Drum Minyak dan Peluit
oleh Mazka Hauzan
(Juara 2 Lomba Menulis Cerpen Nasional Gelis#2 (Gerakan Menulis #2) yang diselenggarakan oleh HIMA PGSD Kampus II FIP Universitas Negeri Yogyakarta, 2020)
Dalam pelukanku, Sabina menangis meraung-raung, menjerit-jerit sampai serak memanggil ayahnya, meski ia tahu sang ayah telah tiada: gugur sebagai syuhada. Tangannya menggapai-gapai, hendak meraih jasad sang ayah di balik punggungku, yang telah terbungkus kafan dan siap dikebumikan. Kubawa Sabina menjauh dari pekuburan. Sekian menit kemudian, telingaku menangkap sayup suara azan. Tak mampu lagi kutahan, air mataku menetes-netes. Dadaku sesak bukan buatan.
Tuhan…. Mengapa… mengapa menjadi orang lemah terasa begini menyakitkan?
***
Tlg kirimi ayah pulsa 100 rb di nmr 08xxxx ya. Penting. Ayah sdg di kantor polisi.
Pesan singkat itu masuk ke ponsel Sabina sepuluh menit lalu. Ia baca pesan itu berulang kali. Hari gini, siapa saja yang telah terbiasa menggunakan ponsel untuk berkomunikasi dan bersedia memakai nalar sedikit saja akan tahu bahwa pengirim pesan itu hanyalah penipu kelas kotoran teri yang sedang mencoba peruntungan. Hanya bocah ingusan paling lugu yang barangkali akan menganggap serius pesan semacam itu. Sabina yang sudah bukan bocah (usianya kini lima belas) tahu itu. Bahkan, seandainya saat ini ia masih bocah, lugu, dan ingusan, ia akan menjadi pengecualian: ia tetap akan tahu bahwa pesan itu muslihat belaka. Namun, ada suatu hal yang membuatnya terus memandangi layar ponsel yang menampilkan pesan itu.
Dua tahun silam, dua orang polisi datang ke rumah dan mengabarkan kematian ayah Sabina. Sekejap setelah menerima kabar itu, Sabina menangis menjerit-jerit sampai hilang kendali dan tak sadarkan diri. Sekarang Sabina menangis lirih. Sayup-sayup, benaknya menyuarakan harapan yang ia sadari mustahil terwujud.
“Seandainya pesan singkat di layar ini betul-betul dari Ayah....”
***
Sabina adalah keponakanku, putri tunggal dari satu-satunya kakak lelakiku. Kusayangi ia sebagaimana lazimnya para paman menyayangi keponakannya. Sebelum anakku sendiri lahir, aku menganggapnya sebagai putriku. Kini, setelah putra kandungku lahir, Sabina tetap jadi putriku.
Kesakitan Sabina adalah ratusan kali lipat kesakitanku. Maka, ketika kemarin dua polisi mengabarkan kematian kakakku, sebilah belati menusuk dadaku, dan ratusan belati lainnya menyusul ketika Sabina menangis sampai pingsan.
Kakakku ditemukan tewas dengan tangan terikat. Tubuhnya dijejalkan dalam sebuah drum minyak. Ia dicampakkan begitu saja ke jurang. “Manajer PT X Ditemukan Tewas Mengenaskan dalam Sebuah Drum”. Judul-judul berita semacam itu segera menyebar di berbagai media daring pada hari yang sama ketika kakakku ditemukan tewas.
Drum minyak itu adalah penghinaan luar biasa bagiku. Dadaku mendidih, amarahku meluap, tapi tak tahu mesti kutumpahkan ke mana. Bukan. Sebetulnya bukan begitu. Aku tahu kepada siapa amarah ini seharusnya kutumpahkan. Namun, aku tak tahu bagaimana caranya. Aku tak punya daya. Aku lemah.
***
Orang-orang memberi tahu Sabina, satu-satunya kesalahan yang membuat sang ayah sampai mati mengenaskan adalah bahwa sang ayah memutuskan untuk menjadi peniup peluit. Lebih-lebih, ayah Sabina meniup peluit dengan terlalu kencang. Tiupan peluit itu telah membuat banyak orang berang. Dan membuat orang lain berang, terlebih jika ia orang “besar” yang memiliki status sosial jauh di atasmu, adalah kesalahan fatal yang harus dibayar dengan ketakutan, kesepian, bahkan kematian.
Dua tahun telah lewat semenjak ayah Sabina dikabarkan mati. Selama itu, dibantu orang-orang terdekatnya, Sabina berusaha mengikis kesedihan yang membatu dalam dada sedikit demi sedikit. Namun, batu kesedihan itu tidak pernah benar-benar musnah. Tiap kali berhasil menenangkan diri sekian waktu, setelahnya selalu saja ada hal yang membuat Sabina teringat pada tragedi yang menimpa ayahnya. Pesan modus penipuan murahan yang hinggap di ponselnya pagi ini adalah salah satu contoh. Dadanya sesak. Ingatan tentang sang ayah datang mendesak-desak.
***
“Aku tidak bisa terus begini,” ucap kakakku lirih. “Aku mulai merasa berdosa. Selama ini aku memberi makan Sabina-ku dengan penderitaan para nelayan.”
Aku diam. Pikiranku mendadak buntu. Aku syok mendengar cerita kakakku sebelumnya. Lidahku kelu. Secangkir kopi di hadapanku telah dingin, sebelum sedikit pun kusentuh.
“Ketika kemarin dia berulang tahun kedua belas, aku mulai sedih, mengingat bahwa pertumbuhan daging dan tulangnya berasal dari nafkah haram yang kuberikan,” lanjut kakakku.
Aku menelan ludah. Rasanya ada batu yang mengganjal kerongkonganku. Lalu, akhirnya aku mampu berkata, meski dengan suara bergetar. “Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak awal Kakak menolak perintah bos besar itu?”
“Dulu aku belum merasa ini perbuatan salah. Yang ada dalam pikiranku ketika bos besar menawariku dulu, aku bisa membahagiakan Sabina-ku dengan uang yang banyak. Apalagi setelah ibunya meninggal, aku ingin menutupi kesedihannya dengan rumah yang lebih bagus, jalan-jalan ke luar negeri, hal-hal semacam itu,” ucapnya dengan kepala tertunduk.
Dadaku masih bergemuruh. “Lalu kenapa sekarang Kakak tiba-tiba sadar?”
Hening sejenak. Kakakku menatap ke luar jendela kedai. Satu jam lagi kedai ini tutup. Tak ada pelanggan lain selain kami berdua.
“Kamu tahu Linda, kan?” tanya dia tiba-tiba, setelah seorang pemulung melintas di depan jendela kedai sambil memanggul karung.
“Sahabat dekat Sabina itu?”
“Betul.”
“Apa hubungannya dengan dia?”
“Sudah seminggu ini dia berhenti sekolah. Dia ikut ibunya jadi petugas kebersihan. Sedangkan ayahnya sudah beberapa pekan tidak melaut. Tak mampu beli solar, katanya.” Mata kakakku berkaca-kaca. Itu mata yang penuh penyesalan.
“Lalu apa rencanamu, Kak?”
“Akan kutiup peluitnya.” Ia berbisik ketika mengucapkan itu. Namun, aku merasakan keyakinan sekukuh batu karang di balik bisikan itu.
***
Pagi itu, sebagaimana pagi-pagi yang sudah-sudah, sebelum berangkat sekolah, Sabina menyeduhkan kopi untuk sang ayah. Pekerjaan itu ringan saja bagi Sabina, sebab kopi yang sehari-hari diminum sang ayah adalah kopi saset.
Saban pagi, Sabina cukup mengambil secara acak salah satu dari bersaset-saset kopi aneka merek dan aneka varian dalam lemari, kemudian menyeduhnya dengan air panas. Kopi mana pun yang ia buat, sang ayah akan menikmati dengan senang hati.
Namun, bagi Sabina, kelihatannya pagi itu sang ayah menyeruput kopi dengan hati tidak sesenang biasanya. Beberapa hari belakangan, meskipun samar, ayah Sabina menunjukkan gelagat tidak biasa. Jika hendak mengangkat panggilan yang masuk ke nomor ponselnya, ia memerlukan diri melangkah ke tempat di mana suaranya tak dapat Sabina dengar. Padahal, selama ini ia biasa saja berbincang di telepon ketika tengah bersama Sabina. Pagi ini pun, sebelum menyeruput kopi seduhan Sabina, ada telepon yang ia angkat, yang membuat wajahnya sedikit pucat.
“Ayah baik-baik saja?”
Ayah Sabina memaksakan senyum. “Iya, Ayah baik-baik saja. Memang kelihatannya bagaimana?”
“Apa Ayah sedang ada masalah?”
“Tidak, Ayah baik-baik saja.”
Sabina menatap sang ayah curiga tanpa berkata-kata.
“Sudah hampir pukul tujuh, kamu tidak berangkat?”
“Oh, iya, Sabina berangkat dulu, Yah,” ucap Sabina, lantas mencium tangan sang ayah.
Sebetulnya ada suatu hal yang membuat Sabina kurang bersemangat berangkat sekolah, tapi ia belum menceritakannya pada sang ayah. Lidia, sahabat baiknya di kelas, sudah sepekan tidak bersekolah. “Aku harus bekerja. Adikku butuh susu. Sudah sepekan lebih Bapak tidak melaut.” Begitu penjelasan Lidia.
***
Sudah dua tahun lewat sejak kematian kakakku dan belum ada media yang mengabarkan pengungkapan kasusnya. Mereka tidak tahu, atau mungkin pura-pura tidak tahu, bahwa penyebab kematian kakakku, adalah karena ia bertobat, kemudian memutuskan untuk menjadi peniup peluit.
Sebelum keputusan itu ia ambil, aku sudah coba memperingatkan, bahwa tiupan peluitnya akan mengganggu seseorang yang sangat kuat. Seseorang yang kewenangannya melebihi polisi, hakim, dan jaksa mana pun di kota pesisir ini. Namun, kakakku teguh pendirian.
“Apapun risikonya,” ujarnya. “Seandainya terjadi sesuatu padaku, tolong jaga Sabina.”
***
Inilah cerita kakakku di kedai kopi malam itu, yang membuatku syok sampai pikiranku terasa buntu. Ia bercerita sambil menunjukkan sebuah koper yang penuh berisi uang.
“Inilah uang yang diberikan bos besar padaku. Dia memerintahkan aku menggunakan uang ini untuk bertransaksi di tengah laut, memaksa kapal bermuatan solar bersubsidi untuk ‘kencing’. Solar bersubsidi yang merupakan hak para nelayan itu hendak dibeli perusahaan multisektor tempatku bekerja. Sebagian dari solar itu akan digunakan untuk bahan bakar kapal penumpang milik perusahaan dan sebagian lainnya akan dijual kembali kepada para penambang liar.”
Catatan:
1. Dalam cerpen ini, tanda asterisk (*) digunakan untuk menandai pergantian sudut pandang dan/atau latar waktu dalam cerita.
2. Istilah “peniup peluit” dalam cerpen ini mengacu pada istilah “whistle blower”, yakni pelapor pelanggaran atau orang yang merupakan karyawan, mantan karyawan, pekerja, atau anggota dari suatu institusi atau organisasi yang melaporkan suatu tindakan yang dianggap melanggar ketentuan kepada pihak yang berwenang. (Wikipedia)
Semarang-Pati, 28 November 2017 - 13 Juni 2020

Komentar
Posting Komentar