Langsung ke konten utama

Rumah Miring di Karangbolong



Rumah Miring di Karangbolong

Cerpen Mazka Hauzan

(Juara 3 Lomba Cerpen tingkat Nasional yang diadakan HIMA PGSD Kampus II FIP Universitas Negeri Yogyakarta, 2019)

Jumani kelabakan, seharian ini ponselnya berdering sambung-menyambung nyaris tanpa jeda. Ia diserbu panggilan telepon,  SMS, dan Whatsapp. Orang-orang mencecarnya dengan perkara yang sama: mengenai rumah seorang warga desanya yang sebagaimana viral di media sosial, kondisinya miring nyaris roboh.

"Betul itu wargamu? Tolong segera diatasi. Beritanya kadung viral. Malu kita!" sembur Pak Camat via telepon.

"Boleh minta alamat lengkap rumah itu, Pak? Kami siap kirim bantuan sekarang juga." Kalau ini pesan WA dari aktivis lembaga sosial.

Pesan-pesan sejenis terus berdatangan. Berbagai kalangan menanyakan hal serupa. Termasuk para wartawan, baik yang berniat cari berita valid atau yang berniat cari amplop solid.

Segala kegaduhan ini bermula dari sebuah unggahan di Facebook. Akun bernama "Bunda Malaikat" mengunggah foto seorang perempuan paruh baya tengah duduk di depan rumah yang kondisinya tampak memprihatinkan: rumah berdinding anyaman bambu itu telah doyong, nyaris rebah ke tanah. Beberapa batang bambu tampak menyangga dinding rumah untuk menjaganya agar tidak ambruk.

Sosok perempuan itu ialah Basinah, janda beranak dua di Desa Karangbolong, desa di mana Jumani dipercaya jadi petinggi.

Jumani, kepala desa yang baru menang Pilkades setahun lalu itu, meringis membaca tulisan warganet di kolom komentar unggahan itu.

"Kepala desanya buta ya?"

"Dana bedah rumahnya pasti dikorupsi perangkat desa."

"Ya Allah. Semoga pintu hati kepala desanya dibuka oleh-Nya. Kasihan ibu itu."

Ada ribuan komentar pada unggahan itu, mayoritas bernada serupa: menyalahkan kepala desa. Warganet menganggap sang kepala desa abai terhadap kondisi warganya.

***

Sore itu, sebagaimana sore-sore sebelumnya semenjak suaminya meninggal di pertambangan batu kapur empat tahun lampau, Basinah duduk melepas lelah seorang diri di balai-balai depan rumah.

Hari ini cucian titipan tetangga cukup banyak. Total jenderal, ia perkirakan ada lima belas kilogram pakaian kotor yang ia tangani. Itu hanya perkiraan kasar. Basinah tak punya timbangan. Ia juga tidak mematok tarif per kilogram. Lebih tepatnya, ia tidak mematok tarif berdasarkan perhitungan apa pun. Ia biasa dibayar "seikhlasnya".

Dengan bayaran seikhlasnya atas jasa kucekan tangannya itu, ditambah bantuan tunai maupun nontunai dari pemerintah (setelah ia didaftarkan sebagai orang miskin oleh kepala desa), Basinah mencukupi kebutuhan makan-minum diri dan kedua anak lelakinya.

Meski terdaftar secara resmi sebagai warga miskin, Basinah kerap lupa dirinya miskin. Barangkali karena kondisi hidup macam begini telah ia rasakan sejak lahir, jadi tidak ada yang aneh. Basinah merasa baik-baik saja.

Basinah hanya akan merasa sengsara jika kedua anaknya lapar. Namun, ia bersyukur, bahkan sejak suaminya pergi, keluarganya tak pernah sehari pun kurang makan. Sekalipun hanya secentong nasi dan seciduk sayur bayam untuk masing-masing perut dalam sekali waktu makan, keluarganya tak pernah terancam mati kelaparan. Bahkan, sekalipun sedang tak ada uang untuk beli beras, keluarganya tetap bisa mengisi perut dan tidur dengan nyaman.

Basinah punya tetangga-tetangga baik. Mereka tak jarang memberinya sepiring singkong rebus atau ubi goreng. Ia juga hidup di lingkungan masyarakat yang cukup agamis. Setiap kamis malam, Basinah bisa menghemat pengeluaran makan. Sebab, ia selalu membawa pulang nasi berkat yasinan.

Setiap malam Jumat, ia dan kedua putranya bisa makan enak. Bertiga, mereka lahap bersama sebesek nasi dengan aneka lauk dan sayuran. Besek nasi berkat yasinan biasanya berisi sebutir telur rebus, acar wortel dan mentimun, oseng kacang panjang, sambal goreng kentang, dan sepotong ikan asin atau secuil semur daging.

Sekali lagi, sekalipun resmi terdaftar sebagai penduduk miskin, Basinah hampir tak pernah merasa miskin. Hanya setahun sekali ia ingat bahwa keluarganya miskin, yakni ketika orang-orang dari dinas sosial melakukan pendataan ulang penerima bantuan sosial. Di luar itu, ia tak pernah menyadari kemiskinannya.

Mengenai kondisi rumahnya, ia tak pernah mempermasalahkan. Ia bersyukur, dengan bantuan pemerintah desa, ia dan kedua putranya masih bisa berlindung dari hujan, angin malam, dan terik mentari siang hari. Meski ada sebagian atap yang bocor, setidaknya bukan di kamar tidur.

Sore itu, lamunan Basinah buyar ketika secercah cahaya menerpa wajahnya. Tanpa aba-aba, seorang perempuan memotretnya menggunakan kamera ponsel. Sekejap setelahnya, setelah mengucap permisi, perempuan itu pergi.

Setengah jam kemudian Basinah melihat Tasripin, seorang tetangga, berjalan pulang dengan karung tersampir di bahu.

"Dapat banyak hari ini, Pak Tasripin?" tanya Basinah berbasa-basi ketika Tasripin melewati halaman rumahnya.

"Alhamdulillaah, Bu," jawab Tasripin diiringi seulas senyum. Isi karungnya tampak menggeliat sesekali.

Orang-orang seperti Tasripin adalah salah satu alasan Basinah merasa malu jika tidak bersyukur. 

***

"Saya justru berterima kasih, Mas. Artinya orang-orang masih peduli pada sesama."

Jawaban itu yang kali pertama diterima Ipung dari Jumani, Kepala Desa Karangbolong, ketika ia meminta tanggapan tentang kondisi rumah Basinah yang ramai diperbincangkan di media sosial.

Hari itu, dengan sedikit terpaksa, Ipung menempuh lima puluh menit perjalanan sepeda motor dari indekosnya menuju Kantor Desa Karangbolong. Pagi hari tadi, manajer pemberitaan di tempatnya bekerja menugasinya meliput kondisi rumah Basinah.

"Cari rumahnya ya. Biar ada yang bantu," pesan sang manajer via WhatsApp.

Digerakkan rasa tak enak (karena dua permintaan liputan sebelumnya tak ia penuhi), Ipung pun melaju seorang diri. Tanpa menyangka, rupanya ia wartawan pertama yang terjun ke lokasi.

"Sebetulnya kami sudah beberapa kali mengajukan permohonan bantuan ke pemerintah daerah, Mas. Tapi tidak bisa cair karena suatu alasan. Lebih lengkapnya nanti saya tunjukkan di lapangan," ungkap Jumani lemah.

Membonceng sepeda motor yang disetiri Jumani, Ipung dibawa ke ujung sebuah permukiman di tepian kali. Mereka berhenti di lahan kosong yang pada salah satu sudutnya terdapat tumpukan bambu, genteng, dan terpal yang ditata rapi. Tepat di sampingnya, tak sampai sepuluh meter dari tempat mereka berhenti, rumah Basinah tampak jelas. Kondisinya persis sebagaimana diributkan di media sosial: miring nyaris roboh.

Belum tujuh langkah berjalan ke rumah Basinah, Ipung dipanggil Jumani.

"Sini dulu, Mas. Nanti saja ke Bu Basinah," ujar Jumani.

Ipung belum mengerti, maka ia menurut saja. Keterangan dari Jumani setelahnya membuat dia terkesiap.

"Yang warganet belum tahu, tepat di samping rumah Bu Basinah, tepat di depan kita ini, ada rumah yang justru telah roboh, Mas. Bukan lagi nyaris roboh, melainkan nyata-nyata sudah ambruk," ucap Jumani berapi-api. Barangkali ia emosi.

Menunduk sejenak, Jumani kemudian memanggil seorang pria yang tertangkap matanya tengah duduk bertelanjang dada di tepian kali.

"Pak Tasripin! Tolong kemari sebentar!" teriak Jumani.

Yang dipanggil, setelah memakai kaos berlogo partai politik yang sebelumnya ia sampirkan di dahan sebuah pohon, segera datang.

"Ini Pak Tasripin. Dia pemilik rumah yang sudah roboh ini. Silakan tanya-tanya dulu," kata Jumani.

Kepada Ipung, Tasripin mengaku berprofesi sebagai pencari ular dan biawak. Dan memang demikianlah adanya. Menekuni profesinya, Tasripin terbiasa berangkat sore, pulang petang, kemudian berangkat lagi selepas isya dan pulang menjelang tengah malam.

Yang lebih membuat Ipung terkesiap, Tasripin menjelaskan bahwa tanah di mana rumah robohnya berada ialah tanah bengkok (huruf "e" dibaca sebagaimana "e" dalam kata sepatu). Telah tujuh tahun ia tinggal di sana bersama sang istri.

Ipung tahu, tanah bengkok merupakan kekayaan milik desa yang tak boleh diperjualbelikan tanpa persetujuan seluruh warga desa. Ipung juga tahu, tanah bengkok boleh disewakan kepada mereka yang diberi hak pengelolaan, yaitu kepala desa dan perangkat desa. Biasanya, hasil pengelolaan tanah bengkok digunakan untuk tambahan tunjangan bagi kepala desa dan perangkat desa. Namun, sepanjang hidupnya, baru kali ini ia mendengar ada pemerintah desa yang merelakan tanah bengkok kepada masyarakat kurang mampu.

Jumani menjelaskan, sudah jadi kesepakatan sejak kepemimpinan kepala desa sebelumnya, tanah bengkok di Karangbolong diperuntukkan bagi masyarakat tidak mampu. Di sanalah mereka membangun rumah sesuai kesanggupan masing-masing.

"Total ada sebelas rumah tangga yang mendirikan rumah di tanah ini," ucap Jumani nyaris berbisik.

Jumani menuturkan, telah hampir dua pekan pihaknya menggalang dana swadaya masyarakat untuk membangun kembali rumah Tasripin. Jika tak ada halangan, pekerjaan tersebut akan dimulai lusa. Sementara menunggu rumahnya dibangun kembali, Tasripin tinggal di bekas gudang penyimpanan beras milik Jumani yang telah disulap menjadi kamar tidur.

"Beberapa tawaran bantuan untuk Bu Basinah saya minta diserahkan lusa saja. Biar dibarengkan dengan Pak Tasripin," terang Jumani.

Kini Ipung mengerti, mengapa permohonan bantuan bedah rumah yang diajukan Jumani kepada pemerintah tak bisa cair. Setahu Ipung, bantuan bedah rumah mensyaratkan status tanah clean dan clear.

"Pak Tasripin, apa selama ini Bapak merasa diperhatikan pemerintah desa?" tanya Ipung sembari menghadapkan kamera ponsel pada Tasripin. Ia merekam video.

"Ya, saya sering dibantu," jawab Tasripin singkat.

"Terkait rumah Bapak, apa harapan Bapak terhadap pemerintah desa?"

"Ya saya suruh membangun."

Jawaban lugu Tasripin, mau tak mau, membuat Ipung tertawa kecil. Tertawa kecil yang terasa getir.

***

Basinah baru saja hendak mengeluarkan sepeda ontel untuk mengantar hasil cucian ketika Pak Kepala Desa memanggilnya dari luar rumah. Di depan rumah, ia melihat Jumani, sang kepala desa, bersama seorang pria yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pria itu menjepret-jepret keadaan rumahnya menggunakan kamera ponsel.

"Sini, Bu Basinah. Nggak usah takut. Ini ada wartawan mau tanya-tanya," ujar Jumani setelah melihat tampang khawatir Basinah.

"Boleh dijelaskan tentang kondisi rumah Ibu dan apa yang Ibu rasakan?" tanya Ipung setelah dipersilakan. Ada sedikit sesal begitu pertanyaan itu terlontar. Ipung merasa telah mengajukan pertanyaan bodoh.

"Ya begini ini, Mas. Perasaan saya ya biasa aja. Memang ini yang saya punya."

"Atapnya bocor nggak, Bu?"

"Ada yang bocor sih, Mas. Tapi alhamdulillaah bukan di kamar tidur."

"Ibu tinggal di sini sudah berapa lama?"

"Berapa ya. Sejak anak kedua saya lahir. Berarti tujuh tahunan, Mas."

"Ibu tinggal di sini dengan siapa?"

"Cuma dengan dua putra saya. Suami saya sudah meninggal."

"Anak ibu usianya berapa dan sehari-hari aktivitasnya apa? Sekolahkah?"

"Anak sulung saya, Firman. Usianya 17 tahun. Dia sekolah cuma sampai SD kelas 5. Anak kedua saya, Maulana. Usianya tujuh tahun. Masih kelas 1 SD. Alhamdulillaah sekolahnya digratiskan."

"Anak pertama Ibu kerja atau bagaimana?"

"Enggak kerja, Mas. Ya mau gimana...." ungkap Basinah lemah.

Setelah minta izin pada Basinah, Ipung masuk ke dalam rumah. Memasuki rumah berlantai tanah dan berdinding anyaman bambu itu, sekalipun telah mengetahui kondisi Tasripin, Ipung tetap merasa terenyuh. Setelah ini, rasanya tak pantas jika ia masih mengeluhkan gaji UMR-nya.

Di dalam kamar tidur yang cuma satu-satunya, Ipung melihat sesosok lelaki remaja berbaring sembari memainkan gim di ponselnya. Ipung tahu betul, gim daring yang sedang dimainkan anak itu ialah moba analog populer yang juga ia mainkan setiap hari.

Tiba-tiba, Ipung merasa geram.

***

Sudah cukup lama Firman mendengar sekolah negeri telah digratiskan. Namun, ia tidak ingin melanjutkan sekolah. Ia merasa terlalu tua untuk kembali duduk di bangku sekolah dasar. Belum lagi, ia dengar siswa tetap harus membayar uang seragam dan alat tulis.

Firman tak ingin merepotkan sang ibu, maka ia memilih mengamen. Sang ibu tidak tahu mengenai profesi Firman. Setiap kali hendak berangkat mengamen, Firman selalu pamit hendak bermain. Karena selalu pulang sebelum petang, sang ibu tak pernah curiga dan bertanya-tanya.

Setidaknya, Firman bisa mendapat 10 ribu rupiah setiap hari. Selain untuk (sesekali) memberi adiknya uang jajan (diiringi permintaan tutup mulut), uang hasil mengamen dikumpulkan Firman untuk membeli ponsel bekas dan kuota internet.

Setelah hampir tiga bulan menabung sejak berkeinginan punya ponsel android, Firman berhasil membeli sebiji ponsel batangan seharga 400 ribuan. Kepada ibunya, ia mengaku ponsel itu hasil temuan.

Meski layarnya sedikit retak, ponsel itu sudah 4G dan sanggup digunakan bermain gim daring dan beryoutube ria. Meski tak tamat SD, Firman masih punya cita-cita. ia ingin jadi gamer dan youtuber sukses seperti Jessy Limitless, sosok panutannya. Syukur-syukur ia bisa jadi atlet e-Sport.

Bermodal aplikasi perekam layar, setiap hari Firman merekam aksinya di gim daring dan mengunggahnya ke youtube. Namun, mungkin karena permainannya payah dan videonya tanpa dilengkapi narasi apa pun, penontonnya tak pernah lebih dari 50 dan pelanggan salurannya mentok di angka 27.

***

Dua hari setelah Ipung berkunjung ke Karangbolong, rumah Tasripin dan Basinah betul-betul dibangun kembali. Dengan tenaga personel militer, lembaga sosial, dan masyarakat setempat, setelah tiga bulan pengerjaan, rumah mereka kini lebih layak huni. 

Rumah Tasripin dan Basinah kini berdinding batako dan berlantai semen. Dan lagi, rumah mereka telah berpondasi.

Sementara itu, komentar di unggahan akun Bunda Malaikat telah berjumlah puluhan ribu. Mayoritas mengutuk dan mengecam perangkat desa.

***

Malam itu, di balik tembok rumahnya yang baru direnovasi, Firman tidur sambil tersenyum-senyum. Ia bermimpi indah. Mungkin bawaan kebahagiaan yang ia rasakan hari ini.

Sore dua hari sebelumnya, di tengah rasa frustrasinya akibat pelanggan youtube yang tak kunjung meningkat, Firman iseng ikut Lik Tasripin berburu ular dan biawak. Di tengah perburuan dalam hutan, tercetus dalam pikirannya untuk merekam aksi Lik Tasripin dan mengunggahnya ke youtube. 

Memang benar, malam paling kelam ialah menjelang fajar. Keesokan harinya, Firman mendapati video perburuan ular dan biawak yang ia unggah telah ditonton 1.205 kali dan akun youtubenya telah memiliki 1.007 pelanggan. Segera setelahnya, bayang-bayang memberangkatkan ibunya umrah menguasai pikiran Firman.

Sementara itu, di kolom komentar berita berjudul "Viral Rumah Miring di Karangbolong, Ini Faktanya" yang ditulis Ipung untuk media daring tempatnya bekerja, ucapan-ucapan untuk Firman masih bisa terbaca.

"Anak durhaka. Bukannya kerja bantu orang tua, malah asyik ngegame."

"Semoga Allah menyadarkanmu, Anak Muda. Jangan sampai azab-Nya mendahului pertobatanmu."

"Game online emang sering bikin lupa daratan."

Pati, 14 Juli 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Solo, Anggi Ajak Generasi Muda Cegah Distopia Pangan lewat Pertanian Hidroponik

MEMILAH SELADA - Anggi Bitho Lokmanto (35), pemilik kebun Aa818_Hydroponic, tengah memilah sayur selada di lahan yang dia kelola di belakang Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwirul Fikr, Jalan Kabut, Jebres, Kota Surakarta, Jumat (13/6/2025). (Dokumentasi Mazka Hauzan Naufal) Catatan: artikel ini menjadi Juara 3 Apresiasi YDBA (Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra) untuk Pewarta 2025 kategori umum (blog/media sosial) SOLO – Pada masa mendatang, laju pertumbuhan populasi manusia tak lagi bisa diimbangi oleh pertumbuhan produksi pangan.  Pun, lahan-lahan persawahan akan berubah menjadi gedung-gedung hunian manusia yang populasinya terus meroket. Begitulah gambaran kondisi distopia pangan, di mana bumi tidak sanggup lagi menyediakan makanan yang cukup untuk mengisi perut seluruh penghuninya. Di sudut Kota Solo, Jawa Tengah, seorang pemuda bernama Anggi Bitho Lokmanto (35) menolak tunduk pada skenario terburuk masa depan tersebut.  Di kebun bernama Aa818_Hydroponic, ia merawat ...

Jus Tomat

Jus Tomat Cerpen Mazka Hauzan (Naskah Terbaik dalam Lomba Menulis Cerpen Bertema “Kenangan bersama Keluarga” yang diadakan oleh Hyui Publisher, 2018)   Setelah cukup lama menekuri segelas minuman di atas meja kerjanya, Zhafran  akhirnya meneguk isi gelas kaca itu: cairan merah yang berampas putih tipis pada permukaannya.   Dalam setiap teguk, kisah-kisah nostalgia perlahan merasuk. Kisah-kisah itu datang dari masa yang cukup purba dalam hidupnya, ketika duka-nestapa masih sangat sederhana dan tak sedikit pun meninggalkan luka yang berbahaya. Pada masa itu, kesedihan hanya berupa kegagalan meringkus layang-layang putus. Kecewa tentu ada, namun tak seberapa lama. Ia akan hilang bersamaan dengan datangnya senja yang ditandai oleh tepukan tangan Bunda−isyarat untuk segera pulang sebelum azan berkumandang. Tak ada sakit yang mengendap di hati. Luka akan sirna seiring beralihnya musim layangan ke musim kelereng. Tak seperti kini, ketika kesedihan telah menemukan  formula...

Ultrasonografi

Ultrasonografi Cerpen Mazka Hauzan (Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional yang diadakan UKM Pers Politeknik Negeri Padang, 2018) “Anakku, kalau kamu betul-betul membenci penghakiman massa, yang kamu sebut perbuatan biadab dan tidak adil itu, seandainya besok kamu memergoki seseorang mengambil sesuatu yang bukan haknya, janganlah kamu meneriakinya ‘maling’ atau ‘pencuri’. Sebab, jika kamu meneriakinya begitu, orang-orang yang tiga perempat dirinya adalah iblis akan langsung tergerak untuk memukul, menendang, dan membakarnya. Lebih baik kamu meneriakinya ‘koruptor’ atau ‘kapitalis bengis’ saja. Sebab, dengan demikian, orang-orang akan merasa sungkan, bahkan untuk sekadar mencubitnya. Sebaliknya, mereka akan tergerak untuk mencium tangan dan pantatnya.” Aku ingin menyampaikan kata-kata itu pada anakku, kelak ketika ia telah cukup dewasa. Aku hanya perlu menunggu momentum yang tepat. Misal saja, nanti saat ia telah duduk di bangku sekolah menengah atas, suatu hari sepulang sekolah ...