Langsung ke konten utama

Romansa Ketumbar dan Alang-Alang


Romansa Ketumbar dan Alang-Alang

Cerpen Mazka Hauzan

(Juara 3 Lomba Cerpen tingkat Jawa-Bali bertema "Konservasi Moral" yang diselenggarakan Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah HAMKA Universitas Negeri Semarang, 2018)

 

Entah seroja, entah seulanga, entah rafflesia. Selama engkau bunga,

dalam dirimu orang akan selalu bisa menemukan estetika.

***

Akhir-akhir ini, orang-orang se-Desa Pawon dilanda trending topic tentang tentor kursus bahasa Inggris di Dukuh Ketumbar yang hebat bukan main. Mereka berduyun-duyun mengursuskan anaknya kepada Kak Markonah, tentor kursus bahasa Inggris itu. Konon kabarnya, Kak Markonah yang baru lima bulan tinggal di Desa Pawon ini bisa membuat anak-anak mahir berbahasa Inggris hanya dalam waktu tiga setengah bulan. Konon kabarnya lagi, Kak Markonah adalah seorang Sarjana Teknik Instalasi Tapal Kuda dari Southern Illinois University.

Warga, sih, percaya-percaya saja dengan segala macam "konon" tentang Kak Markonah. Bukan karena mereka orang-orang yang terbiasa ber-husnuzon, melainkan karena mereka sendiri memang sama sekali tidak tahu-menahu tentang tata bahasa Inggris. Mereka juga tidak tahu-menahu tentang dunia perguruan tinggi dan segala macam atribut kesarjanaan. Karena itu, sudah jelas bahwa mereka juga tidak tahu di planet manakah gerangan Southern Illinois University itu berada. Yang jelas, memang sudah terbukti, anak-anak yang ikut kursus Kak Markonah gaya bicaranya berubah. Jadi lebih kuminggris, sehingga terkesan berkelas. Dalam setiap kalimat yang anak-anak ini ucapkan, minimal terkandung dua sampai tiga kata-kata berbahasa Inggris.

“Mbok, tadi ada exam pelajaran bahasa Jawa. Joni dapat good mark,” kata Joni kepada simboknya suatu hari sepulang sekolah. Simboknya yang sedang mengunyah-ngunyah sirih hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum mendengar perkataan anaknya. Kurang lebih begitulah cara berbicara anak-anak di Desa Pawon belakangan ini. Warga sama sekali tidak mempermasalahkannya, mereka justru bangga, meskipun komunikasi mereka dengan anak-anak mereka menjadi sering kurang nyambung.

“Kita patut bersyukur. Our sons and daughters sudah mulai berpikir secara international,” kata Pak Kades suatu hari.

***

Kabar tentang Kak Markonah sampai juga ke telinga Mas Julamin, seorang guru mengaji di Surau Alang-Alang. Mas Julamin tertarik kepada Kak Markonah yang bahkan belum pernah sekalipun ia jumpai. Apalagi,—ini yang paling penting—berdasarkan kabar burung dan kabar undur-undur, Kak Markonah masih lajang, dan Mas Julamin yang sudah nyaris tergolong perjaka tua itu memang sedang mencari istri.           

“Siapa tahu dialah jodohku. Hebat sekali kalau aku bisa punya istri yang pandai berbahasa Inggris,” begitu pikir Mas Julamin, yang bercita-cita bisa kuliah teknik menjahit di Washington DC, tapi terkendala kemampuan berbahasa Inggrisnya yang masih lebih buruk dari kuda-kuda California.

Mas Julamin sebenarnya sama sekali belum tahu seperti apakah gerangan rupa Kak Markonah, tapi ia sudah bisa membayangkan sesosok gadis manis dalam benaknya. Sesosok gadis manis yang mahir berbahasa Inggris lebih tepatnya.

Pucuk dicita ulam tiba! Pada suatu siang, di kios fotokopi depan SD Kenanga, saat sedang menunggu hasil fotokopian koleksi setruk belanjaannya jadi, Mas Julamin melihat selembar KTP tergeletak di bawah kursi tempatnya duduk. Diambilnya selembar kartu tanda penduduk itu, lalu eng-ing-eng! Sebuah senyuman yang sama sekali tidak imut tiba-tiba terkembang di wajah kotaknya. Ada apa ini? Oh, ternyata, di kolom “Nama” dalam KTP itu terbaca: Markonah. Selain itu, di kolom “Alamat” terbaca: Dukuh Ketumbar RT 09/RW 09. Lalu yang paling penting, di kolom “Status Perkawinan” tercetak dengan huruf kapital: BELUM KAWIN. Saat bola matanya melirik ke arah foto dalam KTP itu, senyum Mas Julamin semakin melebar. Lebar selebar-lebarnya. Sampai-sampai ujung-ujung bibirnya hampir keluar dari batas teritorial wajahnya. Mengapa bisa begitu? Sebab, menurut Mas Julamin, sosok perempuan dalam foto itu sangatlah cantik. Cantik dan wifeable. Berkali-lipat lebih cantik dan wifeable dari kambing betina kesayangannya di rumah. Asal kalian tahu saja, standar kecantikan seorang perempuan bagi Mas Julamin sangat jauh berbeda, bahkan nyaris bertolak belakang dengan standar kecantikan bagi para juri Miss Universe. Jadi, silakan kalian terka-terka sendiri, kira-kira seperti apakah gerangan wajah Kak Markonah itu.

***

Tanpa ba-bi-bu, setelah fotokopian koleksi setruk belanjaannya jadi, Mas Julamin langsung berangkat untuk mengantarkan KTP itu kepada pemiliknya. Belum ada sepuluh meter ia melangkah meninggalkan kios fotokopi itu, terlihat di depannya seorang perempuan berjilbab cokelat tengah melangkah dengan tergesa-gesa ke arah kios fotokopi. Melihat wajahnya, Kang Julamin langsung yakin bahwa perempuan itu adalah Kak Markonah.

“Mbak, lagi nyari KTP ya?” tanya Kang Julamin.

“Iya, Mas. Ketinggalan di fotokopian kayaknya. Kok tahu?”

“Tadi saya nemuin di bawah kursi di fotokopian. Ini saya baru mau nganter ke rumah Mbak,” kata Mas Julamin sambil menyodorkan selembar KTP itu kepada Kak Markonah.

“Eh, makasih banyak, Mas,” jawab Kak Markonah dengan muka bingung.

“Kamu Markonah yang ngajar kursus bahasa Inggris itu ya?”

“Iya, Mas. Kok tahu?”

Mas Julamin hanya menjawab dengan mesam-mesem.

Begitulah kisah pertemuan Mas Julamin dengan Kak Markonah untuk kali pertama. Tidak romantis memang. Namun, pertemuan itu cukup untuk membuat hati Mas Julamin berbunga-bunga. Bunga-bunganya adalah bunga-bunga kol. Tidak berduri dan bisa dimakan. Bergizi pula.

***

Sore itu adalah jadwal diadakannya pengajian rutin bulanan ibu-ibu muslimah Desa Pawon di Surau Alang-Alang. Biasanya, Mas Julamin didaulat ibu-ibu calon penghuni surga (aamiin) itu untuk memimpin pembacaan Asma’ul Husna dan mengisi tausiyah dalam pengajian tersebut. Bukan karena ilmu agama Mas Julamin sudah selevel ulama Madinah, melainkan karena Mas Julaminlah satu-satunya ustaz di Desa Pawon yang bersedia dibayar dengan sembako. Namun, pada pengajian kali ini, Mas Julamin hanya diminta untuk memimpin pembacaan Asma’ul Husna.

“Tausiyah-nya nanti diisi sama jamaah baru dari dukuh saya, Tadz. Orangnya masih muda.” Begitu kata Bu Hajah Salamah binti Haji Salim Al-Katumbari, dedengkot ibu-ibu sholihah se-Desa Pawon.

“Aduh, kok belum datang juga ya?” Bu Hajah Salamah binti Haji Salim Al-Katumbari mulai gelisah karena jamaah baru yang akan mengisi tausiyah tidak kunjung tiba. Padahal waktu sudah lewat dua puluh menit dari jadwal dimulainya pengajian.

Melihat Bu Hajah Salamah binti Haji Salim Al-Katumbari gelisah, sang Adik, Bu Hajah Zubaidah binti Haji Salim Al-Katumbari menawarkan solusi. “Sudah, lebih baik kita mulai saja dulu pembacaan Asma’ul Husna-nya. Nanti kalau setelah selesai baca Asma’ul Husna masih belum datang juga, biar Ustaz Julamin saja yang mengisi tausiyah.”

Seluruh jemaah sepakat. Maka dimulailah pembacaan Asma’ul Husna yang dipimpin oleh Mas Ustaz Julamin. Tepat ketika jemaah membaca “Yaa Rahmaanu, Yaa Rahiim”, seorang perempuan berjilbab hitam masuk ke dalam surau dengan membungkuk-bungkuk. Ketika itu Mas Julamin belum memperhatikan siapa yang datang. Matanya masih khusyuk terpejam. Baru ketika sampai pada bacaan “Yaa Razzaaqu, Yaa Fattaah” Mas Julamin sadar bahwa yang baru saja datang adalah Kak Markonah. Mereka sempat beradu pandang pada bacaan “Yaa Lathiif”, namun itu hanya berlangsung kurang dari satu detik. Sebab, dengan gerak reflektif, keduanya cepat-cepat menundukkan pandangan.

Begitu pembacaan Asma’ul Husna usai, jemaah pengajian segera mempersilakan Kak Markonah untuk berbicara.

“Sebelumnya saya hendak memohon maaf kepada ibu-ibu semua, juga kepada ustaz, karena saya datang terlambat. Tadi ibu saya mendadak demam, saya mengompresnya dulu sebentar,” ujar Kak Markonah mengawali tausiyah-nya.

Kali itu Kak Markonah berceramah tentang cinta. Ia mengutip satu hadits Nabi yang cukup terkenal. “Laa yu’minu ahaadukum, hatta yuhibbu li akhiihi, maa yuhibbu li nafsih. Tidaklah beriman seseorang di antara kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri,” suara lembut Kak Markonah menyebar ke seluruh penjuru surau, “itu artinya, tidak ada surga bagi orang yang tidak mencintai sesamanya dengan kadar yang setakar dengan kecintaannya pada diri sendiri.”

Sebagian jamaah mengangguk-anggukkan kepalanya, entah karena setuju dengan ucapan Kak Markonah atau karena mengantuk. Kak Markonah meneruskan, “Keimanan yang berbuah surga, hanya secara sah dimiliki oleh orang-orang yang tidak ingin sesamanya terluka, sebagaimana ia sendiri tidak ingin dirinya terluka.”

“Cinta itu tidak butuh pengorbanan,” kata Kak Markonah mengutip perkataan Sujiwo Tejo, sang Budayawan Nyentrik. “Seorang pecinta sejati tidak akan menganggap apa-apa yang ia berikan kepada orang yang ia cintai sebagai suatu pengorbanan. Ia malah akan menganggapnya sebagai kebutuhan. Karena itu, apabila seorang pecinta sejati melihat saudaranya kesusahan, niscaya ia akan memberikan pertolongan karena ia sendiri yang merasa butuh untuk menolong. Ia tidak akan menganggap pertolongan yang ia berikan sebagai bentuk pengorbanannya bagi saudara yang ia cintai. Ia tentu ikhlas, sebab ia sendirilah yang merasa butuh untuk menolong saudaranya, sebagai perwujudan rasa cintanya yang paling suci.”

Sepanjang tausiyah berlangsung, tidak ada satu pun orang yang bersuara. Mereka semua diam dan mengunci mulut rapat-rapat, entah karena terpesona dengan kata-kata Kak Markonah atau karena apa. Memang ada satu-dua orang yang mulutnya sedikit terbuka, tapi mereka tidak bersuara. Mereka hanya sedang ngowoh.

Senja hampir tiba, Kak Markonah pun segera menutup tausiyah-nya dengan rentetan kalimat bertenaga, “Satu hal lagi yang harus kita perhatikan, Ibu-Ibu sekalian. Bahwa cinta itu lembut. Kalau berapi-api dan meledak-ledak, itu bukan cinta, tapi mercon korek.” Kalimat terakhir dari Kak Markonah ini disambut senyum oleh seluruh jamaah, dan senyum yang paling lebar ada di wajah Mas Julamin.

Sore itu, cara Mas Julamin memandang Kak Markonah telah naik level cukup jauh. Bagi Mas Julamin, Kak Markonah benar-benar sosok perempuan paripurna: cantik (menurut standar Mas Julamin sendiri), sholihah, berbakti kepada kedua orang tua, ilmu agamanya baik, pejuang moral, humoris, piawai berbahasa Inggris pula. Sebuah keputusan pun memenuhi hati dan pikiran Mas Julamin: malam ini ia akan salat istikharah.

***

Pagi itu langit berselimut awan kelabu. Sangat matching dengan suasana hati Kak Markonah yang galau tak menentu. Kasihan Kak Markonah. Ia sungguh galau, galau segalau-galaunya. Musababnya, setelah selama dua puluh lima tahun tidak ada seorang pria pun yang meliriknya, akhirnya kini ada seorang pria yang menaruh hati padanya. Jadi, sebenarnya pria itu tidak sekadar melirik dengan mata, namun sampai pada level memandangi dengan hati. Menurut nalar anak kelas 3 SD, seharusnya Kak Markonah bahagia, tapi anehnya ia justru dirundung kegalauan.

Semalam, seorang pria berpenampilan sederhana-cenderung-miskin-papa datang ke rumah Kak Markonah, menemui orang tuanya, dan tanpa basa-basi menyatakan keseriusannya untuk menikahi Kak Markonah. Pria itu adalah Mas Julamin. Seorang ustaz kampung minim harta yang belum lama ia kenal.

Kalau ada yang mengira kegalauan Kak Markonah ini persoalan harta, cepat-cepat prasangka itu akan termentahkan. Sebab, ia sama sekali bukan perempuan matre.

Sebenarnya, penyebab kegalauan Kak Markonah hanya satu: Mas Julamin sama sekali tidak mirip dengan Lee Min-Ho. Padahal Kak Markonah selalu berharap bisa memiliki suami setampan aktor Korea Selatan pujaannya itu. Bukan berarti Mas Julamin jelek. Dia tidak jelek. Tapi sayangnya juga belum tergolong tampan. Ibaratnya, jika di antara garis kejelekan dan garis ketampanan ada jarak selebar 125 kilometer, maka Mas Julamin ini berhasil melewati garis kejelekan sejauh 95,5 milimeter.

Akhirnya, sebagai upaya untuk mengobati kegalauannya, sekaligus untuk memikirkan pinangan Mas Julamin, Kak Markonah pergi ke Dukuh Belimbing untuk menyaksikan gelaran lawak tunggal (yang lebih dikenal sebagai Stand-Up Comedy) yang sedang diselenggarakan di sana.

Mungkin menonton gelaran lawak tunggal di dukuh Belimbing memang takdir baik bagi Kak Markonah. Mengapa begitu? Sebab, di atas panggung kayu di balai dusun itu, seorang pelawak tunggal berkumis melengkung membawakan sebuah bit tentang makhluk mitos bernama wewe gombel, yang setelah mendengarnya, kegalauan kak Markonah sirna seketika.

“Kalian pasti pernah dengar mitos kayak gini: ‘Jangan keluar maghrib, nanti diculik wewe gombel!’ Iya kan?” tanya sang Pelawak Tunggal kepada penonton.

Melihat sebagian penonton menganggukkan kepala, sang Pelawak Tunggal meneruskan bit-nya, “Aku pengen tuh digituin. Soalnya dulu waktu aku kecil bapak aku malah bilang gini: ‘Hei, ini udah Maghrib ayo sana keluar, biar diculik wewe gombel. Kamu jomblo, kan? Siapa tahu cocok!’”

Mendengar punchline itu, seluruh penonton terbahak, kecuali Kak Markonah. Ia hanya melengkungkan bibirnya sedikit. Itupun ke bawah, bukan ke atas. Tapi tunggu dulu, ternyata bit ini belum selesai sampai di sini. Masih ada satu punchline lagi.

Setelah tawa penonton mereda, sang Pelawak Tunggal meneruskan peragaan dialog antara dirinya dengan bapaknya.

“Bapak ini gimana, sih, mana mungkin aku mau sama wewe gombel.”

“Lo, kenapa?”

“Jelek soalnya.”

Sampai di sini, sang Pelawak Tunggal terdiam sesaat. Selama tiga detik, ia menggeleng-gelengkan kepala, memerankan bapaknya yang keheranan. Lalu tiba-tiba ia berteriak lantang, "Kalau hanya kecantikan rupa yang jadi pertimbanganmu dalam mencinta, bagaimana kau bisa mencintai Tuhan yang wujud-Nya tak terindera?!"*

Kak Markonah pun tertawa. Terbahak-bahak. Matanya sampai berair.

Bhakti Persada Indah, 30 November 2015

*Bit ini dibawakan oleh Wira Nagara, seorang pelawak tunggal asal Banjarnegara, dalam Show ke-4 Stand Up Comedy Indonesia Season 5 yang disiarkan oleh Kompas TV (dengan sedikit modifikasi oleh penulis).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Solo, Anggi Ajak Generasi Muda Cegah Distopia Pangan lewat Pertanian Hidroponik

MEMILAH SELADA - Anggi Bitho Lokmanto (35), pemilik kebun Aa818_Hydroponic, tengah memilah sayur selada di lahan yang dia kelola di belakang Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwirul Fikr, Jalan Kabut, Jebres, Kota Surakarta, Jumat (13/6/2025). (Dokumentasi Mazka Hauzan Naufal) Catatan: artikel ini menjadi Juara 3 Apresiasi YDBA (Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra) untuk Pewarta 2025 kategori umum (blog/media sosial) SOLO – Pada masa mendatang, laju pertumbuhan populasi manusia tak lagi bisa diimbangi oleh pertumbuhan produksi pangan.  Pun, lahan-lahan persawahan akan berubah menjadi gedung-gedung hunian manusia yang populasinya terus meroket. Begitulah gambaran kondisi distopia pangan, di mana bumi tidak sanggup lagi menyediakan makanan yang cukup untuk mengisi perut seluruh penghuninya. Di sudut Kota Solo, Jawa Tengah, seorang pemuda bernama Anggi Bitho Lokmanto (35) menolak tunduk pada skenario terburuk masa depan tersebut.  Di kebun bernama Aa818_Hydroponic, ia merawat ...

Jus Tomat

Jus Tomat Cerpen Mazka Hauzan (Naskah Terbaik dalam Lomba Menulis Cerpen Bertema “Kenangan bersama Keluarga” yang diadakan oleh Hyui Publisher, 2018)   Setelah cukup lama menekuri segelas minuman di atas meja kerjanya, Zhafran  akhirnya meneguk isi gelas kaca itu: cairan merah yang berampas putih tipis pada permukaannya.   Dalam setiap teguk, kisah-kisah nostalgia perlahan merasuk. Kisah-kisah itu datang dari masa yang cukup purba dalam hidupnya, ketika duka-nestapa masih sangat sederhana dan tak sedikit pun meninggalkan luka yang berbahaya. Pada masa itu, kesedihan hanya berupa kegagalan meringkus layang-layang putus. Kecewa tentu ada, namun tak seberapa lama. Ia akan hilang bersamaan dengan datangnya senja yang ditandai oleh tepukan tangan Bunda−isyarat untuk segera pulang sebelum azan berkumandang. Tak ada sakit yang mengendap di hati. Luka akan sirna seiring beralihnya musim layangan ke musim kelereng. Tak seperti kini, ketika kesedihan telah menemukan  formula...

Merawat Impian tentang Reaktivasi Kereta Api Semarang-Rembang

Merawat Impian tentang Reaktivasi Kereta Api Semarang-Rembang (Termasuk 10 karya terbaik dalam lomba menulis feature "Ayo Cintai Angkutan Massal!" NNC, 2024) Foto: Stasiun Kereta Api Puri Pati (1905) (Leiden University Librares via Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Pati.) PATI -   Lebih dari 20 tahun lalu, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, Ibu pernah membawa saya berkunjung ke rumah Mbah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Berangkat dari Terminal Terboyo, Kota Semarang, kami naik bus jurusan Surabaya. Ibu mengajak saya bersiap turun bus ketika kernet mulai berteriak, “Stasiun! Stasiun!” Dengan pikiran kanak-kanak yang lugu, kala itu saya bingung. Sesuai pelajaran yang saya dapat di sekolah, tempat pemberhentian bus adalah halte atau terminal. Sedangkan stasiun adalah tempat pemberhentian kereta api. Saya heran karena kami naik bus tapi turun di stasiun. Begitu turun bus, saya lebih heran lagi karena tidak melihat ada bangunan stasiun seperti...