Ilustrasi Sampah Sisa Makanan (sumber gambar: freepik.com)
[Tulisan ini terpilih sebagai salah satu dari tiga tulisan terbaik bertema "kegelisahan" dalam latihan Komunitas Literasi Finansial supported by BRI (2024)]
MENDIANG nenekku paling sebal dengan orang yang menyia-nyiakan makanan. Nasihat Nenek lebih dari dua puluh tahun lalu, pada masa kanak-kanakku, masih menancap kuat dalam otakku sampai sekarang. Nenek selalu mengingatkanku untuk mengambil makanan ke piring secukupnya, kemudian makan dengan tidak menyisakan barang sebulir nasi pun.
Suatu hari, Nenek pernah menegurku ketika melihat masih ada beberapa bulir nasi kubiarkan tak terjamah di piring makanku. Nenek lantas membandingkan aku dengan sepupuku yang menurutnya selalu menandaskan makanan di piring tanpa sebutir nasi dan setetes kuah pun tersisa.
Dipicu ego seorang bocah yang enggan dibanding-bandingkan dengan saudara sendiri, apalagi dalam posisi yang kalah, teguran itu pada akhirnya membentuk kebiasaan dan cara pandangku hingga kini.
Jika tidak benar-benar dalam kondisi "di luar kewajaran", aku selalu makan dengan tuntas, tandas, dan lunas.
Hatiku juga selalu berontak, kadang sampai ingin memaki, ketika melihat makanan dibuang dan disia-siakan dalam acara resepsi pernikahan. Namun, kejengkelan itu seringkali hanya mengendap di batinku yang seorang introver ini.
Kurang lebih delapan tahun lalu, saat masih menjadi mahasiswa S-1, aku pernah mengikuti seleksi tingkat fakultas untuk pembentukan Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Misi Khusus ke Fakfak, Papua Barat.
Sebagai bahan diskusi dengan penguji, kami diminta menjawab sejumlah pertanyaan secara singkat dalam secarik kertas. Salah satu pertanyaan yang ada ialah "Apa hal yang paling tidak kamu sukai?". Aku menulis "makanan basi".
Ketika tiba giliranku berhadapan dengan penguji, aku diminta menjelaskan tentang hal itu. Kujawab, makanan basi menandakan ketidakmerataan kesejahteraan sosial. Selama di satu tempat masih banyak makanan yang disia-siakan sampai basi, sedangkan di tempat lain masih ada anak-anak yang tengkes akibat kurang gizi dan masih ada orang-orang miskin yang kelaparan, artinya kita masih sangat jauh dari pengejawantahan sila kelima Pancasila.
Jawaban ini membuat penguji mengangguk-angguk. Tak lama kemudian aku dinyatakan lolos menjadi bagian dari tim KKN Misi Khusus. Namun, pada akhirnya kami gagal berangkat ke Fakfak karena muncul peristiwa yang membuat kondisi sosial politik di sana saat itu tidak kondusif.
***
Di luar pengalaman pribadiku tentang nasihat Nenek agar tak menyia-nyiakan makanan, para orang tua di Indonesia sepertinya punya semacam konsensus tak tertulis tentang cara menasihati anak agar menghabiskan makanannya.
Tentu kita tidak asing dengan perkataan: "Kalau makanannya nggak dihabisin, nanti nasi-nya nangis, lo!".
Anak-anak di Indonesia diberi imajinasi bahwa butiran-butiran nasi sisa di piring kita akan bersedih dan bersedu sedan jika kita tidak memakannya.
Sayangnya, pengalaman dan imajinasi kolektif anak-anak Indonesia ini seperti tidak berarti apa-apa. Masih banyak di antara kita yang bahkan sampai dewasa tidak merasa berdosa ketika membuang-buang makanan.
Padahal, tahukah kamu, sisa makanan di piring kita, di meja-meja makan kita, bisa menjadi pemicu masalah lingkungan yang tidak sepele. Salah satunya: kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang bahkan sampai menganggu aktivitas penerbangan.
Apa penyebab kebakaran di TPA? Salah satunya ternyata keberadaan gas metana yang ditimbulkan sampah organik, terutama sampah sisa makanan. Sampah-sampah yang berasal dari dapur-dapur dan meja-meja makan kita.
Berdasarkan laporan laman Katadata, yang bersumber dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sepanjang 2023 ada sebanyak 35 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di seluruh Indonesia yang mengalami kebakaran. Kebakaran itu menimbulkan zat beracun yang membahayakan kesehatan masyarakat di lingkungan sekitar TPA.
Peristiwa kebakaran di TPA Rawa Kucing, Kota Tangerang, Banten, pada 20 Oktober 2023 bahkan sempat mengganggu penerbangan. Sebab, TPA tersebut berdekatan dengan Bandara Soekarno Hatta.
Sisa makanan atau food waste memang sampai sekarang masih jadi masalah krusial di Indonesia.
Laman Antara menulis, menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, total terdapat 19,4 juta ton timbulan sampah pada 2023.
Dari jumlah tersebut, 41,76 persen di antaranya merupakan sampah sisa makanan.
Persentase sampah sisa makanan jauh lebih besar dibandingkan sampah anorganik, misalnya sampah kertas (11,02 persen) dan sampah plastik (18,39 persen).
Menurut Indonesia Environment & Energy Center (IEC), sisa makanan memang punya banyak dampak negatif yang memicu masalah lingkungan. Di antaranya kemunculan limbah air lindi yang mencemari tanah, kemunculan gas metana yang memicu pemanasan global, hingga terjadinya krisis pangan.
Mengetahui betapa mengerikannya risiko yang bakal terjadi, masih tegakah kita menyia-nyiakan makanan di piring kita?
Kalau makan nggak habis, nanti buminya nangis, lo!
(Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI)



Komentar
Posting Komentar