Langsung ke konten utama

Balsam untuk Ayah

Balsam untuk Ayah

Oleh Mazka Hauzan

(Dimuat di Rubrik Budaya Harian Rakyat Sumbar, Sabtu 16 April 2016)


Harum Harsa. Begitu nama lengkap gadis manis berusia enam tahun itu. Almarhum ayahnya yang memberikan nama itu, akronim dari "Harapan Umat Harapan Bangsa". Hebat sekali, bukan?

Namun, sayang, sejak sang ibu menikah lagi dengan seorang pria berwajah-indah-namun-berhati-parah setahun lalu, hidup Harum seperti tanpa harapan. Jangankan harapan untuk umat dan bangsa, untuk diri sendiri pun nyaris tak ada.

Hampir setiap hari semenjak ia mendapat ayah baru, di atas panggung kehidupannya yang tidak lebih megah dari balai RW, selalu tersaji drama, yang meski skenarionya selalu berganti setiap hari, memiliki tema besar yang sama: KDRT. Judul drama harian itu pun selalu mirip satu sama lain. Kemarin, judul drama yang dipentaskan adalah "Ayah Kalah Judi, Gampar Ibu Sampai Hampir Mati". Kemarin dulu, "Masakan Ibu Selalu Terasa Hambar di Lidah Ayah". Dalam dua judul drama itu dan dalam kebanyakan judul drama lain, Harum hanya berperan sebagai figuran. Namun, dalam pementasan drama Minggu pagi ini, Harum mendapat “kehormatan” untuk memainkan peran penting. Judul drama pagi ini "Piring Tersenggol, Pecah, Ayah Marah-Marah, Kulitku Dibuat Merah-Merah".

Kalian tentu bisa menebak, dalam setiap pementasan drama itu, akhir cerita selalu menyedihkan bagi Harum dan sang ibu. Kalian tentu juga bisa menebak, hanya ada tiga orang pemeran tetap dalam drama-drama itu: ayah tiri Harum, ibu Harum, dan Harum sendiri. Tokoh antagonisnya juga selalu sama: Ayah tiri Harum.

Kasihan Harum. Kasihan ibu Harum. Kasihan juga ya, ayah tiri Harum. Kasihan, kasihan, kasihan.

***

Oh ya, drama yang dipentaskan hari ini, yakni drama di mana Harum mendapat “kehormatan” untuk memainkan peran penting, merupakan drama dua babak. Babak pertama berlangsung pagi tadi. Skenarionya tentu sudah bisa kalian terka berdasar judulnya. Persisnya begini. Saat sarapan bersama di ruang makan, Harum tidak sengaja menyenggol piring berisi tumis kangkung di dekat sikunya. Piring itu pun jatuh, menimbulkan bunyi gaduh, dan seketika membuat dada sang ayah tiri menggemuruh. Lalu, dengan mulut berlepotan sambal dan jidat berpeluh, sang ayah tiri menegakkan tubuh dan mengumpat dengan volume penuh, “Dasar anak tak tahu diuntung!!!”

Harum terkejut. Ibu Harum lebih terkejut. Harum takut. Ibu Harum lebih takut. Digerakkan naluri keibuan, sang ibu spontan memeluk anak gadis semata wayangnya yang tengah terduduk lemas dengan raut muka menahan tangis.

Sang ayah tiri melangkah cepat ke sudut ruangan. Ibu Harum semakin ketakutan. Sebab, di sanalah tergeletak sapu lidi.

Mau kau apakan Harumku?” batin sang ibu.

Sang ayah tiri mencabut tiga helai lidi dari ikatan. Lalu, dengan gerakan jambret, ia renggut Harum dari pelukan sang ibu.

“Jangan!” teriak ibu Harum sambil berusaha merengkuh Harum ke dalam pelukannya lagi. Namun, ia jatuh terduduk terdorong tangan pria itu.

Adegan selanjutnya sungguh mengiris hati. Sang ayah tiri dengan ganas menyabet-nyabetkan lidi-lidi itu berulang kali ke tangan dan kaki Harum yang tak bertungkus. Harum menangis menjerit-jerit. Ibu Harum pun bangkit. Direngkuhnya Harum ke dalam pelukan sekali lagi. Kali ini sang ayah tiri tidak lagi mendorong jatuh.

“Pagi-pagi sudah bikin marah!” Begitulah ucapan terakhir dalam skenario drama babak pertama itu. Kalian tentu tahu siapa pemeran yang berhak mengucapkannya.

Akhirnya, babak pertama ditutup dengan adegan Harum menangis tersedu-sedu dalam pelukan sang ibu. Tak ada dialog. Hanya ada tangisan dan rengkuhan.

***

Babak kedua berlangsung sore hari. Amarah ayah tiri Harum yang stoknya memang selalu melimpah itu kembali tumpah meruah. Piring pecah itu masih jadi penyebab. Kali ini, bukan suara gaduh piring terjatuh yang membuat dada pria itu mengguruh, melainkan pecahan kaca dari piring itu, yang masih tertinggal di lantai ruang makan, tak ikut tersapu. Beling seruas jari telunjuk orang dewasa itu melukai telapak kakinya. Darahnya luruh. Pria itu pun mengaduh-riuh.

Harum yang mendengar aduhan ayah tirinya pun segera datang menghampiri. “Kenapa, Yah?” tanya Harum dengan sorot mata bening-surga. Tak ada dendam di sana.

“Kenapa, Kenapa!!! Lihat, gara-gara kamu, kakiku luka!”

Kalian lihat, bahkan pria itu berkata “kakiku”, bukan “kaki ayah”. Ia memang tak pernah menganggap Harum sebagai anak, sekalipun Harum selalu memanggil dia ayah. Padahal, dulu, saat merayu ibu Harum agar mau dinikahi, pria bermuka manis itu berkata, “Anakmu adalah anakku juga. Ya, Harum adalah anakku. Darah-dagingku. Jiwa-ragaku.”

Dengarlah, lidah sakti pria itu berucap “Anakmu adalah anakku juga”. Bukan “Anakmu akan kuanggap sebagai anakku juga”. Gombal busuk!

Mendengar kegaduhan di ruang makan, ibu Harum pun datang. Bahkan, sebelum mengetahui peristiwa apakah gerangan yang menyebabkan aduhan riuh sang suami kedua, secepat kilat ia langsung memeluk erat tubuh anak gadis kesayangannya.

“Ya, ya, ya. Peluk saja terus anakmu itu! Peluk terus! Jangan sampai lepas! Agar dia tidak berkeliaran di jalan dan mati tertabrak mobil seperti ayahnya yang ceroboh itu,” lidah liar pria itu mendesiskan kata-kata tajam.

Harum yang tak mengerti apa-apa hanya tertegun menahan isak. Ketika mendongakkan kepala, ia terheran, mengapa justru air mata sang ibu yang lebih dulu tumpah. Ibunya menangis tanpa suara. Dukanya kali ini tak menimbulkan gelombang suara yang bisa tertangkap telinga manusia.

Harum masih terlalu polos untuk memahami, meski kali ini tak ada serangan fisik yang dilancarkan oleh sang ayah tiri kepada dia atau sang ibu, desis tajam yang dilancarkan lidah liar pria itu sangat melukai ibunya. Berkali-lipat lebih melukai daripada pukulan dan sabetan terganas yang pernah dia terima sekalipun.

Sambil menahan pedih-perih yang teramat hebat, sebuah skenario besar berkelebat dalam kepala sang Ibu.

***

Esok hari, sebelum sang ibu mengantarkan Harum ke sekolah, skenario itu dipentaskan.

“Harum sayang, tolong belikan balsam di warung Bu Parman ya.”

“Untuk siapa, Bu?”

“Untuk ayah. Ayah meriang. Badannya panas dan pegal-pegal. Mungkin akibat lukanya.”

“Baik, Bu,” jawab Harum dalam nada penyesalan. Ia merasa bersalah telah menyebabkan sang ayah tiri terluka dan sakit.

Kamu tidak perlu menyesal, Harumku yang manis. Luka kecil itu belum ada apa-apanya dibanding pedih-perih yang diberikan pria itu kepadamu dan ibumu selama ini.

Setelah balsam itu diperoleh, adegan selanjutnya pun bergulir.

“Kamu sudah bisa menulis, kan, Sayang?” tanya ibu Harum.

“Sudah, Bu. Kata Bu Guru tulisan Harum bagus,” jawab Harum mantap.

Setelah itu, di atas secarik kertas, Harum menuliskan kata-kata yang didiktekan sang ibu kata per kata. Sesekali Harum meminta ibunya mengeja huruf per huruf untuk kata-kata yang terasa sulit.

***

“Bu, kita mau ke mana? Kenapa bukan ke sekolah?” tanya Harum di dalam sebuah bus antarkota-antarprovinsi.

“Kamu tidak usah sekolah dulu. Tadi ibu sudah minta izin pada Bu Guru. Sekarang kita ke rumah nenek.”

Demi mendengar kata “nenek”, mata bening-surga Harum berbinar-benderang seketika. “Hore! Tapi kenapa ayah tidak ikut, Bu?”

“Tidak perlu.... Ayah, kan, sakit.... Tidak bisa ikut.”

***

Siang menjelang. Sang ayah tiri sendiri meradang. Mengapa Harum dan sang ibu kandung tak kunjung pulang? Padahal lapar telah menyerang. Tak biasanya mereka terlambat pulang. Diteleponnya nomor sang ibu kandung. Tak tersambung.

Berjalanlah ia ke teras rumah. Melongok-longok ia ke jalan, ke kanan dan ke kiri. Kemudian, karena tanda-tanda kepulangan sang anak tiri dan sang ibu kandung tak jua ia dapati, berbalik badanlah ia. Ke dalam rumah ia masuk kembali.

Baru kini ia menyadari, di atas meja tamu, tergeletak sebotol balsam menindih kertas putih. Mata jalangnya menangkap tulisan di sana. Ia ambil kertas itu, terbacalah olehnya tulisan kanak-kanak.

Balsam ini untuk Ayah.

Untuk hangatkan jiwa yang gigil-beku,

dan lenturkan otot-otot kemanusiaan yang kaku.


Bukit Beringin Elok, Mei 2015

Catatan

KDRT : Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Solo, Anggi Ajak Generasi Muda Cegah Distopia Pangan lewat Pertanian Hidroponik

MEMILAH SELADA - Anggi Bitho Lokmanto (35), pemilik kebun Aa818_Hydroponic, tengah memilah sayur selada di lahan yang dia kelola di belakang Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwirul Fikr, Jalan Kabut, Jebres, Kota Surakarta, Jumat (13/6/2025). (Dokumentasi Mazka Hauzan Naufal) Catatan: artikel ini menjadi Juara 3 Apresiasi YDBA (Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra) untuk Pewarta 2025 kategori umum (blog/media sosial) SOLO – Pada masa mendatang, laju pertumbuhan populasi manusia tak lagi bisa diimbangi oleh pertumbuhan produksi pangan.  Pun, lahan-lahan persawahan akan berubah menjadi gedung-gedung hunian manusia yang populasinya terus meroket. Begitulah gambaran kondisi distopia pangan, di mana bumi tidak sanggup lagi menyediakan makanan yang cukup untuk mengisi perut seluruh penghuninya. Di sudut Kota Solo, Jawa Tengah, seorang pemuda bernama Anggi Bitho Lokmanto (35) menolak tunduk pada skenario terburuk masa depan tersebut.  Di kebun bernama Aa818_Hydroponic, ia merawat ...

Jus Tomat

Jus Tomat Cerpen Mazka Hauzan (Naskah Terbaik dalam Lomba Menulis Cerpen Bertema “Kenangan bersama Keluarga” yang diadakan oleh Hyui Publisher, 2018)   Setelah cukup lama menekuri segelas minuman di atas meja kerjanya, Zhafran  akhirnya meneguk isi gelas kaca itu: cairan merah yang berampas putih tipis pada permukaannya.   Dalam setiap teguk, kisah-kisah nostalgia perlahan merasuk. Kisah-kisah itu datang dari masa yang cukup purba dalam hidupnya, ketika duka-nestapa masih sangat sederhana dan tak sedikit pun meninggalkan luka yang berbahaya. Pada masa itu, kesedihan hanya berupa kegagalan meringkus layang-layang putus. Kecewa tentu ada, namun tak seberapa lama. Ia akan hilang bersamaan dengan datangnya senja yang ditandai oleh tepukan tangan Bunda−isyarat untuk segera pulang sebelum azan berkumandang. Tak ada sakit yang mengendap di hati. Luka akan sirna seiring beralihnya musim layangan ke musim kelereng. Tak seperti kini, ketika kesedihan telah menemukan  formula...

Ultrasonografi

Ultrasonografi Cerpen Mazka Hauzan (Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional yang diadakan UKM Pers Politeknik Negeri Padang, 2018) “Anakku, kalau kamu betul-betul membenci penghakiman massa, yang kamu sebut perbuatan biadab dan tidak adil itu, seandainya besok kamu memergoki seseorang mengambil sesuatu yang bukan haknya, janganlah kamu meneriakinya ‘maling’ atau ‘pencuri’. Sebab, jika kamu meneriakinya begitu, orang-orang yang tiga perempat dirinya adalah iblis akan langsung tergerak untuk memukul, menendang, dan membakarnya. Lebih baik kamu meneriakinya ‘koruptor’ atau ‘kapitalis bengis’ saja. Sebab, dengan demikian, orang-orang akan merasa sungkan, bahkan untuk sekadar mencubitnya. Sebaliknya, mereka akan tergerak untuk mencium tangan dan pantatnya.” Aku ingin menyampaikan kata-kata itu pada anakku, kelak ketika ia telah cukup dewasa. Aku hanya perlu menunggu momentum yang tepat. Misal saja, nanti saat ia telah duduk di bangku sekolah menengah atas, suatu hari sepulang sekolah ...