Langsung ke konten utama

Dajjal di Kampung Surga


Dajjal di Kampung Surga

Oleh Mazka Hauzan

(Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 5 Agustus 2018)

Kegemparan pecah di Kampung Surga. Wajah para penghuninya yang selama ini selalu berseri dibinari senyum suci, mendadak kusut oleh rasa takut. Penyebabnya adalah kelahiran seorang bayi pagi tadi, dari rahim Kunti, seorang remaja yang telah delapan bulan dikabarkan menghilang.

Bayi itu, bayi laki-laki berambut keriting itu, tak menunjukkan keanehan ketika kedua matanya terpejam. Namun, jika kausibak kedua kelopak matanya, barulah kau akan tahu, bahwa dia hanya memiliki satu bola mata. Rongga mata sebelah kanannya gelap-kosong seperti gua. Kelak, penduduk Kampung Surga meneriaki anak ini dengan sebutan: Dajjal!

***

Warga baru saja selesai berjemaah Subuh di musala ketika kehebohan itu bermula. Sekelompok ibu-ibu bermukena, dalam perjalanan pulang dari musala, berteriak-teriak, menggaduh luar biasa. Mereka menemukan seorang perempuan terbaring mengangkang, memakai daster bermotif bunga-bunga, dengan rambut terburai menutupi muka, di tepi kebun milik Haji Darmaji, sang imam musala.

Astaghfirullaahal’adziim, Kunti!” Seorang ibu berteriak setelah menyibak rambut di wajah si perempuan dan mengenalinya.

Kalimat istigfar dan tasbih sahut-menyahut, tak putus-putus. Hari belum juga benderang ketika kerumunan melebar dan kehebohan membesar. Di dalam daster si perempuan, di antara kedua pahanya, sesuatu menggeliat: seonggok bayi merah dengan tali pusar yang masih terhubung dengan tubuh si perempuan. Bayi itu hanya bergerak-gerak kecil. Mulutnya terbuka, namun tak sepercik pun suara keluar darinya.

Deru istigfar dan tasbih pun meninggi, memekik-mekik. Seorang ibu pingsan.

***

Dusun kecil yang dikelilingi hutan jati itu disebut sebagai Kampung Surga bukan tanpa alasan. Para penghuninya, yang seluruhnya Muslim, dikenal sangat giat beribadah. Musala sederhana di bagian timur dusun itu tak pernah sepi dari jemaah salat dan pengajian. Tak seperti di dusun-dusun tetangga (yang cukup jauh jaraknya karena terpisahkan oleh hutan jati yang cukup luas), warga di dusun itu secara sukarela meninggalkan pekerjaan mereka begitu lantunan azan sampai ke telinga. Tak hanya itu, warga dusun itu juga dikenal sangat ramah. Ucapan salam “assalamualaikum” merupakan sapaan standar yang lebih sering terdengar di sana dibanding di tempat mana pun. Seolah tidak puas dengan keunggulan-keunggulan tersebut, dusun itu menegaskan nuansa surgawinya dengan satu keistimewaan: gaya hidup bersih warganya. Bisa dipastikan, di dusun itu tak ada sejumput pun sampah berserak tidak pada tempatnya.

Julukan “Kampung Surga” kali pertama diberikan oleh seorang peneliti depag yang tengah meneliti kehidupan keagamaan di dusun terpencil itu. Dalam laporannya, si peneliti menyimpulkan bahwa denyut gairah keberagamaan di dusun itu tidak bisa dilepaskan dari peran besar seorang tokoh karismatik bernama Haji Darmaji.

Haji Darmaji adalah seorang lelaki berusia menjelang enam puluh. Ia bukan warga asli dusun itu. Pada usia dua puluhan akhir, ia datang dari sebuah pesantren di luar pulau (yang tak terlalu dikenal) sebagai seorang pendakwah. Tiga tahun setelah kedatangannya, ia menikah dengan gadis setempat dan memutuskan menetap di sana.

***

Beberapa hari sejak kemunculan Kunti yang menggemparkan, misteri mengenai hilangnya Kunti selama delapan bulan sebelumnya dan juga mengenai si bayi tidak juga terpecahkan. Kunti bungkam seperti orang hilang akal. Orang-orang pun menganggap ia sudah benar-benar gila dan bersepakat untuk membawanya ke rumah sakit jiwa. Namun, Hajah Kunarti, istri Haji Darmaji, mencegahnya. “Biar aku saja yang merawat Kunti dan bayinya,” katanya ketika itu.

Sebelum menghilang, Kunti tinggal berdua bersama neneknya di sebuah rumah papan sederhana di tenggara dusun, tak jauh dari kediaman Haji Darmaji. Sang nenek kemudian meninggal tiga bulan setelah Kunti menghilang. Orang-orang bilang, sang nenek meninggal akibat tekanan batin yang dideritanya setelah kehilangan Kunti, cucu satu-satunya yang ia miliki.

Setelah Hajah Kunarti mengungkapkan kesediaannya untuk merawat Kunti dan bayinya, atas permintaan Haji Darmaji, ia dan bayinya tetap tinggal di rumah yang dulu ia tinggali bersama sang nenek, bukannya dibawa ke rumah Haji Darmaji. Atas permintaan Haji Darmaji pula, kasus ini tidak dilaporkan ke polisi.

“Untuk menghindari fitnah dan kehebohan. Kasihan Kunti,” jawab Haji Darmaji ketika ditanya alasannya.

Maka, Hajah Kunarti pun kemudian lebih sering berada di rumah Kunti ketimbang di rumahnya sendiri. Karena jarak yang dekat, ia tidak mempersoalkannya.

***

Tiga hari setelah Hajah Kunarti memutuskan untuk merawat Kunti dan bayinya, timbul kehebohan baru yang tak kalah dahsyatnya dari kemunculan ajaib Kunti beberapa hari sebelumnya. Pada hari itu, Hajah Kunarti membelalak tanpa suara, menyadari bahwa si bayi dalam gendongannya hanya memiliki satu mata.

Ketika kali pertama mendengar hal ini dari istrinya, Haji Darmaji, dengan raut muka yang sulit dijelaskan, hanya berkomentar singkat dan pelan, dengan suara bergetar pula, “Daj-jal....”

Komentar ini sempat menimbulkan pertengkaran di antara Haji Darmaji dan Hajah Kunarti, sebelum kemudian Hajah Kunarti kembali ke rumah Kunti, dan mendapati Kunti tengah menimang bayinya sambil menyebut-nyebut sebuah nama: “Isa.... Isa....”

Maka jadilah, sejak hari itu, anak Kunti bernama Isa. Kunti pun berangsur-angsur bersikap normal, meski ia tetap bungkam soal peristiwa hilangnya ia dan kemunculannya delapan bulan kemudian dengan seorang bayi.

***

Isa telah berusia empat tahun lebih. Ia tumbuh dengan keengganan dan komentar-komentar tidak mengenakkan dari orang-orang di sekitarnya.

“Matanya satu, rambutnya keriting, sesuai dengan ciri-ciri dajjal.”

“Semua bayi menangis saat dilahirkan karena disentuh oleh setan. Kalian tentu ingat, anak Kunti bahkan sama sekali tidak bersuara ketika itu. Ia tidak menangis, sebab setan yang menyentuhnya ketika ia lahir tak lain adalah temannya sendiri.”

“Entah bagaimana si dajjal itu sampai diberi nama ‘Isa’. Dalam salah satu hadis, Nabi Isa disebut sebagai sosok yang akan membunuh dajjal pada akhir zaman. Menamai anak Kunti dengan ‘Isa’ adalah penistaan terhadap Nabi Isa!”

“Barangkali, dulu Kunti dihamili oleh jin kafir....”

Komentar-komentar itu bermunculan dan terus menyebar dari bisik ke bisik. Orang-orang tidak pernah secara langsung menyampaikan komentar-komentar itu kepada Kunti, mereka bahkan selalu berusaha menghindarkan diri dari melihat Kunti dan anaknya. Jika terpaksa berpapasan dengan Kunti di jalan, atau tidak sengaja melihat Isa kecil tengah bermain di halaman rumahnya, mereka akan merasa jeri dan segera pergi.

Di luar komentar dan perlakuan buruk mereka kepada Kunti dan Isa, warga Kampung Surga tetaplah warga yang giat beribadah. Musala mereka tetap ramai oleh salat berjemaah. Salat mereka tetap khusyuk, sebelum pada suatu malam, sesuatu mengganggu kekhusyukan itu.

Ketika itu, salat Isya telah sampai pada rakaat kedua. Kundori tengah menunduk khidmat di saf kedua, mendengarkan lantunan ayat al-Qur’an yang dibacakan oleh Haji Darmaji, ketika seorang anak kecil mengisi ruang kosong di sebelah kanannya dan bertakbir, menjadi makmum masbuk. Kundori, dengan sudut matanya, segera mengenali anak kecil di sebelahnya. Dengan keterkejutan luar biasa, spontan ia berteriak, “Dajjal....!” Demi mendengar teriakan Kundori yang tiba-tiba, jemaah salat pun buyar. Hanya Haji Darmaji yang tetap bertahan dengan salatnya, sementara seluruh makmum membatalkan salat dan memandang ngeri ke arah Isa.

Mendapat perlakuan seperti itu, Isa sontak berlari keluar musala. Ia telah sampai rumah ketika Haji Darmaji menyempurnakan salatnya. Di hadapan ibunya, ia menangis sesenggukan.

“Kamu Isa... mereka yang dajjal... merekalah dajjal itu...” Berurai air mata, Kunti membisikkan kata-kata itu.

***

Malam itu Haji Darmaji mengigau. Bibirnya mendesis-desis, “Daj-jal.... Daj... jal....”

Hajah Kunarti yang terbangun begitu mendengar igauan itu, berusaha membangunkan Haji Darmaji. “Pak? Pak?” Ditepuk-tepuknya pundak Haji Darmaji dengan sia-sia. Yang ditepuk-tepuk tetap bertahan dengan igauannya.

Hajah Kunarti tidak tahu, ketika itu Haji Darmaji tengah bermimpi buruk. Dalam mimpinya, seseorang menikam perutnya. Seseorang berambut keriting itu, sambil menggenggam pisau yang menusuk lambungnya, menatapnya dengan mata kiri berurai air mata. Bibir si penikam itu membisikkan satu kata: “Ayah....”

Bhakti Persada Indah, Dini Hari, 22 Juli 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Solo, Anggi Ajak Generasi Muda Cegah Distopia Pangan lewat Pertanian Hidroponik

MEMILAH SELADA - Anggi Bitho Lokmanto (35), pemilik kebun Aa818_Hydroponic, tengah memilah sayur selada di lahan yang dia kelola di belakang Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwirul Fikr, Jalan Kabut, Jebres, Kota Surakarta, Jumat (13/6/2025). (Dokumentasi Mazka Hauzan Naufal) Catatan: artikel ini menjadi Juara 3 Apresiasi YDBA (Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra) untuk Pewarta 2025 kategori umum (blog/media sosial) SOLO – Pada masa mendatang, laju pertumbuhan populasi manusia tak lagi bisa diimbangi oleh pertumbuhan produksi pangan.  Pun, lahan-lahan persawahan akan berubah menjadi gedung-gedung hunian manusia yang populasinya terus meroket. Begitulah gambaran kondisi distopia pangan, di mana bumi tidak sanggup lagi menyediakan makanan yang cukup untuk mengisi perut seluruh penghuninya. Di sudut Kota Solo, Jawa Tengah, seorang pemuda bernama Anggi Bitho Lokmanto (35) menolak tunduk pada skenario terburuk masa depan tersebut.  Di kebun bernama Aa818_Hydroponic, ia merawat ...

Komparasi Gunung dan Secangkir Kopi

Komparasi Gunung dan Secangkir Kopi Cerpen Mazka Hauzan (Dimuat di Ruang Budaya Harian Rakyat Sumbar, Sabtu 27 Agustus 2016) Sore hari. Mendung kelabu merata di langit. Azan berkumandang. Seorang pemuda meringkuk di atas ranjang, berselimutkan gundah bergulung-gulung, bermanja-manja dengan gulana, bergumul-masyuk dengan nestapa, nestapa yang seolah sengaja ia reka-reka. Entah untuk apa. Iqomat terdengar, masih juga ia terkapar.  “Pacarku diambil orang,” ratapnya lirih. “Orang itu brengsek... tapi lebih tampan dan kaya. Belasan menit berselang, tepat pukul tiga lewat sepuluh, akhirnya pemuda itu menegakkan tubuh, meski dengan agak rikuh. Pukul setengah empat, ia ada janji berjumpa dengan seorang kawan di kedai kopi. Kepadanya, sekadar untuk memberikan sedikit kelegaan pada hatinya yang tengah dijajah gundah, ia ingin menumpahkan segala keluh-kesah. *** Sinar fajar shodiq baru saja menyemburat-mekar. Aroma embun melekat pada dedaun. Azan melantun, belum sampai “Ash sholatu khoirum mi...

Sekar Melati Rinonce (Sebuah Sajak)

Sekar Melati Rinonce Sajak karya Mazka Hauzan (Juara 1 Cipta Puisi dalam Festival Sastra Rembang 2026) Ingatan tentangmu, Bapak, adalah kenangan singkat tentang jemari kasarmu yang menguntai kepangan-kepangan kecil di rambut kanak-kanakku, yang kausebut bak once Meron. Begitulah dengung di kepalaku ketika aku melipat enam puluh pasang musim dalam palung dada, sambil meringkuk dalam rumah gedek peninggalanmu. Di gubuk ini, sunyi adalah sosok yang paling betah bertamu dan menemaniku menyesap getir kehidupan. Orang bilang, Bapak, Engkau tak mewariskan apa-apa selain kemelaratan yang menyelusup sampai sela-sela kuku dan cerita heroik tentang Ibu yang merelakan seluruh napasnya demi tangis pertamaku. Kau tak ada di sampingku, Bapak, ketika hatiku diiris-iris sampai seluruh tresna di dalamnya tiris. Kau juga tak bersamaku, Bapak, ketika kerasnya dunia memaksaku membenamkan jemari setangan-tangan sekaki-kaki dalam lumpur sawah milik tuan tanah. Namun sungguh, di ujung malam ini, aku masih men...