Luzaf Kazia
Cerpen Mazka Hauzan
(Dimuat di Flores Sastra, 30 November 2016)
Jarum panjang jam telah berputar dua kali sejak Kazia mulai duduk di bangku taman ini. Namun, ia tak kunjung beranjak pergi. Terpaan angin malam yang menusuk sumsum hampir-hampir tak ia indahkan. Berulang kali ia menggerak-gerakkan tubuh dengan gelisah, menimbulkan bunyi berkeriut pada bangku reot yang ia duduki. Ujung-ujung kemejanya mengusut karena jemari lentiknya tak henti memilin-milin. Pandangannya lurus ke arah jalan di sebelah timur taman yang telah lengang. Dari sanalah Luzaf, lelaki yang tengah ia nanti kedatangannya, ia perkirakan akan muncul. Sesekali ia menolehkan kepala ke kanan-kiri, menegaskan bahwa di taman kota yang tak cukup terawat ini, ia nyaris sendiri. Hanya ada dirinya, seorang pengemis paruh baya yang tengah menghitung pendapatan hari ini, dan laron-laron yang mengerubuti lampu-lampu taman.
“Lumayan....” Samar-samar, gumaman si pengemis paruh baya terdengar oleh Kazia. Begitu si pengemis pergi, tinggallah Kazia seorang diri. Laron-laron itu tak lagi masuk hitungan begitu ia sadar mereka bukan orang.
Malam semakin hening dan kelam, tapi Luzaf belum juga tiba. Bersamaan dengan tercipta-sempurnanya atmosfer sepi yang mengepungnya, Kazia merasakan sesak di dada. Pada sepasang matanya mulai bermunculan kaca-kaca, yang ia tahan-tahan sekuat tenaga agar tidak meleleh menjadi air mata.
Angin malam semakin giat menerjang. Menggigillah Kazia. Ia menekuk lutut dan memeluk kedua kakinya, serta membenamkan kepalanya di sana. Berdiam dalam posisi itu, rasa kantuk perlahan menghampiri. Kazia pun tertidur. Di atas bangku taman reot. Seorang diri.
Entah berapa lama Kazia tertidur. Mungkin tak seberapa lama, sebab langit di atas masih hitam pekat, belum berubah warna. Begitu terbangun, posisi Kazia sudah berbeda dari saat kali pertama ia tertidur. Kini ia terbaring menyamping, meringkuk di atas bangku taman reot ini, berbantalkan paha seorang pria yang tengah menunduk terpejam.
“Luzaf?” bisik Kazia sembari mendongakkan kepala.
Si pria membuka mata. Senyum terbit di wajahnya. “Sudah bangun?”
Hening menyergap tiba-tiba.
Dalam jeda hening yang tak lama, kaca-kaca di mata Kazia yang sebelumnya telah membeku diterpa sepi dan angin malam akhirnya meleleh juga.
“Kamu lama sekali....”
***
Kazia….
Bagaimana aku harus mengenangmu, jika kamu hanya berkelebat sekedipan mata, dan tak memberiku kesempatan untuk yakin bahwa kamu pernah ada? Bahkan, adakah peristiwa yang terjadi di antara kita pada masa lalu, yang bisa kita anggap sebagai suatu perjumpaan?
Lantas, jika perjumpaan di antara kita memang tak pernah ada, bagaimanakah aku harus menjelaskan pada jantungku, mengenai degup dan desir yang telah sekian lama menderu? Bukankah rindu mensyaratkan pernah bertemu?
Sore itu langit pekat-kelabu. Hujan turun dengan cara yang amat memuakkan, hanya memperburuk raut sendu manusia-manusia yang tengah menyembunyikan diri dari langit di bawah kanopi sebuah bangunan tua. Aku baru saja meminggirkan sepeda motorku, kemudian tubuhku yang nyaris kuyup segera menjejalkan diri ke dalam kerumunan manusia yang kelihatannya, dari cara mereka menampakkan raut muka, sama sepertiku: baru saja diperkosa rutinitas kerja. Rutinitas kerja yang tak memberi mereka apa-apa, selain kesempatan untuk melanjutkan hidup dengan ala kadarnya.
Sesungguhnya aku benci berada di sini, di tengah kerumunan manusia yang tak sedikit pun saling bercakap-cakap ini. Aku benci berada di sini, sebagaimana aku membenci hujan yang turun di sore yang memuakkan ini. Aku membenci hujan yang turun di sore yang memuakkan ini, sebagaimana aku membenci mereka yang berkerumun di sini. Aku membenci mereka yang berkerumun di sini, sebagaimana aku membenci diriku, yang tak memiliki cukup kepandaian untuk sekadar merasakan bahagia. Bahagia yang oleh banyak orang dianggap perkara yang amat sederhana. Ah, jika bahagia memang sederhana, sedungu apakah aku yang tak bisa merasakannya?
Sepertinya, terlalu sibuk membenci telah membuatku tersisih dari waktu dan kehidupan. Entah bagaimana, tahu-tahu, kerumunan ini telah buyar. Rupanya hujan telah reda. Guyuran air yang deras dan tebal menjelma rintik-rintik kecil yang tak lagi menakutkan. Tahu-tahu, orang-orang telah menjauh dari pandangan, meninggalkan beranda bangunan tua yang baru saja mereka singgahi, tanpa berterima kasih terlebih dahulu.
Sepertinya, terlalu sibuk membenci telah membuatku linglung. Aku belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi, ketika di bawah kanopi ini, hanya tersisa kamu dan aku. Tahu-tahu kamu lewat. Tahu-tahu kamu tersenyum memandangku dan berlalu. Tahu-tahu kamu bernama Kazia. Tahu-tahu aku merasa bahagia. Tahu-tahu bahagia itu sirna. Menjelma rindu yang menyiksa. Adakah hidup memang sesingkat ini?
***
Luzaf….
Ah, bodohnya aku, bagaimana kamu bisa bernama Luzaf, sedangkan tak sepatah pun kata kita pertukarkan pada sore yang sendu itu? Bagaimana aku menantimu, tanpa tahu apakah kamu tahu aku menantimu? Bagaimana aku mengharapkanmu berlari, tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu, atau bahkan, tanpa memberitahumu tentang perlombaan lari yang mesti kamu menangi?
Agar aku semakin yakin akan kebodohanku, biar kujawab sendiri: aku hanya yakin. Aku hanya memercayai firasat yang berkelebat singkat di sore yang pekat itu. Aku hanya meyakini senyum canggungmu yang merupakan balasan atas senyumku yang tak kalah canggung di sore itu. Aku hanya yakin kamu akan datang. Entah kapan. Entah bagaimana. Entah bersama hujan dan pakaian setengah basah ataupun tidak. Bersama gigil dan senyum canggungmu ataupun tidak.
Semalam, dalam tidurku yang tak nyenyak, aku bermimpi tertidur di atas bangku taman reot ini. Dalam mimpiku, aku tertidur dalam penantianku yang sepenuh rindu. Rindu yang penuh. Memenuhi dadaku hingga sesak dan sakit. Hingga sedih. Hingga mataku hangat oleh air yang diciptakan oleh kesedihan itu. Kesedihan itu nyata. Air mata itu nyata. Tumpah meruah begitu aku bangun tidur. Bangun tidurku di alam mimpi, maupun bangun tidurku di alam sadar. Hanya saja, di alam mimpiku kamu telah datang untuk menyaksikan buncahan rinduku. Menyaksikan lelehan air mataku. Di alam sadar, hanya tempat tidurku, remang cahaya lampu meja, dan udara dingin pagi buta yang menjadi saksi rasa. Bukan saksi mata, karena kasur, cahaya lampu meja, dan udara pagi buta hanya mengerti rasa, tak mengerti citraan mata.
Kini, bertemankan cahaya mentari yang belum lama menyeruak dari ufuk timur, dengan rindu yang masih sepenuh biasanya, aku duduk di atas bangku reot ini. Menelusuri mimpiku. Memandang lesu ke arah jalan di sebelah timur taman yang nyaris tak bernyawa ini. Berharap kamu datang menghampiriku.
Mataku menangkap sebuah sosok. Seorang pria dengan langkah-langkah yang sedikit terengah. Semakin ia mendekat, kian nampak bahwa usianya telah mendekati senja. Kegetiran terbaca dari pakaiannya yang lusuh dan tatap matanya yang sayu. Aku seperti pernah melihatnya, tapi tak yakin kapan dan di mana. Barangkali rindu memang memancing deja vu. Begitu langkahnya memasuki area taman, pria itu menundukkan kepala dan menengadahkan kedua tangan. Sebelum ia menurunkan kembali kedua tangannya, sambil menangkupkan telapak tangan ke wajah, sayup-sayup aku mendengarnya berucap, “Aamiin.”
Bhakti Persada Indah, 24 Agustus 2016

Komentar
Posting Komentar