Langsung ke konten utama

Kisah Cinta Para Durjana

Kisah Cinta Para Durjana

Lima Cerita Cinta Mazka Hauzan

(Dimuat di nusantaranews.co, 28 Januari 2018)

 

Bukti Cinta Penyair Tua

Andini jatuh cinta. Dalam hatinya bersemi bunga-bunga: kenanga, kamboja, wisteria, dan segala rupa yang menguarkan aroma surga. Hatinya jatuh begitu saja pada seorang penyair tua, mantan narapidana, yang pernah belasan tahun mendekam di penjara akibat kedapatan membunuh seorang wanita muda.

Semalam, mereka bercinta di sebuah kamar hotel sederhana yang ranjangnya selalu berderit seirama desah cinta.

Keesokan  pagi, tahu-tahu Andini mati, tahu-tahu jadi puisi.

 

Mimpi Indah Khayalan Basah

Jakun Bari naik-turun memandangi sebuah foto berukuran 3x4 cm di depannya. Berulang-kali ia menelan ludah menatap seorang gadis dalam foto itu. Kulit gadis itu kuning langsat, mulus tanpa cela. Hidungnya mancung, berpadu-indah dengan bibir tipis kemerahan yang tengah menyunggingkan senyum teramat manis. Alisnya melengkung sempurna di atas dua bola mata ajaib. Mata itu, entah bagaimana, tajam tapi menenteramkan. Rambutnya hitam-pekat bergelombang. Bari dapat mendengar debur halus ombak setiap kali menatap rambut gadis dalam foto itu.

"Bidadari. Tak salah lagi. Kamu bidadari," gumam Bari. Cinta dan nafsu berahi berkelindan dalam hati dan pikirannya.

"Semua kuberikan untukmu, Diana," bisiknya sambil mengelus wajah gadis dalam foto. "Tak apa aku jadi kriminal. Asal bisa memberimu kebahagiaan."

Minggu  lalu, ia sukses membobol brankas pribadi milik Pak Handoko, majikannya. Namun, tak semua uang dalam brankas ia ambil. Ia hanya mengantongi beberapa juta.

"Kemarin, kamu bilang kamu ingin boneka beruang besar, kan? Besok akan kubelikan untukmu." Bari memejamkan mata, membayangkan rona bahagia Diana ketika menerima boneka beruang besar pemberiannya. Rasa kantuk perlahan menguasainya. Bari pun tertidur sambil memeluk rapor milik Diana, keponakannya, yang baru saja ia ambil pagi tadi. Diana berhasil naik kelas empat, dengan menyandang predikat juara kelas. Bari tersenyum dalam tidurnya. Ia bermimpi indah. Celananya basah.

 

Gombal Busuk Bak Truk

"Aku rindu istriku. Amat sangat rindu," ucap Sarkoni lemah. Sepasang jemari mengusap lembut titik air yang muncul di pelupuk matanya.

"Pulanglah, temui istrimu. Dia juga pasti sangat merindukanmu."

Sarkoni meremas kepalanya yang telah ditumbuhi helai-helai uban. "Tapi aku malu padanya."

"Kenapa mesti malu?"

"Sudah tiga bulan ini aku tidak memberinya nafkah sepeser pun...."

"Apakah selama tiga bulan ini kalian tetap saling berkomunikasi?"

"Tentu. Setidaknya sehari sekali, istriku selalu meneleponku...."

Hening. Sunyi. Dengan tatapan kosong, mereka memandang langit-langit kamar losmen murahan tempat mereka menginap malam ini. Angin beku dari luar mengetuk-ngetuk jendela. Sebagian berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar. Sarkoni merasakan dingin di tengkuknya.

"Satu kali lagi ya...." pinta Sarkoni pada perempuan muda dalam pelukannya.

"Tapi tarif tadi hanya untuk satu kali main, Mas."

"Gampang. Nanti aku tambah lagi uangnya...."

Angin  malam terus saja mengetuki jendela, seperti hendak menyampaikan sesuatu pada dua orang  yang tengah bergumul-masyuk di dalam kamar.

"Hei, Bajingan. Baca lagi tulisan di bak trukmu...." Barangkali itu yang hendak disampaikan angin malam.

"Banting Tulang demi Istri Tersayang". Tulisan itu masih cukup jelas terbaca, meski catnya telah mengelupas di sana-sini.

 

Cinta Buta Dua Dunia

Aku, aku yang gagah-berani, disegani, dan dihormati banyak pihak, telah berbelas hari dibuat gila oleh seorang gadis jangkung berkerudung. Aku tak mengerti. Banyak yang bilang aku sedang jatuh cinta. Ada pula yang bilang aku terobsesi. Entahlah, aku pun tak bisa menjelaskan dengan pasti. Yang jelas, duniaku telah teralihkan. Pikiranku telah dijajah olehnya. Siang-malam dia bercokol dalam kepalaku tanpa sedikit pun memberi ruang bagi yang lain. Seluruh kerja otakku terfokus padanya. Selalu saja tentang dia dan hanya dia. Jujur saja, jika ini memang cinta, ini sama sekali tidak indah, justru menyiksa. Apalagi, sikapnya padaku amat berkebalikan dari yang kuharapkan.

Sore dua minggu lalu adalah kali pertama aku melihatnya. Aku tengah berbaring santai di beranda tempat tinggalku, ketika dia, dengan langkah yang terlihat lelah, berjalan ke arahku. Kedua kaki jenjangnya mengayunkan langkah dengan, meski menyiratkan lelah, begitu indah. Jantungku mendadak bergemuruh. Sampai-sampai aku malu karena mengira dia bisa mendengarnya. Dengan gugup, seiring langkah-langkahnya yang kian mendekatiku, kupandangi wajah letihnya yang sedikit tertunduk. Sampai pada jarak tertentu yang cukup dekat hingga aroma parfumnya semakin kuat menusuk hidungku, dia mendongakkan kepala dan menatapku. Mata kami beradu. Jantungku kian kuat mendebur. Aku tersenyum. Kusapa dia. Dia malah lari. Betapa sakit hatiku.

***

Dua minggu setelah perjumpaan pertamaku dengannya yang sama sekali tidak romantis itu, sampai hari ini, setiap sore, kecuali Sabtu dan Minggu, dia selalu melewati kediamanku. Mungkin jalan di depan tempat tinggalku memang satu-satunya jalan menuju tempat yang dia tuju. Setiap sore itu pula aku selalu menyapanya seramah mungkin, dan dia selalu lari. Namun, aku tak pernah bosan menyapanya. Aku tak pernah menyerah. Aku tak pernah berhenti berharap suatu saat dia akan membalas sapaanku. Menyedihkan? Memang.

***

Hari ini aku memberanikan diri untuk meningkatkan keagresifanku. Nanti sore aku tidak hanya akan menyapanya sebagaimana biasa. Aku juga akan memberinya hadiah istimewa yang telah kupersiapkan sedemikian rupa. Sore nanti, aku akan berdiri menantinya di jalan depan kediamanku. Aku akan berada di hadapannya, menghalangi dia dari jalan yang akan dia lalui, sehingga dia tidak bisa lewat sebelum memintaku minggir. Aku bayangkan, setidaknya dia akan berkata, "Permisi...." Ah, betapa indahnya. Saat itulah aku akan menyerahkan hadiah istimewa ini padanya. Dia pasti akan terkesan.

***

Telah sekira satu jam aku berdiri di sini dengan membawa hadiah istimewa yang akan kuserahkan padanya. Hari ini, tak seperti biasa, hingga senja nyaris sirna, dia tak kunjung lewat. Aku sedih. Hampir putus asa. Ketika gelap tiba, kuputuskan untuk pulang. Pulang dengan tangan hampa. Baru saja aku berbalik, kudengar suara langkah kaki yang agak tergesa. Kucium pula aroma parfum yang telah kuhafal di luar kepala. Begitu kutolehkan muka, kulihat gadis jangkung berkerudung itu di ujung jalan. Seketika, kesedihanku sirna. Kutatap setiap langkahnya dengan gembira. Tiba-tiba, pada jarak yang belum cukup dekat bagiku untuk melancarkan rencanaku, begitu menyadari keberadaanku, dia menghentikan langkah.

"Hei.... Kemarilah. Aku punya sesuatu untukmu," ucapku dengan ekspresi seramah yang aku bisa.

Namun, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Dia justru berbalik arah dan berlari sekencang-kencangnya. Hatiku seperti ditusuk. Aku pun lari mengejarnya.

"Hei... jangan takut! Aku tidak hendak menyakitimu! Aku mencintaimu! Aku punya sesuatu untukmu!" Aku terus berlari mengejarnya sambil berteriak-teriak berusaha menjelaskan maksudku sebenarnya. Sedih sekali rasanya. Air mataku hendak tumpah. Dia terus saja berlari menjauhiku. Apa salahku?

Air mataku kini benar-benar tumpah. Seberapa hinakah aku sampai-sampai membalas sapaanku pun dia tak mau?

"Aku mencintaimu... sungguh...." lemah aku berucap. Aku berhenti berlari. Betapa sedih. Betapa pedih. Tulang paha kambing yang kugigit sedari tadi terlepas begitu saja, jatuh ke tanah, berlumur liur. Sia-sialah perjuanganku menyelinap ke dapur barak.

Sebuah tangan kekar menyentuh kepalaku. "Blacky, bagaimana kau bisa melepas rantaimu?" bisiknya terengah.

 

Romansa Pilu Lelaki Dungu

Dasar pandir!

Akibat ditinggal pergi pacarmu, dengan kecerdasan setingkat kerbau kurang gizi, kausorongkan moncong pistol ke arah pelipismu. Kau berujar menggelegar dengan hati ragu yang kaumantap-mantapkan, “Aku lebih baik mati! Tidak ada gunanya lagi aku hidup!”

Dasar tolol!

Heranku belum habis sejak kali pertama kau bercerita tentang wanita itu. Wanita setengah tua yang kaucintai sampai dungu itu.

Kau belum lama ketiban undian ketika memasuki area pelacuran murahan dengan mengendarai mobil sedan yang mengilap berkilauan. Tentu saja mobil mewah yang kautunggangi menjadikanmu gula di sarang semut. Wanita-wanita muda penjaja buah dada dan pangkal paha langsung mengerubutimu, menawarkan diri tanpa sedikit pun malu. Namun kau tak memedulikan mereka: wanita-wanita muda berkulit kencang menggoda. Jauh-jauh hari, kau telah menetapkan tujuan dengan siapa hendak berkencan. Wanita itu, janda empat puluhan penjual pecel di Pasar Minggu itu, telah lama menjadi objek fantasimu. Engkau adalah satu dari sedikit orang yang tahu pekerjaan “sampingan” si penjual pecel. Namun, waktu itu kau hanya mahasiswa miskin yang bahkan tak punya cukup penghasilan untuk setiap hari sarapan. Maka, cukup lama, kau hanya memuaskan diri secara mandiri sambil membayangkan goyangan si penjual pecel yang tengah mengulek kacang tanah.

Semua berubah ketika nomor yang kaupasang tembus. Ratusan juta masuk kantongmu. Segera saja kausewa sebuah mobil mewah untuk menjemput si penjual pecel. Dia hanya melongo bego ketika kau berkata, “Menikahlah denganku.”

Dia menolak terburu-buru. Katanya, “Pacaran saja dulu....” Kau pun setuju. Setiap malam kalian bercumbu. Bagimu pernikahan hanya soal selangkangan, maka setiap kali berhasil mereguk kenikmatan dari si penjual pecel, hasratmu untuk menikahinya semakin menggebu. Sayangnya, ia selalu menolak dengan alasan ini-itu.

Sampai suatu malam, ponselmu menderingkan nada panggilan.

“Aku pulang ke kampung halaman di pulau seberang. Tak perlu mencariku,” katanya.

Begitu sambungan telepon terputus, seluruh angan-anganmu tentang “kenikmatan” pernikahan mendadak pupus. Kau pun semakin dungu saja. Puncak kedunguanmu kaupertontonkan padaku pagi ini.

Dasar dungu!

Setelah kautarik pelatuk pistolmu dengan gemetar, barulah kausadar bahwa ia tak berpeluru.

Dasar dungu!

Setelah kauturukan tanganmu, barulah kausadar bahwa yang ada pada genggamanmu bukanlah pistol, melainkan ulek batu yang hendak kaugunakan untuk melumatkan kacang tanah.

Dasar dungu! Bukankah pagi ini kita hendak sarapan pecel?

Bhakti Persada Indah, 18 September 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Solo, Anggi Ajak Generasi Muda Cegah Distopia Pangan lewat Pertanian Hidroponik

MEMILAH SELADA - Anggi Bitho Lokmanto (35), pemilik kebun Aa818_Hydroponic, tengah memilah sayur selada di lahan yang dia kelola di belakang Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwirul Fikr, Jalan Kabut, Jebres, Kota Surakarta, Jumat (13/6/2025). (Dokumentasi Mazka Hauzan Naufal) Catatan: artikel ini menjadi Juara 3 Apresiasi YDBA (Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra) untuk Pewarta 2025 kategori umum (blog/media sosial) SOLO – Pada masa mendatang, laju pertumbuhan populasi manusia tak lagi bisa diimbangi oleh pertumbuhan produksi pangan.  Pun, lahan-lahan persawahan akan berubah menjadi gedung-gedung hunian manusia yang populasinya terus meroket. Begitulah gambaran kondisi distopia pangan, di mana bumi tidak sanggup lagi menyediakan makanan yang cukup untuk mengisi perut seluruh penghuninya. Di sudut Kota Solo, Jawa Tengah, seorang pemuda bernama Anggi Bitho Lokmanto (35) menolak tunduk pada skenario terburuk masa depan tersebut.  Di kebun bernama Aa818_Hydroponic, ia merawat ...

Jus Tomat

Jus Tomat Cerpen Mazka Hauzan (Naskah Terbaik dalam Lomba Menulis Cerpen Bertema “Kenangan bersama Keluarga” yang diadakan oleh Hyui Publisher, 2018)   Setelah cukup lama menekuri segelas minuman di atas meja kerjanya, Zhafran  akhirnya meneguk isi gelas kaca itu: cairan merah yang berampas putih tipis pada permukaannya.   Dalam setiap teguk, kisah-kisah nostalgia perlahan merasuk. Kisah-kisah itu datang dari masa yang cukup purba dalam hidupnya, ketika duka-nestapa masih sangat sederhana dan tak sedikit pun meninggalkan luka yang berbahaya. Pada masa itu, kesedihan hanya berupa kegagalan meringkus layang-layang putus. Kecewa tentu ada, namun tak seberapa lama. Ia akan hilang bersamaan dengan datangnya senja yang ditandai oleh tepukan tangan Bunda−isyarat untuk segera pulang sebelum azan berkumandang. Tak ada sakit yang mengendap di hati. Luka akan sirna seiring beralihnya musim layangan ke musim kelereng. Tak seperti kini, ketika kesedihan telah menemukan  formula...

Ultrasonografi

Ultrasonografi Cerpen Mazka Hauzan (Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional yang diadakan UKM Pers Politeknik Negeri Padang, 2018) “Anakku, kalau kamu betul-betul membenci penghakiman massa, yang kamu sebut perbuatan biadab dan tidak adil itu, seandainya besok kamu memergoki seseorang mengambil sesuatu yang bukan haknya, janganlah kamu meneriakinya ‘maling’ atau ‘pencuri’. Sebab, jika kamu meneriakinya begitu, orang-orang yang tiga perempat dirinya adalah iblis akan langsung tergerak untuk memukul, menendang, dan membakarnya. Lebih baik kamu meneriakinya ‘koruptor’ atau ‘kapitalis bengis’ saja. Sebab, dengan demikian, orang-orang akan merasa sungkan, bahkan untuk sekadar mencubitnya. Sebaliknya, mereka akan tergerak untuk mencium tangan dan pantatnya.” Aku ingin menyampaikan kata-kata itu pada anakku, kelak ketika ia telah cukup dewasa. Aku hanya perlu menunggu momentum yang tepat. Misal saja, nanti saat ia telah duduk di bangku sekolah menengah atas, suatu hari sepulang sekolah ...