Awas, Kau Bisa Jadi Babi!
Cerpen Mazka Hauzan
(Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 26 Maret 2017)
“Sandi, pulang! Lihat saja, kalau kamu terlalu lama bermain dengan anak itu, esok pagi kamu jadi babi!” Begitu teriak Bibi Sarah sore kemarin, saat Sandi tengah bermain gundu di tanah lapang berdebu bersama Benny, teman terbaiknya yang bertubuh gempal, berkulit kuning kemerahan, dan bermata tidak selebar matanya.
Sandi marah tapi takut. Tidak terima tapi nyalinya ciut. Maka, meski dadanya seperti dimasuki batu, dia menurut. Ia pulang, sebelum petang datang. Meninggalkan Benny yang memasang raut muka tegang.
“Maafkan bibiku ya, Ben,” bisik dia.
***
Benny adalah satu-satunya teman Sandi di kompleks perumahan yang hampir setahun ini ia tinggali. Kalau kau berpikir Sandi tidak punya banyak teman karena pemalu, kau salah. Sebelum pindah ke perumahan yang sekarang ia tinggali, di kampung dia sebelumnya, ia mengenal baik semua anak seusia. Bahkan ia juga biasa bermain bersama beberapa anak yang empat-lima tahun lebih tua. Bisa dibilang, Sandi anak yang cukup supel. Tidak sulit bagi dia mendapat teman di lingkungan baru.
Pada hari pertama kepindahannya pun, ia telah mendapat cukup banyak teman baru. Waktu baru turun dari mobil, ia melihat sekelompok anak sebaya tengah bermain kelereng di sepetak tanah yang dinaungi sebatang pohon kersen. Ia langsung menghampiri mereka dan memperkenalkan diri.
“Hai, aku Sandi, baru saja pindah ke kompleks ini. Boleh aku ikut bermain?” tanya dia sambil menunjukkan segenggam kelereng dari kantong celana.
Ini musim kelereng. Kebiasaan anak-anak hampir di seluruh kota, selalu membawa kelereng ke mana pun pergi, untuk berjaga-jaga jika ada yang menantang adu gundu, mengadu ketangkasan jari dalam memainkan benda bulat kecil yang terbuat dari kaca atau tanah liat itu. Sepulang sekolah, jika bosan melawan anak sekampung, mereka menyambangi kampung lain untuk mencari lawan.
Mereka, anak-anak yang kali pertama Sandi jumpai di lingkungan baru, membolehkan dia ikut bermain setelah sebelumnya memperkenalkan diri satu per satu: Rahman, Noval, Joni, Rifat, dan Aldi. Hanya butuh satu lemparan kelereng, ia sudah akrab dengan mereka berlima, bergelak ria bersama. Terlebih, ternyata Bibi Sarah sangat dikenal oleh anak-anak di sana.
“Oh, jadi kamu keponakan Bibi Sarah? Beruntung sekali kamu tinggal dengan Bibi Sarah. Kamu akan makan enak setiap hari,” ujar Rahman bersemangat.
Bibi Sarah membuka warung makan di rumah. Menurut Rahman, jika ibu atau pembantu mereka tak sempat membuatkan lauk untuk sarapan, anak-anak di perumahan terbiasa membeli lauk di warung Bibi Sarah. Mereka amat menyukai Bibi Sarah karena ia sering memberi bonus.
“Bibi Sarah memang baik,” ucap Joni semringah. “Tadi pagi, saat beli telur dadar, aku diberi bonus sosis goreng.”
"Ya, Bibi Sarah memang baik. Bibi Sarahku." Begitu pikir Sandi waktu itu.
Setelah cukup lama tenggelam dalam keasyikan bermain, Sandi melihat seorang anak bertubuh gempal berjongkok di tepian jalan, kira-kira sepuluh meter dari tempat ia bermain. Ia perhatikan, rupanya anak itu juga tengah bermain kelereng. Bedanya, anak itu seorang diri. Kepalanya tertunduk, tapi masih terlihat, tidak ada senyum pada wajah bulatnya. Tiba-tiba dia mendongak. Mereka pun bertatapan. Sandi berikan seulas senyum. Bocah itu tidak. Sandi lambaikan tangan. Bocah itu mengernyit.
“Hei, kemarilah. Bermainlah bersama kami!” seru Sandi.
Mendengar seruan itu, tiba-tiba kelima teman baru Sandi bertatapan. Mereka saling berbisik, entah tentang apa.
“Hei, kenapa kauajak dia? Dia itu kan....” desis Aldi.
Sandi terheran. “Eh, memang kenapa?”
“Dia itu.... tidak sama dengan kita....”
“Hah? Tidak sama bagaimana?”
Belum sempat ada yang menjawab. Si gempal sudah berdiri di hadapan mereka. Lalu, kelima teman barunya, tanpa ada yang mengomando, serempak mundur teratur. Buyar. Meninggalkan mereka berdua.
“Maafkan aku....” ucap bocah itu sambil menunduk-nunduk tak percaya diri.
Sandi menghela napas. Tak habis pikir. Ia pandangi lima teman barunya yang berjalan menjauh tanpa menoleh.
“Aku Sandi, siapa namamu?”
“Maafkan aku....”
“Tak apa. Bukan salahmu. Siapa namamu?”
“Aku Benny....”
***
Selepas salat magrib, anak-anak kompleks bergerombol di pelataran masjid. Mereka mengerubuti Sandi. Anak baru seperti dia memang mudah jadi penarik perhatian. Mereka berkenalan.
Waktu itu, tanpa bertanya pada siapa pun, setelah melihat sekeliling, ia telah mengetahui salah satu perbedaan di antara mereka dan Benny: Benny tidak pergi ke masjid. Belakangan ia tahu, Benny dan kedua orang tuanya beribadah di kelenteng.
“Anak gendut bermata sipit itu... dia tidak punya teman. Kau juga jangan berteman dengannya,” ucap Noval dengan nada sedikit memerintah.
Sandi diam, masih tidak mengerti. Ada apa dengan anak-anak ini sebenarnya?
Dengan wajah serius, Rifat menambahi, “Kau tahu kan... dia berbeda dari kita. Dia tidak ke masjid.”
“Teman-teman, jujur, aku tidak mengerti. Apa masalahnya jika Benny tidak beribadah di masjid? Mungkin saja dia beribadah di tempat lain, bukan?” sergah Sandi.
“Kata ibuku, kalau terlalu akrab dengannya, kita bisa berubah jadi babi....”
Sampai di rumah, Sandi adukan hal ini pada Bibi Sarah, dan jawaban Bibi Sarah semakin membuat ia terperangah.
“Betul kata mereka. Kamu tidak usah bermain bersama si gendut itu....”
“Namanya Benny, Bibi.”
“Iya, siapalah itu.... Kamu bermain dengan anak-anak yang lain saja.”
“Memang kenapa, Bibi?”
Bibi Sarah hanya mengangkat bahu, kemudian pergi meninggalkan dia. Kembali ia diam. Ia tak mengerti. Mungkin selamanya tidak akan pernah mengerti.
"Bibi Sarahku kenapa?" batin dia.
***
Jika seorang anak dianggap nakal karena tidak mematuhi orang yang memberinya makan dan tempat tinggal, maka Sandi telah menjadi anak nakal karena tidak mematuhi Bibi Sarah. Tanpa sepengetahuan Bibi Sarah, ia telah berteman akrab dengan Benny, meski karena itu ia dijauhi anak-anak lain.
Sandi tidak mempermasalahkan anak-anak lain tidak mau berteman dengannya. Sebab, bagi dia, nilai Benny sebagai teman jauh lebih tinggi ketimbang nilai gabungan seluruh anak di kompleks sekalipun.
Menurut Sandi, Benny lucu dan menyenangkan. Ia benar-benar heran kenapa anak-anak lain tidak mau berteman dengannya. Sandi menyadari, jika belum mengenalnya, Benny terlihat pemurung. Namun, jika telah akrab, penilaian atasnya akan berbalik 180 derajat. Benny sering melemparkan lelucon yang membuatnya terpingkal-pingkal.
Misalnya, saat membantu mengerjakan PR IPS tentang berbagai jenis batuan dan logam (tentu mereka tidak sedang berada di rumah Bibi Sarah waktu itu), tiba-tiba Benny mengeluh.
“Ah, coba kalau soal-soal ini berbahasa Mandarin... tentu aku bisa membantumu.”
“Ha-ha-ha. Jangan mengada-ada kamu....”
“Eh, aku serius. Begini, tahu enggak kamu, apa bahasa Mandarin dari ‘logam berbahaya’?”
Dahi Sandi berkerut. Perkataan Benny seperti tidak jelas juntrungnya. “Ya mana kutahu.... aku kan tidak bisa bahasa Mandarin,” jawab Sandi sedikit sewot.
Benny tersenyum-senyum. Matanya makin sipit saja jika sedang tersenyum. Lalu, dengan bergaya ala kera sakti, tiba-tiba ia berkata, “Chui Lan Seng.”
Serta-merta Sandi terpingkal-pingkal. Lelucon kodian ini, bisa jadi lucu karena Benny yang menyampaikan. Ia terbahak. Lucu sekali. Air mata dia sampai keluar.
***
Orang tua Benny, sama seperti Bibi Sarah, juga memiliki warung makan. Hanya saja, lokasinya lumayan jauh dari kompleks tempat mereka tinggal. Perlu empat puluh lima menit bersepeda untuk sampai ke sana. Waktu Sandi bertanya kenapa tidak memilih lokasi yang dekat, Benny menjawab, “Kata Ayah, makanan yang kami jual tidak boleh dimakan orang-orang kompleks. Akan jadi masalah kalau kami buka warung di sini.”
Benny pernah mengajak Sandi ke warung makan itu. Di sana Sandi berkenalan dengan ayah dan ibu Benny. Mereka menunjukkan ekspresi terkejut, meski sangat tipis dan nyaris tidak kentara, saat kali pertama ia berkunjung. Dia menduga, mungkin itu kali pertama Benny mengajak seorang teman berkulit cokelat.
Sandi senang di sana. Warung Benny sangat cantik. Dindingnya dilapisi kertas bergambar aneka karakter kartun lucu. Selain itu, ayah dan ibu Benny sangat ramah. Mereka memperlakukan dia dengan sangat baik.
Suatu kali, saat warung Benny sedang sepi, liur Sandi hampir menetes melihat sepiring sate daging di meja. Sate-sate itu masih mengepulkan uap sangat wangi. Benny menawari, “Kamu mau? Ambil saja satu, tidak apa-apa. Nanti aku bilang pada Ayah.”
Sebelum Sandi sempat meraih sate itu, ayah Benny tiba-tiba menyela, “Eh, jangan! Sandi tidak boleh makan itu. Kamu makan ini saja, ini sate ayam paling enak di seluruh kota.” Ayah Benny kemudian menyodorkan sepiring sate ayam kuah kacang yang ia beli di warung sate sebelah.
***
Setelah sekian lama Sandi menyembunyikan pertemanan dengan Benny, akhirnya Bibi Sarah tahu. Suatu sore, Bibi Sarah memergoki dia sedang bermain kelereng bersama Benny. Bibi Sarah betul-betul marah besar. Entah dapat informasi dari mana, Bibi Sarah juga mengetahui bahwa dia kerap mengunjungi warung orang tua Benny.
Sandi sungguh malu. Bibi Sarah sampai melabrak ayah dan ibu Benny. Padahal, Sandi berulang kali menjelaskan betapa baiknya mereka. Bibi Sarah tak peduli.
“Kurang ajar kalian! Pasti sudah kalian cekoki keponakanku ini dengan daging babi!”
Dibentak-bentak Bibi Sarah, ayah dan ibu Benny tak sedikit pun melawan. Mereka hanya berulang-ulang mengucap, “Maafkan kami... maafkan kami...”
Sejak saat itu, Sandi tidak pernah lagi bermain bersama Benny. Bibi Sarah mengurung ia di rumah. Ia hanya keluar untuk sekolah.
Sejak saat itu, Sandi membenci Bibi Sarah, juga orang-orang sekompleks. Ia merasa berada di neraka.
***
Neraka yang sesungguhnya dihuni oleh Benny.
Usia Sandi beranjak dua belas. Benny sudah pindah dari kompleks perumahan tempat ia tinggal bersama Bibi Sarah.
Seluruh kota, bahkan seluruh negeri, benar-benar kacau ketika itu. Sandi tidak mengerti apa yang terjadi. Setiap hari ada mobil atau motor yang dibakar di tengah jalan, kaca-kaca pecah, gerombolan orang menjerit-jerit di jalanan, toko-toko dijarah. Saking kacau dan mencekam keadaan saat itu, sekolah diliburkan.
Suatu hari, saat keadaan tak lagi kacau dan mencekam, sepulang sekolah Sandi sengaja tidak langsung pulang. Ia bersepeda ke warung Benny. Ia rindu pada Benny, juga pada ayah dan ibunya. Telah satu tahun lebih ia tidak berjumpa mereka. Ia ingin meminta maaf.
***
Sandi sudah tak bisa mengenali warung makan Benny lagi. Di hadapannya, ia melihat sebuah bangunan dua lantai yang hancur lebur. Kaca-kaca pecah berhamburan. Dinding-dinding hitam-legam. Ia tahu, bangunan itu telah dilalap api. Namun, aneh, yang membuatnya merasa terganggu, justru bangunan di kanan-kirinya, termasuk warung sate ayam itu, yang masih utuh. Kukuh.
"Barangkali, menjadi babi bukanlah hal yang terlalu buruk." Begitu pikir Sandi.
Bhakti Persada Indah, 21 Desember 2016

Komentar
Posting Komentar