada.
“Ehem... ehem....” Hartanti yang sedari tadi telah sibuk dengan komputernya berdeham-deham. Setelah itu, tanpa ada yang mengomando, ia dan Wawan kompak tergelak-gelak.
Benar saja. Setelah Zhafran menyisir pandangan ke meja rekan-rekan kerjanya di kantor ini (yang jumlahnya cuma tiga), hanya ada pemandangan biasa di sana: segelas teh yang masih mengepulkan uap, lengkap dengan sesaset gula jagung.
Maya, karyawati baru bidang pemasaran itu, memang digosipkan menaruh hati pada Zhafran. Namun, Zhafran tak pernah merasa Maya menyukainya. Berdasarkan pengalaman asmaranya sejak puber hingga hampir berkepala tiga kini, perempuan yang menyukainya akan mengirimkan sinyal-sinyal rasa suka yang halus dan samar, namun cukup jelas untuk ditangkap oleh radar cintanya yang peka. Sedangkan Maya, sejak kali pertama bekerja di kantor ini tiga bulan lalu, bahkan belum pernah sekalipun melakukan interaksi yang istimewa dengannya. Hanya sapaan-sapaan bernada basa-basi yang selama ini dipertukarkan di antara mereka. Itu pun sangat jarang. Biasanya, jika berpapasan, mereka hanya akan saling menukar anggukan dan senyuman kecil, kemudian berlalu begitu saja. Biasa. Sangat biasa. Tak ada yang istimewa. Namun, segelas minuman merah cerah berampas putih tipis ini, yang hanya disajikan Maya untuknya, kira-kira apa maksudnya?
Tak mau berlama-lama terjebak dalam dugaan-dugaan tidak jelas, Zhafran segera meneguk minuman itu. Manis yang menyenangkan terasa pada lidahnya. Segar yang mendamaikan mengaliri kerongkongannya. Setelah itu, jiwanya seperti terbang, melayang di antara labirin-labirin ingatan. Berputar-putar tak keruan. Kemudian berhenti dalam sebuah bilik memori yang... sepertinya tidak asing. Zhafran merasa... dulu... dulu sekali... entah kapan itu... ia pernah menghidupi ruangan itu. Tapi kapan? Bagaimana?
***
Jalan setapak berkerikil yang membelah kebun karet itu telah Zhafran hafal betul. Setiap Ahad pagi, Bunda selalu mengajaknya melalui jalan itu. Menuju pasar, untuk membeli aneka bahan masakan, juga beberapa butir buah tomat segar.
“Ayo cepat sedikit, Zhafran.... Ayah pasti sudah menanti kedatangan kita... dan tomat-tomat ini tentu saja...” ucap sang bunda kepada Zhafran kecil yang tengah berjongkok di belakangnya, memunguti biji-biji karet. Zhafran pun segera berlari-lari menyusul bundanya dengan biji-biji karet berhamburan dari kantung celananya yang kelebihan muatan.
Sepulang dari pasar bersama Zhafran, hal pertama yang selalu dilakukan bunda Zhafran adalah mencuci tomat-tomat itu, memotongnya kecil-kecil, mencampurnya dengan air dan sedikit gula, memblendernya, dan menuangnya ke baskom tanpa disaring terlebih dahulu. Ya, setiap Ahad pagi, bunda Zhafran selalu membuatkan jus tomat berampas untuk Zhafran dan ayahnya.
Ketika Zhafran masih bocah, jus tomat buatan Bunda merupakan rutinitas istimewa setiap akhir pekan. Hanya akhir pekan. Setiap Ahad, jus tomat itu menjadi sarapan wajib bagi Zhafran sebelum keluar rumah untuk bermain bersama teman-teman sampai petang, sampai bunda bertepuk tangan di muka pekarangan, memberinya isyarat kuat untuk segera pulang, sebelum azan magrib berkumandang.
Jika Bunda telah bertepuk-tepuk tangan dan memanggil-manggil namanya, segala keriuhan yang ia dan teman-temannya timbulkan: berkelahi memperebutkan layangan putus, debat panjang tentang siapa yang memenangi lomba lari, atau gemeletak kelereng yang saling beradu, akan sirna seketika. Digantikan oleh derap langkah Zhafran yang tergesa menuju rumah, kemudian gemericik air dari keran di pekarangan yang membasuh kaki kotornya, lalu langkah berdecit kakinya yang berjinjit-jinjit menuju dapur, suara kulkas yang dibuka, tegukan-tegukan besar Zhafran yang menenggak jus tomat langsung dari baskom sampai tandas tak bersisa, dan terakhir: desah puas yang menandakan bahwa, bagi Zhafran, hari Ahadnya telah berjalan dengan sempurna.
Kini, setelah hampir menandaskan segelas jus tomat pemberian Maya, barulah Zhafran sadar, betapa jus tomat merupakan penanda bagi romantisme hidupnya di masa lalu. Pada minuman itulah, memori manis tentang keutuhan keluarga, tentang senyuman ayah-bunda, tentang ketulusan hubungan dengan teman sebaya, tentang masa kanak-kanak yang bahagia tiada tara, terpatri sempurna, mengaliri jiwa dalam setiap teguknya.
Namun, pada teguk terakhir, jus tomat itu mengantarkan pula cerita terkelam dalam sejarah hidupnya.
***
Ahad pagi itu, langit cerah nyaris tak berawan. Mentari memancarkan sinar yang hangat bersahabat. Semua orang terlihat ceria. Senyum tersimpul pada paras mereka. Sepertinya, suasana hati memang seringkali berbanding lurus dengan cuaca.
Namun, tak kompak dengan cuaca, Zhafran cemberut pagi itu. Ia melangkah dengan malas, membuntuti bundanya menuju pasar. Maklum, hari itu adalah hari terakhir libur sekolah.
Sepanjang perjalanan Zhafran membisu. Bahkan, biji-biji karet yang berserakan di jalan setapak tak sedikit pun menarik minatnya. Kebisuannya baru pecah, ketika di toko buah, setelah memilih beberapa butir tomat terbaik, sang bunda memilah-milah stroberi dalam kemasan plastik.
“Hari ini Bunda akan membuatkan jus istimewa untukmu,” ucap bunda Zhafran lembut.
“Istimewa bagaimana, Bun?”
Bunda Zhafran mengusap lembut kepala anak lelaki kesayangannya. “Jus tomat campur stroberi. Kamu belum pernah merasakannya, bukan?”
Dalam perjalanan pulang, Zhafran tak henti-hentinya membayangkan betapa lezat jus tomat-stroberi yang dijanjikan bundanya. Ia berlari-lari semringah, telah lupa bahwa hari ini libur terakhir sekolah. “Ayo, Bun, cepat sedikit... aku sudah haus.”
Bunda Zhafran yang berjalan di belakangnya sambil menenteng berkantong-kantong plastik belanjaan menanggapi rengekan Zhafran dengan tawa kecil. Tawa kecil yang mengandung kebahagiaan teramat besar. “Ha-ha-ha.... Kamu ini... kalau mau cepat, bantu Bunda membawa belanjaan ini, dong.”
Bunda Zhafran terus tertawa pelan sepanjang jalan. Ia teramat bahagia. Namun, begitu sampai di rumah, tawa itu mendadak lenyap, bahagia itu mendadak raib.
Dalam ruang tamu, di hadapan ayah Zhafran, duduk seorang perempuan muda berperut buncit. Tubuhnya langsing, hanya perutnya yang buncit. Waktu itu Zhafran belum tahu siapa perempuan itu, dan kenapa ia datang bertamu. Namun ia tahu, perempuan itu tengah menyimpan bayi dalam perutnya. Yang jelas, setelah kedatangan perempuan berperut buncit itu, janji bunda Zhafran untuk membuatkan jus tomat-stroberi tak pernah terlaksana. Kehidupan setelahnya tak lagi sama. Tak ada lagi jus tomat. Tak ada lagi hari Ahad yang sempurna.
Sampai pagi ini.
Ah, betapapun jus tomat pemberian Maya membawa memori kelam dalam teguk terakhirnya, setelah jus itu sempurna tak bersisa, Zhafran tersenyum-senyum. Ia membayangkan, setelah ini, akan ada seorang perempuan cantik yang membuatkannya jus tomat setiap akhir pekan. Dengan begitu, kebahagiaan akan kembali menjadi persoalan sederhana.
***
Sore hari, setelah semua karyawan pulang, Maya yang sengaja berlama-lama di parkiran mencegat Mas Parlan yang hendak menaiki sepeda motor.
“Mas, gimana tadi reaksinya?”
“Hah, reaksi apa maksudnya, Neng?”
“Iiih.... Mas Rendi, Mas. Gimana reaksi Mas Rendi habis minum jus buatan saya?”
“Lo, hari ini Mas Rendi enggak ngantor, Neng.”
“Hah?! Terus siapa dong yang minum jusnya?”
“Ya Mas Zhafran lah, Neng. Siapa lagi? Tadi pagi kan Neng Maya naruh jusnya di atas meja Mas Zhafran,” jawab Mas Parlan sedikit heran. “Tadi Mas Zhafran senyum-senyum sendiri lo, habis minum jus spesial buatan Neng Maya,” ucap Mas Parlan diiringi seulas senyum dan kedipan sebelah mata.
Wajah Maya memucat seketika. “Aduh.... Gawat...” bisiknya pada diri sendiri.
Bhakti Persada Indah, dini hari 29 November 2016

Komentar
Posting Komentar