Sabda Leluhur, Patok-Patok, dan Quinjet The Avengers
Cerpen Mazka Hauzan
(Juara 2 Lomba Cerpen Nasional bertema "Ada Apa dengan Indonesia?" yang diadakan oleh LPM Manunggal Universitas Diponegoro, 2019)
Sabda Leluhur I
Sesok ning tlatah Temon kene bakal ono wong dodolan cao nang awang-awang
Tlatah temon kene bakal dadi susuhe kinjeng wesi
Tlatah sak lor Gunung Lanang lan kidul Gunung Jeruk bakal dadi kutho
Glagah bakal dadi mercusuaring bawono
Ngayogyakarto bakal pindah ono sak kulone Kali Progo
(Rangga Warsita, Sabda Leluhur*)
Kelak di tanah Temon ini akan ada orang menjual cincau di langit
Tanah Temon akan menjadi sarang capung besi
Tanah di utara Gunung Lanang dan sebelah selatan Gunung Jeruk akan jadi kota
Glagah akan menjadi mercusuar dunia
Yogyakarta akan berpindah ke barat Kali Progo
***
Salim girang bukan kepalang. Bocah hampir tujuh tahun itu baru saja diberitahu seorang paman berpakaian rapi yang ia jumpai di perjalanan pulang sekolah. Kata sang paman, tak lama lagi di kampungnya akan dibangun sebuah bandara internasional.
“Bandara? Tempat pesawat terbang itu, kan, Paman?” tanya Salim lugu.
“Betul,” jawab si paman singkat.
“Siapa yang mau bikin bandara, Paman?”
Si paman mulai terganggu oleh keberadaan Salim. Ia lantas menjawab dengan enggan, “Pemerintah.”
Mata Salim berbinar-binar. Selanjutnya ia menanyakan sesuatu yang oleh si paman dijawab dengan “ya” singkat, diiringi oleh langkah-langkah menjauh: “Internasional itu, artinya pesawat dari Amerika akan datang ke sini, Paman?”
Tanpa bertanya lebih lanjut, Salim langsung berlari pulang. Hendak ia kabarkan berita gembira ini pada ibunya. Ia membayangkan, kelak ia dapat menyaksikan Quinjet, pesawat super canggih yang biasa dikendarai The Avengers, lepas landas dan mendarat di depan rumahnya.
Sebelumnya, di sekolah, ia baru saja berdiskusi sengit dengan teman-temannya mengenai apakah pesawat Quinjet benar-benar ada. Ya, mereka memang sudah paham bahwa Captain America, Iron Man, Black Widow, dan kawan-kawan mereka hanyalah karakter rekaan belaka. Namun, Salim dan sebagian kawan-kawannya yakin bahwa di Amerika, kampung halaman para pahlawan super itu, pesawat tempur berbentuk burung dan berkecepatan super itu (yang oleh para ahli dianggap sangat tidak aerodinamis) benar-benar telah diciptakan. Bagi Salim, percakapannya dengan si paman sudah cukup untuk membuktikan eksistensi Quinjet.
Era informasi memang luar biasa. Di wilayah pertanian pesisir selatan Jawa, yang mayoritas penduduknya menghabiskan waktu bercocok tanam cabai (belakangan berganti melon dan semangka karena harga cabai anjlok), teknologi futuristik menjadi perbincangan anak-anak.
Sampai di rumah, Salim justru urung menyampaikan kabar gembira. Di ruang tamu, ia melihat ibu dan ayahnya menangis berangkulan. Tergeletak di samping mereka patok-patok kayu yang sepertinya baru saja dicabut. Tanah masih menempel di ujung runcing patok-patok itu. Salim tidak memperhatikan, pada patok-patok itu, tertulis ancaman: “Dilarang memindahkan, merusak, atau merobohkan barang yang ada di dalam lokasi pembangunan bandara. Hukum pidana berlaku!”
***
Sabda Leluhur II
“Tanah adalah kehormatan! Tanah adalah kehidupan! Itulah sabda leluhur kita. Tanah kelahiran kita ini bukan saja sumber penghidupan kita sebagai petani. Tanah yang kita pijak ini adalah asal-usul, pengingat kita akan leluhur. Jika ada yang hendak merampas tanah kita, tidak ada rencana lain selain melawan!”
Dengan mata berkaca-kaca, Marsinah menyampaikan orasi singkat itu pada sebuah pertemuan di rumahnya. Marsinah tak lain merupakan ibu Salim. Orasi itu ia sampaikan di hadapan rekan-rekan seperjuangannya: warga desa yang menolak pembangunan bandara dan orang-orang dari LBH yang mendukung perjuangan mereka.
Jika agak dipaksakan, ujung orasi Marsinah lumayan mirip dengan dialog antara Steve Rogers alias Captain Amerika dengan Tony Stark alias Iron Man dalam The Avengers (2012).
Steve Rogers: Stark, we need a plan of attack!
Tony Stark: I have a plan: attack!
Perkataan Tony Stark dalam dialog yang berlangsung dalam Quinjet, pada adegan ketika Thor membawa kabur Loki yang telah tertangkap itu adalah kata-kata kesukaan Salim, sekaligus satu-satunya kalimat berbahasa Inggris yang mampu ia ucapkan dengan baik.
Salim tentu saja tidak menyadari kemiripan orasi ibunya dengan kata-kata berbahasa Inggris kesukaannya, sebab ia telah tertidur pulas di kamarnya. Oh, bukan, seandainya ia menyaksikan langsung ibunya berorasi, mungkin ia tetap tidak akan mengerti. Seandainya dia mengerti, mungkin dia akan menganggap ibunya lebih hebat dari Iron Man. Sebab, orasi ibunya bukanlah bagian dari skenario sebuah film, melainkan bagian dari sebuah skenario besar untuk mempertahankan tanah warisan leluhur, dan untuk membela Munir, sang suami, ayah Salim, yang pagi tadi ditangkap polisi. Munir dibekuk polisi setelah sehari sebelumnya mencabut patok-patok peringatan yang dipasang oleh pihak pembangun bandara. Pertemuan malam itu dilangsungkan untuk mempersiapkan demonstrasi menuntut Munir dibebaskan dari tuntutan pidana.
Pidato Marsinah pada malam itu sontak membuat hadirin seperti mendapat suntikan energi berdaya besar. Mereka akan terus berjuang. Sebisa-bisanya. Sehormat-hormatnya.
***
Munir divonis tiga bulan penjara. Demonstrasi Marsinah sia-sia belaka. Semenjak Munir dipenjara, semakin banyak warga yang merelakan sertifikat tanahnya kepada pembangun bandara. Jumlah mereka bahkan kini lebih banyak dari warga yang tetap bertahan.
Patok-patok peringatan, yang dulu dicabut Munir dengan geram, telah dipasang kembali. Stiker-stiker bertuliskan kata-kata peringatan yang sama seperti pada patok-patok itu ditempelkan di pintu rumah-rumah yang telah direlakan oleh pemilik sebelumnya. Keadaan semacam itu membuat Marsinah merasa asing di tanah kelahirannya, tanah ia melahirkan Salim. Perasaannya campur aduk. Munir baru akan bebas tiga pekan lagi. Petang hampir datang.
Melihat ibunya murung, Salim bingung. Sebetulnya hanya mengulang-ulang kembali kebingungan yang sama. Ia sudah tahu kalau ibu dan ayahnya tidak suka jika kampung mereka dijadikan bandara. Namun, ia belum pernah tahu alasannya. Bertanya pada ibunya, selama ini ia tak berani. Apalagi, belakangan ini ibunya selalu tampak sibuk: pagi sampai siang di sawah, malam harinya berkumpul bersama orang-orang yang dalam hati ia sebut sebagai “orang-orang yang tidak menyukai bandara”.
Di kepala Salim, masih terbayang Quinjet. Ia masih ingin melihat pesawat itu datang dari Amerika. Terlebih lagi, ia telah membual pada teman-temannya: ia telah diberi tahu oleh seorang paman pembangun bandara bahwa jika bandara sudah jadi, Quinjet akan datang setiap hari Minggu.
Kenapa ibu tidak suka? Sore itu ia beranikan bertanya. Dihampirinya ibunya yang tengah lesehan di teras rumah, menatap kosong ke warna cokelat tanah.
“Bu?” Dengan takut-takut, dicobanya mencuri perhatian sang ibu. Yang dipanggil tidak menyahut.
“Bu?” Salim mengulang lagi usahanya. Gumaman singkat pun terdengar. “Hmm ”
Selanjutnya hening. Salim sedang mengumpul-ngumpulkan keberanian untuk bertanya, sampai akhirnya sang ibu bertanya lemah, “Ada apa, Nak?”
“Anu, Bu. Salim boleh nanya?” Anggukan pelan ia dapatkan. “Kenapa Ibu dan Ayah tidak suka kalau di kampung kita dibangun bandara? Kan, nanti setiap hari kita bisa melihat pesawat.”
Tanpa Salim duga sedikit pun, mata sang ibu memerah. Dengan air mata bercucuran, Marsinah berkata dengan nada meninggi, “Kita ini petani, turun-temurun dan selamanya akan jadi petani! Bagi petani, tanah adalah nyawa!”
Salim ketakutan. Sedikit pun ia tak mengerti maksud perkataan ibunya.
Sekonyong-konyong, pecahlah tangisnya.
Marsinah menyadari kekeliruannya. Kekacauan pikiran dan batinnya membuatnya tak berpikir panjang. Tadi, kata-katanya yang berselimut amarah keluar begitu saja, dipantik oleh pertanyaan Salim. Segera ia rangkul Salim-nya.
“Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu ”
Kali ini, peristiwa tangis berangkulan itu tak dihiasi patok-patok peringatan yang telah dicabut.
***
Sehari setelah bebas, Munir berkeliling desa dengan kekalutan luar biasa. Ia telah mengetahui, bahwa sebagian besar warga yang dulu gigih menolak pembangunan bandara kini telah berbalik mendukung. Ia kecewa. Amarahnya terpantik begitu ia melihat sebuah patok peringatan, yang dulu menjadi penyebab ia harus dibui, menancap tak jauh dari sawah milik keluarganya. Ditendangnya patok itu sampai patah.
***
Sore itu terjadi keributan. Ada kerumunan warga. Salim kebingungan ditarik ibunya memasuki kerumunan. Ia melihat ayahnya di sana tergeletak dengan wajah lebam. Di dekat kaki sang ayah, seorang pria berdiri dengan kedua tangan terkepal. Salim mengenal pria itu. Seketika, keinginannya untuk melihat Quinjet menguap tanpa sisa.
Catatan:
* Januari 2017 lalu, Presiden Joko Widodo membacakan sajak ini dalam acara "Babat Alas Nawung Kridha" pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo. Sajak ini disebut-sebut merupakan gubahan Rangga Warsita, Pujangga Kasunanan Surakarta (meninggal pada 1873).
Namun, dalam sebuah artikel berjudul “Menyimak ‘Sabda Klandestin’ dalam Kinjeng Wesi (The Invation) di Yogyakarta” yang ditulis oleh Didid Haryadi dan dimuat dalam nyalaaksara.wordpress.com, disebutkan bahwa Anung Tedjowirawan, Dosen FIB UGM, meragukan keterangan bahwa sajak Sabda Leluhur adalah benar-benar karya Rangga Warsita. Menurutnya, dari segi bentuk dan isinya, "Sabda Leluhur" tidak sesuai dengan karakter karya-karya Ranggawarsita.

Komentar
Posting Komentar