Masih Ingatkah Engkau?
Cerpen Mazka Hauzan
(Dimuat di Rubrik Balai Aksara Banjarmasin Post, Minggu 31 Juli 2016)
Masih ingatkah engkau tentang percakapan kita pada suatu sore, sore pertama kita, ketika bulan muncul terlalu dini, sampai kita mengira mentari telah dicurangi?
Di taman tak berpengunjung itu (selain kita berdua tentu saja), laju waktu seperti berhenti. Barangkali ia lelah setelah sekian lama berlari. Tak ada angin, tak ada gemerisik daun. Bumi seperti berhenti berputar. Hanya kita berdua yang bergerak. Hanya kita berdua yang hidup.
"Ke mana lagi pertanyaan-pertanyaan krusial tentang kehidupan harus dialamatkan, jika rumput-rumput ilalang tak sudi lagi bergoyang?" tanyamu padaku. Jemarimu menggapai-gapai rerumputan di celah batu, tapi tak sampai-sampai. Rerumputan itu terdiam kaku. Tak kalah kaku dari batu bercelah yang mendekapnya.
"Apakah pertanyaanmu itu termasuk pertanyaan krusial tentang kehidupan?" tanyaku balik. Jemariku menggapai jemarimu yang menggapai-gapai rerumputan tapi tak sampai.
Kau memandangku dengan ujung matamu. Senyummu terbit sedikit. Manis. Legit. "Mungkin.... Kenapa?"
"Kalau iya, berarti kau sudah mendapatkan jawabannya. Alamatkanlah pertanyaan-pertanyaan itu padaku," jawabku dengan sedikit senyum.
Mendengar jawabanku, sontak tawamu berderai. Bersamaan dengan derai-derai tawamu, angin berkesiur sepoi dari utara. Waktu mulai berlari kembali. Barangkali ia telah cukup beristirahat. Bumi berputar lagi. Gemerisik daun, yang menurutmu jauh lebih merdu dari dangdut koplo, mulai menyelinap ke gendang telinga kita. Cericit burung-burung di dahan-dahan pohon jamblang melengkapinya. Orkestra alam, puji-pujian alam kepada Tuhan, tidak ada bunyi-bunyi yang lebih merdu dari itu.
Jemarimu, yang sedari tadi telah berhenti menggapai-gapai rerumputan di celah batu karena telah kugapai, membebaskan dirinya dari belitan jemariku, kemudian menepuk pundakku. Setelah tawamu mereda, tanpa kutanya, dengan raut sendu yang datang tiba-tiba, kau berkata, "Aku hanya khawatir jika sampai mati penasaran."
Waktu pun beristirahat lagi.
***
Masih ingatkah engkau, tentang percakapan kita pada suatu dini hari, saat semburat fajar tak kunjung mekar, sampai kita mengira bulan dan gemintang telah berbuat makar?
Gazebo beratap genting yang kita singgahi melindungi kita dari tangisan langit. Namun, alangkah menyedihkan, mengapa pundakku yang menyanggamu dan lenganku yang merengkuhmu tak sanggup redakan isak tangismu?
“Dalam hidup ini... adakah yang lebih esensial dari kematian?” desismu di sela sesenggukmu dan sesengguk langit.
Aku menjawab pertanyaanmu dengan diam. Karena kurasa kau tak butuh jawaban verbal. Sekian lama menjadi suamimu, aku tahu, kau hanya sedang ingin menumpahkan cerita sedihmu, yang hingga detik ini belum utuh kupahami.
“Jika hidup hanya untuk mati, kenapa Tuhan tidak menciptakan kita dalam keadaan mati?” Kau terus saja menceracau. “Walau aku tahu akan mati... aku masih takut mati.... Bukankah aku bodoh?”
Ya, kau bodoh, Istriku. Tapi aku menyayangimu.
***
Masih ingatkah engkau?
Ah.... Mana mungkin kau mengingat penyesalanku yang tak sempat kuungkapkan.
Seandainya sore itu, setelah merayumu, aku menjawabmu, “Alamatkanlah pertanyaan-pertanyaan krusial tentang kehidupan kepada Dia yang memberimu hidup. Dia pasti menjawab, dan kau tak akan mati penasaran.”
Ah.... Seandainya sore itu aku menjawabmu begitu, tentu aku tidak akan menyesal.
Seandainya dini hari itu, dengan tetap menyangga dan merengkuhmu, aku menjawabmu, “Dalam hidup ini, yang esensial adalah hidup itu sendiri. Sebab, sekalipun kau mati, hanya kelahiranmu yang direnggut, bukan kehidupanmu. Kau tak perlu takut mati, karena setelah mati hidupmu akan tetap berlanjut.”
Ah.... Seandainya dini hari itu aku menjawabmu begitu, tentu aku tidak akan menyesal.
***
Masih ingatkah engkau, meski gagal, meski sebentar, aku pernah menjadi suamimu?
Bhakti Persada Indah, 10 Februari 2016

Komentar
Posting Komentar